PONTIANAK POST – Pemerintah Kota Pontianak menyiapkan operasi pasar untuk mengendalikan harga pangan setelah inflasi mencapai 2,78 persen di tengah dampak kemarau panjang pada 2026.
Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono mengatakan langkah tersebut dilakukan setelah adanya kenaikan harga sejumlah komoditas, terutama cabai yang berpengaruh terhadap kebutuhan rumah tangga.
"Kita dapat informasi adanya kenaikan cabai, nanti kita lakukan operasi pasar," kata Edi, Jumat (18/9).
Menurutnya, cabai menjadi salah satu komoditas yang perlu mendapat perhatian karena kenaikan harganya dapat memberikan tekanan terhadap inflasi dan daya beli masyarakat.
"Artinya sudah berada di ambang batas. Jadi kita akan kendalikan lagi," katanya.
Baca Juga: Inflasi Kalbar 2,83 Persen, Pemerintah Waspadai Gejolak Harga Pangan
Operasi Pasar untuk Jaga Daya Beli Warga
Edi mengatakan operasi pasar dilakukan untuk memastikan harga kebutuhan pokok tetap terkendali sekaligus memberikan kemudahan bagi masyarakat.
Kelompok berpenghasilan rendah menjadi salah satu kelompok yang menjadi perhatian karena paling merasakan dampak ketika harga kebutuhan pokok meningkat.
"Kita mau memberikan kemudahan dan kenyamanan bagi masyarakat, terutama kelompok berpenghasilan rendah yang paling terdampak ketika harga kebutuhan pokok mengalami kenaikan," katanya.
Harga cabai rawit di Pontianak sebelumnya sempat mencapai Rp190 ribu per kilogram, jauh di atas harga normal sekitar Rp60 ribu hingga Rp80 ribu per kilogram.
Kenaikan tersebut terjadi setelah kemarau panjang menyebabkan petani lokal mengalami gagal panen. Namun, harga cabai kini turun menjadi sekitar Rp130 ribu per kilogram setelah pasokan dari Pulau Jawa mulai masuk.
Harga Cabai Masih Tinggi
Berdasarkan pemantauan harga di Pasar Puring, Flamboyan, Kemuning, Teratai, dan Dahlia pada 18 September 2026, harga sejumlah komoditas pangan bergerak beragam.
Cabai merah keriting tercatat Rp117.067 per kilogram, cabai merah besar Rp89.067 per kilogram, cabai rawit merah Rp131.734 per kilogram, dan cabai rawit hijau Rp85.000 per kilogram.
Meski sebagian harga cabai telah turun dari titik tertingginya, komoditas tersebut masih menjadi salah satu bahan pangan dengan harga relatif tinggi di pasar Pontianak.
Harga bawang merah tercatat Rp35.334 per kilogram, turun dari harga tertinggi Rp40.000 per kilogram.
Baca Juga: Inflasi Kota Pontianak Masih Terkendali, Wali Kota Siapkan Langkah Antisipasi
Sejumlah Harga Pangan Mulai Turun
Di kelompok beras, harga rata-rata beras medium berada di Rp14.234 per kilogram. Harga tersebut berada di bawah batas atas Rp14.667 dan mendekati batas bawah Rp14.000 per kilogram.
Beras CK dijual rata-rata Rp18.300 per kilogram, sedangkan beras Bulog SPHP Rp12.800 per kilogram. Beras Khusus/Merah tercatat Rp20.917 per kilogram dan Beras Cap Mangkok Rp18.375 per kilogram.
Sejumlah sayuran juga mengalami penurunan harga. Bayam tercatat Rp26.000 per kilogram, tomat Rp16.334 per kilogram, dan ketimun Rp24.134 per kilogram.
Sementara itu, sawi hijau berada di Rp31.933 per kilogram dan kangkung Rp21.067 per kilogram.
Pada komoditas lain, kedelai impor tercatat Rp14.267 per kilogram dan gula pasir curah Rp14.267 per kilogram. Minyak goreng curah berada di Rp20.427 per kilogram.
Baca Juga: Harga Cabai di Kalbar Melonjak, Cabai Rawit Merah Tembus Rp140 Ribu per Kilogram
Harga Daging dan Telur Relatif Stabil
Di kelompok protein hewani, harga daging ayam ras tercatat Rp28.534 per kilogram, turun dari Rp31.667 per kilogram.
Telur ayam ras berada di kisaran Rp28.200 per kilogram. Sementara itu, daging sapi paha tercatat Rp162.334 per kilogram, daging sapi tetelan Rp107.084 per kilogram, dan daging kerbau beku Rp114.167 per kilogram.
Harga ikan bandeng juga turun menjadi Rp27.200 per kilogram dari sebelumnya Rp30.000 per kilogram.
Pemkot Pontianak terus memperkuat pengendalian melalui pemantauan harga kebutuhan pokok dan pelaksanaan operasi pasar secara berkala.
Langkah tersebut diarahkan untuk menjaga ketersediaan serta stabilitas harga pangan, terutama ketika kondisi cuaca masih memengaruhi produksi sejumlah komoditas pertanian.*
Editor : Uray RonaldSumber : Antara