KENAIKAN ketenaran Jimi Hendrix yang meroket dimulai pada 1966 ketika ia tiba di London, Ingrris, dan berakhir tragis dengan kematiannya di kota yang sama, persis 54 tahun yang lalu atau 18 September 1970. Begitu banyak teori konspirasi atas kematian gitaris jenius bertangan kidal itu.
Dilansir dari situs musiclipse.com, ditandai dengan permainan gitarnya yang inovatif dan kemampuannya untuk memadukan berbagai genre seperti rock, blues, dan psychedelia.
Hendrix merevolusi cara gitar listrik dimainkan, menggunakan teknik seperti umpan balik, distorsi, dan pedal wah-wah untuk menciptakan suara yang unik dan memukau.
Penampilan legendarisnya di Woodstock pada 1969, dengan hanya tiga album studionya berjudul Are You Experienced, Bold As Love, dan Electric Ladyland, langsung mengukuhkan tempatnya dalam sejarah musik.
Pada 18 September 1970, jaringan televisi ABC mengumumkan kematian salah satu gitaris terhebat dalam sejarah rock The Jimi Hendrix Experience is over.
Jimi Hendrix berusia 27 tahun ketika ia meninggal, seperti Brian Jones (The Rolling Stones) sebelumnya, dan banyak lainnya setelahnya, dari Janis Joplin dan Jim Morrison hingga Kurt Cobain dan Amy Winehouse.
Seperti dalam banyak kasus yang dikenal sebagai The 27 Club, keadaan kematian Hendrix masih menarik minat para ahli teori konspirasi saat ini, lebih dari setengah abad kemudian.
Pada malam yang menentukan kematian Jimi Hendrix, ia sedang berada di London, menginap di Hotel Samarkand.
Jimi menghabiskan malam itu dengan teman-teman, termasuk pacarnya saat itu, Monika Dannemann.
Laporan menunjukkan bahwa malam itu ia seperti biasa, bersosialisasi, mendengarkan musik, dan mengonsumsi alkohol dan narkoba.
Namun, keraguan dan teori konspirasi telah muncul selama bertahun-tahun mengenai peristiwa yang menyebabkan kematiannya.
Beberapa orang menunjuk pada ketidakkonsistenan dalam kesaksian yang diberikan oleh mereka yang hadir malam itu, yang menunjukkan bahwa mungkin ada lebih banyak cerita daripada yang dilaporkan secara resmi.
Monika Dannemann, yang merupakan orang terakhir yang melihat Hendrix hidup-hidup, memberikan cerita yang berbeda tentang peristiwa yang terjadi malam itu, menambah misteri.
Lebih jauh lagi, hubungan Hendrix yang penuh gejolak dengan manajernya, Michael Jeffery, juga telah memicu spekulasi.
Beberapa ahli teori telah menyatakan bahwa mungkin ada motif finansial atau pribadi yang berperan, meskipun bukti konkret yang mendukung klaim ini tidak ada.
Meskipun ada spekulasi dan kontroversi, penyebab resmi kematian yang tercantum pada surat kematiannya adalah menghirup muntahan karena keracunan barbiturat.
Diketahui bahwa Jimi Hendrix, karena tekanan masalah keuangan dan kebutuhan untuk merekam lagu dan memulai tur besar di seluruh Eropa, mengonsumsi obat barbiturat dosis tinggi untuk membantunya tidur, karena ia mengalami kelelahan dan kesulitan tidur.
Efek depresan barbiturat dapat menyebabkan gangguan koordinasi dan kesadaran, membuat orang rentan terhadap situasi di mana mereka mungkin muntah dan kemudian menghirupnya, yang menyebabkan komplikasi yang berpotensi fatal seperti pneumonia aspirasi.
Catatan Monika Dannemann tentang peristiwa-peristiwa yang menyebabkan kematian Jimi Hendrix telah menjadi bahan kontroversi dan skeptisisme.
Dalam pernyataan awalnya, ia mengklaim bahwa pada malam 17 September 1970, Hendrix telah meminum beberapa pil tidur yang diresepkan kepadanya, minum anggur merah, dan kemudian tersedak muntahannya sendiri, yang mengakibatkan kematiannya.
Namun, seiring berjalannya waktu, versinya tentang kejadian berubah, yang menyebabkan ketidakkonsistenan dan keraguan.
Beberapa rincian yang saling bertentangan termasuk kronologi kapan Hendrix mengonsumsi pil, jumlah pil yang ditelan, dan keadaan khusus seputar kematiannya.
Ketidakkonsistenan ini menimbulkan pertanyaan tentang keakuratan kesaksiannya.
Kisah Dannemann semakin rumit karena ada individu lain yang hadir pada hari-hari menjelang kematian Hendrix, termasuk teman dan rekannya.
Beberapa individu ini memberikan ingatan mereka sendiri, yang terkadang bertentangan dengan versi Dannemann tentang kejadian tersebut. (ote)
Editor : Miftahul Khair