PONTIANAK POST – Inflasi Kalbar Agustus 2026 mencapai 3,65 persen secara tahunan (year on year/y-on-y). Angka tersebut melampaui batas atas sasaran inflasi 2026 sebesar 3,5 persen dan menunjukkan semakin besarnya tekanan biaya hidup masyarakat.
Kenaikan harga terjadi di seluruh lima kabupaten/kota yang menjadi wilayah penghitungan Indeks Harga Konsumen (IHK) Kalimantan Barat. Tekanan terutama berasal dari kebutuhan pangan, transportasi, dan perawatan pribadi.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kalbar Muh Saichudin mengatakan, inflasi tersebut tercermin dari kenaikan IHK. Indeks naik dari 107,94 pada Agustus 2025 menjadi 111,88 pada Agustus 2026.
“Pada Agustus 2026 terjadi inflasi year on year Provinsi Kalimantan Barat sebesar 3,65 persen dengan Indeks Harga Konsumen sebesar 111,88,” kata Saichudin, Selasa (1/9/2026).
Inflasi tahunan Kalbar pada Agustus 2026 lebih tinggi dibandingkan tingkat nasional. BPS mencatat inflasi nasional sebesar 3,19 persen, sedangkan inflasi Kalbar mencapai 3,65 persen atau lebih tinggi 0,46 poin persentase.
Inflasi nasional masih berada dalam rentang sasaran 2,5 persen dengan deviasi ±1 persen. Sebaliknya, inflasi Kalbar telah melampaui batas atas sasaran 3,5 persen sebesar 0,15 poin persentase.
Perbedaan lebih lebar terlihat pada inflasi tahun kalender. Inflasi Kalbar sejak Januari hingga Agustus 2026 mencapai 2,83 persen, sementara inflasi nasional tercatat 1,86 persen. Dengan demikian, inflasi kumulatif Kalbar lebih tinggi 0,97 poin persentase.
Secara bulanan, pergerakannya hampir sama. Kalbar mengalami inflasi 0,20 persen pada Agustus, sedangkan inflasi nasional mencapai 0,21 persen.
Sumber tekanan harga di Kalbar juga menunjukkan perbedaan dengan kondisi nasional. Secara nasional, kelompok transportasi mengalami deflasi bulanan 0,50 persen, terutama karena penurunan tarif angkutan udara dan harga bensin.
Di Kalbar, angkutan udara justru termasuk komoditas yang mendorong inflasi bulanan. Transportasi juga mengalami inflasi tahunan 6,59 persen dan memberikan andil 0,74 persen terhadap inflasi tahunan Kalbar.
Pada tingkat nasional, inflasi bulanan terutama didorong kelompok makanan, minuman, dan tembakau. Daging ayam ras menjadi penyumbang terbesar, diikuti cabai rawit, ikan segar, dan beras.
Di Kalbar, tekanan pangan bulanan antara lain berasal dari cabai rawit, ketimun, ikan kembung, kacang panjang, dan minyak goreng. Namun, penurunan harga daging ayam ras turut menahan laju inflasi daerah.
Inflasi Berjalan Lebih Cepat
Tekanan harga tidak hanya terlihat secara tahunan. Pada Agustus 2026, Kalbar mengalami inflasi bulanan sebesar 0,20 persen setelah mencatat deflasi pada Agustus 2024 dan 2025.
Secara kumulatif sejak Januari hingga Agustus 2026, inflasi mencapai 2,83 persen. Angka itu hampir tiga kali lipat dibandingkan periode yang sama pada 2025 sebesar 1,05 persen.
Pada Januari–Agustus 2024, inflasi Kalbar bahkan hanya 0,64 persen. Perbandingan tersebut menunjukkan kenaikan harga pada 2026 berjalan jauh lebih cepat dibandingkan dua tahun sebelumnya.
Inflasi Terjadi di Seluruh Wilayah Pemantauan
Seluruh kabupaten/kota yang menjadi cakupan IHK Kalbar mengalami inflasi tahunan. Ketapang mencatat inflasi tertinggi sebesar 4,42 persen, sedangkan Singkawang menjadi yang terendah dengan 2,91 persen.
Inflasi tahunan terjadi di seluruh lima kabupaten/kota yang menjadi wilayah penghitungan IHK Kalbar. Kabupaten Ketapang mencatat inflasi tertinggi sebesar 4,42 persen, disusul Sintang 3,74 persen.
Inflasi Kota Pontianak mencapai 3,38 persen dan Kabupaten Kayong Utara 3,33 persen. Sementara itu, Kota Singkawang mencatat inflasi terendah sebesar 2,91 persen.
Ketapang dan Sintang memiliki inflasi tahunan lebih tinggi daripada rata-rata Kalbar sebesar 3,65 persen. Namun, secara bulanan, inflasi tertinggi terjadi di Ketapang sebesar 0,38 persen dan Kayong Utara 0,37 persen.
Pangan dan Transportasi Menguras Pengeluaran
Inflasi terjadi pada seluruh 11 kelompok pengeluaran. Transportasi mencatat kenaikan tertinggi sebesar 6,59 persen, diikuti perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 5,51 persen.
Kelompok makanan, minuman, dan tembakau mengalami inflasi 4,72 persen. Meski persentasenya berada di bawah transportasi, kelompok ini memberikan andil terbesar terhadap inflasi tahunan, yakni 1,73 persen.
Transportasi menyumbang inflasi sebesar 0,74 persen. Perawatan pribadi dan jasa lainnya memberikan andil 0,37 persen, sedangkan perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga menyumbang 0,30 persen.
Kenaikan harga pada kelompok-kelompok tersebut berkaitan langsung dengan kebutuhan harian masyarakat. Rumah tangga harus menyediakan pengeluaran lebih besar untuk membeli bahan pangan, bepergian, dan memenuhi kebutuhan rumah tangga yang sama.
Emas, Tiket Pesawat, dan Minyak Goreng Memicu Inflasi
Komoditas yang dominan mendorong inflasi tahunan meliputi emas perhiasan, angkutan udara, minyak goreng, dan bahan bakar rumah tangga. Ikan baung, cabai rawit, beras, ikan kembung, pelumas, serta biaya pemeliharaan dan servis juga memberikan tekanan.
Kenaikan harga tersebut sebagian tertahan oleh turunnya harga bawang merah, telur ayam ras, dan bayam. Harga biskuit, popok bayi sekali pakai, cumi-cumi, daging babi, udang basah, pelembut cucian, dan tomat juga menurun.
Secara bulanan, cabai rawit, ketimun, ikan kembung, dan kacang panjang menjadi sejumlah pendorong inflasi. Tekanan lain berasal dari angkutan udara, cabai merah, minyak goreng, buncis, pelumas, air kemasan, terong, dan sepeda motor.
Sebaliknya, penurunan harga bawang merah, daging ayam ras, ikan tongkol, wortel, dan sawi hijau menahan inflasi bulanan. Komoditas penahan lainnya adalah tomat, bayam, bawang putih, emas perhiasan, bensin, serta cumi-cumi.
Tekanan Harga Perlu Dikendalikan
Inflasi Kalbar yang telah melampaui batas atas sasaran perlu menjadi perhatian pemerintah daerah. Pengendalian terutama dibutuhkan pada pangan dan transportasi karena keduanya berpengaruh besar terhadap pengeluaran masyarakat.
Tekanan harga yang berlanjut dapat mengurangi daya beli, terutama bagi keluarga dengan pendapatan tetap atau tidak mengalami kenaikan. Mereka harus mengurangi jumlah belanja, mengganti pilihan konsumsi, atau mengorbankan kebutuhan lain untuk mempertahankan kebutuhan pokok.
[Sisipkan tanggapan Tim Pengendalian Inflasi Daerah mengenai langkah menjaga pasokan pangan, kelancaran distribusi, keterjangkauan harga, dan biaya transportasi.]
Infografis
Inflasi Kalbar Agustus 2024–2026
| Indikator | 2024 | 2025 | 2026 |
|---|---|---|---|
| Bulanan (month to month) | -0,25% | -0,26% | 0,20% |
| Tahun kalender (year to date) | 0,64% | 1,05% | 2,83% |
| Tahunan (year on year) | 1,47% | 2,13% | 3,65% |
Inflasi Tahunan Agustus 2026
| Ukuran | Persentase |
|---|---|
| Inflasi Kalbar | 3,65% |
| Batas atas sasaran inflasi | 3,50% |
| Selisih di atas batas | 0,15 poin persentase |
Inflasi Lima Wilayah IHK Kalbar
| Kabupaten/Kota | IHK | M-to-M | Y-on-Y | Y-to-D |
|---|---|---|---|---|
| Kabupaten Ketapang | 114,33 | 0,38% | 4,42% | 3,48% |
| Sintang | 111,58 | 0,12% | 3,74% | 2,89% |
| Kota Pontianak | 110,71 | 0,07% | 3,38% | 2,59% |
| Kabupaten Kayong Utara | 112,26 | 0,37% | 3,33% | 2,58% |
| Kota Singkawang | 110,74 | 0,25% | 2,91% | 2,35% |
| Kalimantan Barat | 111,88 | 0,20% | 3,65% | 2,83% |
Pesan utama: Inflasi tahunan Kalbar pada Agustus 2026 mencapai 3,65 persen, melampaui batas atas sasaran inflasi sebesar 3,5 persen.
Sumber: BPS Kalimantan Barat
Editor : Aristono Edi Kiswantoro