PONTIANAK POST — Inflasi tahunan Kalimantan Barat mencapai 3,65 persen pada Agustus 2026. Angka tersebut melampaui batas atas sasaran nasional 3,5 persen ketika kemarau panjang menekan produksi pangan, menghambat distribusi, dan menaikkan pengeluaran rumah tangga.
Badan Pusat Statistik (BPS) Kalbar mencatat Indeks Harga Konsumen naik dari 107,94 pada Agustus 2025 menjadi 111,88 pada Agustus 2026. Secara bulanan, inflasi tercatat 0,20 persen, sedangkan secara tahun kalender telah mencapai 2,83 persen.
Tekanan harga terasa langsung di pasar. Harga cabai rawit lokal di Pasar Flamboyan, Pontianak, masih mencapai Rp110 ribu per kilogram, sedangkan sawi dijual Rp45 ribu dan kangkung Rp50 ribu per kilogram.
Inflasi Terjadi di Lima Daerah
Kepala BPS Kalbar Muh Saichudin mengatakan inflasi terjadi di seluruh lima kabupaten dan kota yang menjadi wilayah penghitungan IHK. Ketapang mencatat inflasi tahunan tertinggi sebesar 4,42 persen, sedangkan Singkawang terendah 2,91 persen.
“Pada Agustus 2026 terjadi inflasi year-on-year Provinsi Kalimantan Barat sebesar 3,65 persen dengan Indeks Harga Konsumen sebesar 111,88,” kata Saichudin.
Inflasi tahun kalender sebesar 2,83 persen juga jauh lebih tinggi dibandingkan periode yang sama pada 2024 sebesar 0,64 persen dan 2025 sebesar 1,05 persen.
Inflasi Kalbar Agustus 2024–2026
| Indikator | 2024 | 2025 | 2026 |
|---|---|---|---|
| Bulanan (month-to-month) | -0,25% | -0,26% | 0,20% |
| Tahun kalender (year-to-date) | 0,64% | 1,05% | 2,83% |
| Tahunan (year-on-year) | 1,47% | 2,13% | 3,65% |
Sumber: BPS Kalimantan Barat
Angka yang dibandingkan dengan sasaran nasional 2,5 persen plus-minus 1 persen adalah inflasi tahunan. Karena itu, inflasi tahunan Kalbar sebesar 3,65 persen telah melampaui batas atas 3,5 persen, meskipun inflasi tahun kalender masih 2,83 persen.
Pangan Paling Membebani
Kelompok makanan, minuman, dan tembakau memberikan andil terbesar terhadap inflasi tahunan, yakni 1,73 persen. Kelompok ini mengalami inflasi 4,72 persen.
Transportasi menyumbang inflasi 0,74 persen dengan kenaikan harga kelompok sebesar 6,59 persen. Perawatan pribadi dan jasa lainnya menyumbang 0,37 persen, sedangkan perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga memberikan andil 0,30 persen.
Komoditas yang dominan mendorong inflasi tahunan antara lain emas perhiasan, angkutan udara, minyak goreng, bahan bakar rumah tangga, cabai rawit, beras, ikan baung, ikan kembung, pelumas, serta biaya servis.
Pada Agustus saja, kenaikan harga terutama dipengaruhi cabai rawit, ketimun, ikan kembung, kacang panjang, cabai merah, minyak goreng, buncis, terong, dan angkutan udara.
Sayuran Lokal Naik
Kemarau mulai mengurangi pasokan sayuran dari petani lokal. Herman, pedagang di Pasar Flamboyan, mengatakan hampir seluruh jenis sayuran lokal mengalami kenaikan harga dalam beberapa bulan terakhir.
Buncis dijual sekitar Rp30 ribu per kilogram dan timun Rp20 ribu. Harga sawi mencapai Rp45 ribu, sedangkan kangkung sekitar Rp50 ribu per kilogram.
“Sayuran dari petani lokal memang harganya naik. Kondisi cuaca membuat biaya perawatan bertambah sehingga berpengaruh terhadap harga di tingkat pedagang,” ujarnya, Senin (21/9).
Sebaliknya, harga wortel, kentang, dan kubis yang dipasok dari Pulau Jawa relatif stabil. Pasokan dari luar daerah kini turut menahan lonjakan harga pangan di Pontianak.
Cabai Jawa Jadi Pilihan
Pedagang cabai di Pasar Flamboyan, Mariana, mengatakan cabai rawit lokal dijual sekitar Rp110 ribu per kilogram. Cabai dari Pulau Jawa tersedia dengan harga lebih rendah, yakni Rp70 ribu hingga Rp90 ribu per kilogram.
Perbedaan tersebut membuat sebagian pembeli beralih ke cabai dari Jawa. Konsumen memperoleh pilihan lebih murah, tetapi kondisi itu sekaligus memperlihatkan melemahnya pasokan lokal.
“Cabai rawit lokal masih tinggi, sekitar Rp110 ribu per kilogram. Sekarang sudah ada cabai rawit dari Jawa sehingga pembeli punya pilihan,” katanya.
Deny, seorang konsumen di Pasar Flamboyan, mengaku harus mengurangi jumlah belanja dan memilih bahan pangan yang lebih murah. Kenaikan harga sayuran, beras, dan minyak goreng membuatnya menata ulang pengeluaran rumah tangga.
“Sekarang belanja harus lebih dihitung. Kalau harganya terlalu mahal, jumlahnya dikurangi atau diganti dengan bahan lain yang lebih terjangkau,” ujarnya.
El Niño Ganggu Panen
Kepala Biro Perekonomian Sekretariat Daerah Provinsi Kalbar Harry Ronaldi mengatakan El Niño berkepanjangan menyebabkan kekeringan dan gagal panen. Petani juga kesulitan memulai musim tanam karena sumber air menyusut.
“El Niño yang berkepanjangan dan kuat ini menyebabkan kekeringan. Banyak yang gagal panen, sedangkan masa tanam juga tidak bisa dimulai karena tidak ada sumber air,” ujarnya.
Surutnya sungai turut mengganggu distribusi barang. Angkutan yang biasanya menggunakan jalur air dengan biaya lebih murah harus dialihkan ke jalur darat sehingga ongkos pengiriman meningkat.
Distribusi minyak sawit mentah atau CPO dari sejumlah kabupaten sentra juga terkendala. Kondisi tersebut membuat minyak goreng dan beras menjadi dua komoditas yang perlu mendapat perhatian karena memiliki bobot besar dalam inflasi.
Harga Harus Dijaga
Pemerintah menghadapi dua kepentingan yang harus dijaga bersamaan. Harga perlu tetap terjangkau bagi konsumen, tetapi petani dan produsen juga harus memperoleh keuntungan yang layak.
Pemprov Kalbar mengandalkan bantuan pangan, beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP), operasi pasar, serta Gerakan Pangan Murah. Anggaran dinas terkait juga ditambah untuk memperkuat pengendalian harga hingga akhir tahun.
“Bantuan pangan, beras SPHP, operasi pasar, dan gerakan pangan murah kita lakukan untuk membantu meredam harga,” kata Harry.
Daging ayam ras dan telur sejauh ini relatif terkendali. Namun, pasokan pangan, jalur distribusi, serta pergerakan harga masih perlu dijaga selama kemarau berlangsung.
Pontianak Siapkan Operasi Pasar
Pemerintah Kota Pontianak juga menyiapkan operasi pasar setelah inflasi kota mencapai 2,78 persen. Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono mengatakan kenaikan harga cabai menjadi salah satu perhatian utama.
“Kita dapat informasi adanya kenaikan cabai. Nanti kita lakukan operasi pasar,” kata Edi.
Cabai rawit di Pontianak sebelumnya sempat menyentuh Rp190 ribu per kilogram, jauh di atas harga normal Rp60 ribu hingga Rp80 ribu. Masuknya pasokan dari Pulau Jawa kemudian menurunkan harga, meskipun masih relatif tinggi.
Edi mengatakan operasi pasar ditujukan untuk menjaga keterjangkauan pangan, terutama bagi keluarga berpenghasilan rendah. Kelompok tersebut paling rentan karena kenaikan harga kebutuhan pokok langsung mengurangi kemampuan memenuhi kebutuhan lain.
“Kita mau memberikan kemudahan bagi masyarakat, terutama kelompok berpenghasilan rendah yang paling terdampak ketika harga kebutuhan pokok mengalami kenaikan,” ujarnya.
Empat Bulan Masih Rawan
Pemprov Kalbar menilai pengendalian inflasi hingga akhir tahun akan semakin menantang. Daerah selatan Kalbar, termasuk Ketapang dan Kayong Utara, diperkirakan baru memperoleh curah hujan lebih normal pada dasarian ketiga Oktober.
Operasi modifikasi cuaca masih dilakukan untuk memperluas hujan. Namun, intervensi tersebut harus diikuti pengamanan produksi, cadangan pangan, kelancaran distribusi, dan pengawasan harga.
Inflasi tidak berhenti sebagai angka statistik. Bagi masyarakat, kenaikan harga berarti jumlah bahan pangan yang dibawa pulang semakin sedikit meskipun uang yang dibelanjakan tetap sama. (ars/yad)
Editor : Aristono Edi Kiswantoro