PONTIANAK POST - Kebahagiaan tidak selalu menghadirkan rasa lega bagi setiap orang. Ada kalanya ketenangan justru memunculkan kecemasan akan datangnya hal buruk.
Perasaan itulah yang menjadi benang merah dalam album terbaru Bernadya bertajuk Semoga Hanya di Mimpi.
Dilansir dari Jawapos, album penuh kedua Bernadya itu resmi dirilis pada Rabu (24/6) di bawah naungan JUNI Records.
Baca Juga: Bernadya Kembali dengan Rabun Jauh, Lagu Tentang Rindu yang Tak Sampai
Melalui karya terbarunya, solois asal Surabaya tersebut mengangkat tema ketakutan terhadap kebahagiaan dan ketenangan yang selama ini menghantuinya.
’’Semoga Hanya di Mimpi lahir dari ketakutanku akan rasa tenang. Bagiku, tenang sama dengan tanda bahaya,’’ ujar Bernadya dalam keterangan resminya.
Terinspirasi Cherophobia
Bernadya mengaku menemukan istilah cherophobia, yaitu ketakutan terhadap kebahagiaan karena khawatir akan datangnya hal buruk setelahnya.
Baca Juga: Ribuan Anak Muda Ramaikan Borneo Harmony: Sal Priadi Hangatkan Sore, Bernadya Harukan Malam
Perasaan itu bahkan sempat membuatnya ingin mengubah lirik lagu Laut yang Tenang. Ia khawatir kalimat yang ditulisnya justru menjadi doa.
Namun, pada akhirnya Bernadya memilih mempertahankan lirik asli karena dinilai paling jujur mewakili isi hatinya.
Gandeng Banyak Produser dan Musisi
Dalam proses produksi album, Bernadya menggandeng sejumlah produser dan musisi, yakni Enrico Octaviano, Baskara Putra, Dennis Ferdinand, Vega Antares, Rendy Pandugo, dan Petra Sihombing.
Baca Juga: Borneo Harmony 2025: Bernadya dan Sal Priadi Siap Menghibur Masyarakat Pontianak
Bernadya mengaku pengalaman bekerja dengan banyak produser baru menjadi tantangan tersendiri karena setiap orang memiliki proses kreatif yang berbeda.
’’Ini kali pertama bekerja dengan banyak produser baru dan harus menulis lagu dari nol. Aku harus menyesuaikan gaya penulisanku dengan cara kerja mereka, dan mereka juga harus menyesuaikan dengan caraku,’’ katanya.
Usung Nuansa Pop Indonesia Awal 2000-an
Dari sisi musikalitas, Semoga Hanya di Mimpi menawarkan nuansa baru yang terinspirasi musik pop Indonesia era awal 2000-an.
Baca Juga: Bernadya dan Sal Priadi Siap Hibur Warga Pontianak dalam Event Borneo Harmony 2025
Album ini didominasi instrumen organik yang dipadukan dengan sentuhan elektronik.
Bernadya mengaku banyak mendengarkan musik dari periode tersebut selama proses pengerjaan album.
’’Aku penasaran dengan era itu. Selama bikin Semoga Hanya di Mimpi, aku juga sering dengar album 18 dari Audy,’’ ungkapnya. (*)
Editor : Chairunnisya