Indonesia-AS Bahas Kerja Sama Tanah Jarang, Potensi Kalbar Bisa Jadi Peluang Hilirisasi

Uray Ronald • Dipublikasikan Jumat, 2 Oktober 2026 | 15:36 WIB
Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso melakukan pertemuan dengan Kamar Dagang Amerika Serikat (AS) di sela-sela rangkaian Pertemuan Para Menteri Perdagangan G20 (G20 Trade Ministers
Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso melakukan pertemuan dengan Kamar Dagang Amerika Serikat (AS) di sela-sela rangkaian Pertemuan Para Menteri Perdagangan G20 (G20 Trade Ministers' Meeting/TMM) di Milwaukee, Wisconsin, Amerika Serikat, Rabu (30/9/2026). (ANTARA/Kemendag)

 

PONTIANAK POST - Pembahasan kerja sama Indonesia dan Amerika Serikat (AS) di sektor logam tanah jarang (rare earths) membuka peluang bagi Kalimantan Barat untuk memperkuat pengembangan komoditas mineral strategis tersebut.

Menteri Perdagangan Budi Santoso menyebut rare earths sebagai salah satu sektor strategis yang berpeluang dikembangkan bersama dunia usaha AS.

"Kami melihat masih terdapat potensi besar untuk memperdalam hubungan bisnis antara Indonesia dan AS. Dalam hal ini, melalui hubungan perdagangan dan investasi yang lebih kuat, kerja sama teknologi yang lebih erat, dan rantai pasok yang lebih terintegrasi," ujar Budi dalam keterangan di Jakarta, Jumat (2/10).

Pembahasan tersebut berlangsung dalam pertemuan Budi dengan Kamar Dagang AS di sela-sela Pertemuan Para Menteri Perdagangan G20 (G20 Trade Ministers' Meeting/TMM) di Milwaukee, Wisconsin, AS.

Baca Juga: Prometindo Kawal Logam Tanah Jarang Indonesia, Siapkan Insinyur untuk Hilirisasi

Kalbar Punya Indikasi Potensi Tanah Jarang

Sementara itu, Kalimantan Barat memiliki sejumlah wilayah yang telah diteliti Badan Geologi terkait potensi logam tanah jarang.

Di Kabupaten Ketapang, misalnya, Badan Geologi melakukan eksplorasi umum REE di kawasan Sandai yang memiliki batuan Granit Sukadana.

Kajian tersebut menemukan indikasi peningkatan kandungan gadolinium dan praseodymium pada sampel tanah dengan fragmen bauksit saprolit.

Badan Geologi menyebut sumber unsur tanah jarang di wilayah tersebut berkaitan dengan batuan granit tipe-S yang berasosiasi dengan cebakan timah. 

Potensi juga diteliti di Kabupaten Sambas. Prospeksi Badan Geologi menemukan sampel dengan kandungan total logam tanah jarang masing-masing 352 ppm dan 529 ppm pada Formasi Batuan Granit Pueh.

Peluang Kalbar semakin menarik karena provinsi ini merupakan salah satu pusat produksi bauksit nasional.

Berbagai penelitian yang dilakukan lembaga penelitian di bawah Kementerian ESDM menunjukkan residu pengolahan bauksit atau red mud menyimpan berbagai unsur mineral strategis bernilai ekonomi tinggi yang masih bisa dimanfaatkan lebih lanjut.

Baca Juga: Indonesia Harus Cari Mitra untuk Olah Logam Tanah Jarang

Melawi Simpan Indikasi REE pada Mineral Pembawa

Kabupaten Melawi juga menjadi wilayah penting dalam penelitian logam tanah jarang di Kalimantan Barat.

Penelitian BRIN pada sektor Rirang menemukan mineral pembawa REE, antara lain monasit, xenotim, dan loparit.

Penelitian tersebut mencatat konsentrasi total REE pada bijih monasit berkisar 85.320 hingga 138.488 ppm. 

Temuan tersebut memperkuat basis penelitian mengenai keterdapatan REE di Kalimantan Barat.

Namun, data tersebut merupakan hasil penelitian dan eksplorasi geologi. Data ini belum dapat disamakan dengan pernyataan bahwa Kalbar telah memiliki cadangan ekonomis siap ditambang.

Baca Juga: Residu Bauksit 10 Juta Ton per Tahun Bisa Diolah Jadi Logam Tanah Jarang Bernilai Tinggi

Peluang Hilirisasi dan Teknologi

Pembahasan Indonesia-AS menjadi relevan karena pemerintah tidak hanya menawarkan kerja sama perdagangan, tetapi juga investasi, teknologi, pengembangan pemasok, dan rantai pasok.

Budi menyebut peluang kerja sama mencakup industri hilir, produksi bernilai tambah, pengembangan pemasok, rare earths, hingga energi terbarukan.

Bagi Kalimantan Barat, peluang tersebut dapat dikaitkan dengan penguatan penelitian, pemetaan sumber daya, teknologi pengolahan, serta pengembangan industri hilir apabila hasil eksplorasi menunjukkan potensi yang layak secara teknis dan ekonomi.

Dengan demikian, potensi tanah jarang Kalbar dapat menjadi bagian dari pembahasan rantai pasok mineral strategis Indonesia, bukan semata-mata sebagai komoditas bahan mentah.

Kerja Sama Indonesia-AS

Dalam pertemuan tersebut, Budi juga membahas perkembangan Agreement on Reciprocal Trade (ART) dengan dunia usaha AS.

Ia berharap perjanjian tersebut dapat segera diimplementasikan dan dimanfaatkan oleh kedua negara.

Vice President and Executive Director International Policy Kamar Dagang AS Isabelle Icso menyambut positif upaya peningkatan kerja sama bisnis dengan Indonesia.

Ia menyampaikan empat fokus utama B20, yakni mengurangi kebijakan yang menghambat perdagangan, memodernisasi WTO, membebaskan bea perdagangan digital, dan memperkuat investasi lintas batas.

Dunia usaha AS juga menawarkan kerja sama pengembangan kapasitas dan pembayaran digital bagi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) Indonesia.*

Editor : Uray Ronald
Sumber : Antara
tanah jarang Kalbar potensi rare earth Kalbar rare earth Ketapang rare earth Melawi rare earth Sambas