PONTIANAK POST - Potongan trailer film Dilan ITB 1997 yang menampilkan ucapan “Terima kasih Soeharto” mendadak ramai diperbincangkan di media sosial, khususnya di X.
Namun, seorang warganet mencoba meluruskan konteks di balik dialog tersebut yang dinilai banyak disalahpahami.
Perdebatan soal dialog “Terima kasih Soeharto” dalam trailer Dilan ITB 1997 memicu beragam reaksi publik. Sebagian menilai kalimat tersebut kontroversial, sementara lainnya mempertanyakan maksud sebenarnya dari ucapan karakter Dilan.
Seorang warganet (@MiskinTV_) di X menjelaskan bahwa potongan dialog tersebut tidak bisa dilepaskan dari latar belakang cerita yang dibangun oleh Pidi Baiq, sosok di balik karakter Dilan.
Dalam berbagai wawancara dan podcast, Pidi Baiq disebut pernah mengisahkan bahwa Dilan merupakan representasi dari dirinya sendiri.
Pada tahun 1995, ia mendirikan negara fiktif bernama The Panasdalam sebagai bentuk ekspresi sekaligus kritik terhadap pemerintahan saat itu.
Langkah tersebut dilatarbelakangi oleh kekecewaannya karena aspirasi untuk ikut mengurus Indonesia tidak mendapat respons dari penguasa kala itu, yakni Soeharto.
Namun, situasi berubah setelah peristiwa Reformasi 1998 yang membuat Soeharto lengser dari jabatannya. Momen tersebut justru memunculkan refleksi baru bagi Pidi Baiq.
Baca Juga: Di Tengah Konflik Timur Tengah, Kimberly Ryder Tetap Jalani Umrah Ramadan Bersama Sang Ibu
Ia kemudian mempertanyakan kembali tujuan awal berdirinya “negara” The Panasdalam. Karena alasan utamanya adalah sebagai bentuk kritik terhadap penguasa, maka ketika sosok tersebut sudah tidak lagi berkuasa, eksistensi “negara” itu pun dianggap kehilangan relevansi.
Dalam cerita yang sama, The Panasdalam disebut sempat menggelar muktamar di kawasan Dago untuk menentukan arah selanjutnya, apakah tetap menjadi negara sendiri atau kembali bergabung dengan Indonesia.
Keputusan akhirnya adalah kembali ke pangkuan NKRI, dengan alasan sederhana namun khas gaya Pidi Baiq: malas mengurus negara dan ingin fokus pada hal lain.
Dari situlah, menurut warganet tersebut, konteks ucapan “Terima kasih Soeharto” muncul. Kalimat itu bukan bentuk glorifikasi, melainkan ungkapan satir yang merefleksikan berakhirnya sebuah fase perlawanan.
Penjelasan ini pun memberi sudut pandang baru bagi publik, bahwa dialog dalam trailer Dilan ITB 1997 tidak bisa dilepaskan dari latar sejarah, satire, dan gaya khas penuturan Pidi Baiq yang kerap memadukan humor dengan kritik sosial. (*)
Editor : Miftahul Khair