Indonesia Punya Potensi Logam Tanah Jarang, tapi Masih Terkendala Teknologi

Khoiril Arif Ya'qob • Dipublikasikan Jumat, 11 September 2026 | 01:00 WIB
Logam tanah jarang atau unsur logam langka adalah salah satu mineral yang tersebar di permukaan bumi. Permukaan bumi di zaman dahulu telah berubah seiring berjalannya waktu. (MAE)
Logam tanah jarang atau unsur logam langka adalah salah satu mineral yang tersebar di permukaan bumi. Permukaan bumi di zaman dahulu telah berubah seiring berjalannya waktu. (MAE)

PONTIANAK POST - Indonesia memiliki sejumlah potensi logam tanah jarang yang dapat dikembangkan untuk mendukung industri strategis, tetapi penguasaan teknologi pengolahan masih menjadi tantangan.

Pemerintah menilai percepatan teknologi diperlukan agar potensi tersebut dapat memberikan nilai tambah di dalam negeri.

Potensi Sumber Daya Masih Dikaji

Deputi Bidang Riset dan Pengembangan Teknologi Badan Industri Mineral (BIM) Yogi Wibisono Budhi mengatakan potensi logam tanah jarang Indonesia berasal dari berbagai sumber, mulai dari sumber primer, sekunder hingga limbah elektronik.

Baca Juga: Residu Bauksit 10 Juta Ton per Tahun Bisa Diolah Jadi Logam Tanah Jarang Bernilai Tinggi

Namun, Indonesia belum tercantum dalam peta global sumber daya dan cadangan logam tanah jarang.

Pemerintah masih melakukan survei dan eksplorasi serta menyiapkan competent person untuk memastikan besaran sumber daya dan cadangan yang dimiliki.

Menurut Yogi, kepastian data tersebut penting sebagai dasar menentukan arah pengembangan industri pengolahan logam tanah jarang di Indonesia.

Teknologi Pengolahan Masih Kompleks

Selain persoalan data cadangan, tantangan lain berada pada teknologi pengolahan.

Baca Juga: KSP Dorong Hilirisasi Logam Tanah Jarang: Bakal Buat Indonesia Disegani Dunia, Kalbar Berpeluang Jadi Penopang Industri Masa Depan

Logam tanah jarang terdiri atas 17 unsur dengan karakteristik yang serupa sehingga proses pemisahannya hingga menjadi unsur tunggal membutuhkan teknologi yang kompleks.

Karena itu, BIM mendorong percepatan penguasaan teknologi melalui kemitraan dengan penyedia teknologi.

“Yang kita harus lakukan adalah percepatan melalui jalur yang kira-kira fast track dengan bermitra dengan sejumlah technology provider,” kata Yogi dikutip dari Antara (10/9).

Penguasaan Teknologi Tentukan Hilirisasi

Yogi mengatakan persaingan mineral strategis saat ini tidak hanya ditentukan oleh kepemilikan sumber daya.

Negara juga perlu menguasai teknologi ekstraksi dan pemisahan serta mampu membangun rantai pasok.

Logam tanah jarang memiliki peran penting dalam berbagai sektor, termasuk kendaraan listrik, energi bersih, industri elektronik, industri cerdas, hingga pertahanan.

Baca Juga: Dari HP hingga Mesin Cuci, Ini Alasan Logam Tanah Jarang Jadi Material Penting Teknologi Modern

Karena itu, pengembangan industri logam tanah jarang membutuhkan ekosistem terintegrasi, mulai dari kepastian bahan baku, sumber daya dan cadangan, kesiapan teknologi, hingga industri hilir.

Pemerintah berharap kemitraan teknologi dapat mempercepat proses tersebut sehingga Indonesia tidak hanya memiliki potensi logam tanah jarang, tetapi juga mampu mengolahnya menjadi produk bernilai tambah di dalam negeri.

Editor : Khoiril Arif Ya'qob
Logam tanah jarang BIM teknologi