PONTIANAK POST - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada perdagangan Senin berpotensi bergerak melemah seiring langkah para pelaku pasar yang memantau ketat dinamika konflik geopolitik global. Meski sempat dibuka menguat, IHSG pada pukul 09.50 WIB terkoreksi 26,00 poin atau 0,40 persen ke level 6.415,16, sementara indeks LQ45 turun 3,28 poin atau 0,51 persen ke posisi 636,97.
Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata memaparkan proyeksi teknikal pergerakan indeks untuk perdagangan hari ini.
"Apabila IHSG gagal bertahan di atas 6.432-6.377, tekanan koreksi berpotensi berlanjut menuju 6.290. Sebaliknya, apabila terjadi rebound, IHSG perlu kembali menembus 6.452-6.504, dilanjutkan 6.509-6.552 sebagai resistance terdekat sebelum menguji area 6.590-6.732," ujar Liza Camelia Suryanata dalam kajiannya di Jakarta, Senin.
Liza menjelaskan ketegangan antara Rusia dan Ukraina serta eskalasi konflik di Timur Tengah menjadi perhatian utama lantaran berisiko terhadap distribusi energi dunia. Namun, aktivitas lalu lintas minyak di Selat Hormuz yang masih terjaga tinggi dinilai dapat membatasi kekhawatiran pasar terhadap potensi krisis pasokan secara global.
Di pasar regional Asia, Bank of Japan (BoJ) memutuskan menaikkan suku bunga sebesar 25 bps menjadi 1,25 persen, mengekor kebijakan The Fed. Keputusan BoJ tersebut diwarnai perbedaan pandangan (dissent) dari dua pejabat internal terkait arah normalisasi moneter Jepang ke depan.
Penantian RDG Bank Indonesia dan Kebijakan SAL
Dari dalam negeri, investor menantikan pengumuman hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 22–23 September 2026. Konsensus pasar memproyeksikan BI akan menaikkan suku bunga ke level 5,75 persen demi menahan pelemahan nilai tukar rupiah dan membendung dampak tingginya harga energi. Perhatian pasar juga tertuju pada rilis data uang beredar (M2) Agustus 2026 sebagai cerminan likuiditas domestik.
Di sisi kebijakan fiskal, pemerintah memastikan penempatan Saldo Anggaran Lebih (SAL) hingga Rp200 triliun di perbankan tetap berlanjut sampai akhir 2026 dan diperpanjang hingga Juli 2027. Kebijakan ini diproyeksikan menjaga kepastian likuiditas (funding) bank-bank BUMN (Himbara) serta menekan biaya dana (cost of fund) untuk ekspansi kredit.
Sementara itu, pergerakan bursa global menunjukkan hasil bervariasi. Bursa Eropa ditutup kompak melemah pada Jumat (18/9), sedangkan Wall Street bergerak mix dengan penguatan S&P 500 dan Nasdaq. Pagi ini, mayoritas bursa regional Asia seperti Nikkei, Hang Seng, Shanghai, Kospi, dan Straits Times justru dibuka kompak menguat (ant).
Sumber : Antara