PONTIANAK POST - Persahabatan, luka lama, dan misi penuh bahaya menjadi benang merah dalam film Timur.
Film laga garapan Iko Uwais ini tak hanya menyuguhkan aksi brutal, tetapi juga drama emosional yang mengaduk perasaan penonton.
Angkat Luka Masa Lalu
Cerita bermula ketika enam peneliti dan dua pemandu lokal disandera oleh kelompok bersenjata di pedalaman hutan Papua Tengah.
Demi menyelamatkan para sandera, sejumlah prajurit pasukan khusus baret merah ABRI dikerahkan, termasuk Timur (Iko Uwais) dan Sila (Jimmy Kobogau), dua sahabat masa kecil.
Baca Juga: Hyun Bin Perankan Agen KCIA Bermotif Tersembunyi di Made in Korea
Misi penyelamatan itu ternyata menjadi perjalanan yang sangat personal bagi Timur. Wilayah operasi tersebut merupakan tempat kelahirannya.
Di sana, dia pernah tumbuh bersama dua sahabat kecilnya, Sila dan Apollo (Aufa Assagaf).
Ketiganya kemudian berpisah saat remaja. Apollo memilih tetap tinggal di Papua, sementara Timur menjalani jalan hidup berbeda.
Situasi semakin rumit ketika Timur mendapati Apollo justru berada di pihak lawan.
Baca Juga: Erling Haaland Debut Film di ‘Viqueens’, Isi Suara Prajurit Viking
Pertemuan kembali dua sahabat lama itu menghadirkan gejolak batin yang kuat.
Misi penyelamatan yang awalnya menegangkan berubah menjadi drama penuh konflik emosional dan masa lalu yang belum selesai.
Tidak Bawa Unsur Politik
Meski mengambil latar tahun 1990-an dan terinspirasi dari sejarah, Iko menegaskan bahwa film tersebut tidak membawa unsur politik.
Dia memilih pendekatan humanis dengan menyoroti nilai kemanusiaan, luka masa lalu, dan nasionalisme.
Baca Juga: Link Nonton Film Pesta Babi Beredar, Ramai Dicari di Tengah Polemik Nobar
Adegan Laga Jadi Daya Tarik
Adegan laga intens menjadi salah satu daya tarik utama film Timur. Iko Uwais kembali menghadirkan pertarungan realistis dengan koreografi rapi yang menegangkan sepanjang film.
Dalam cerita, Timur dan tim pasukan khusus harus menghadapi berbagai rintangan demi membebaskan para sandera di pedalaman Papua Tengah.
Situasi berbahaya itu dipenuhi aksi brutal khas film-film laga Iko.
Meski demikian, beberapa adegan disebut terasa kurang nyaman ditonton akibat guncangan kamera yang terlalu kuat. Namun, hal tersebut tetap tidak mengurangi intensitas pertarungan yang disajikan.
Baca Juga: Film The Batman Part 2 Bertabur Bintang: Scarlett Johansson dan Sebastian Stan Resmi Bergabung!
Iko mengungkapkan, tidak semua adegan aksi dipersiapkan lewat latihan panjang. Salah satunya adalah pertarungan bersama Aufa Assagaf di bagian akhir film.
“Sama sekali nggak ada latihan fighting sama tim. Bersentuhan satu tangan atau satu pukulan pun nggak pernah. Semuanya saat on set aja,” kata Iko.
Menurutnya, keberhasilan adegan laga justru lahir dari chemistry para pemain.
Kemampuan bela diri dan kedekatan emosional antarpemain menjadi modal utama membangun pertarungan yang terasa hidup.
“Kami mencurahkan hati kami dalam satu match. Jadi, yang dilihat bukan masalah material art-nya, tapi dance dan chemistry yang bisa kalian lihat di film,” jelas Iko. (*)
Editor : Chairunnisya