PONTIANAK POST - Bayangkan menghadapi dinosaurus tanpa kemudahan teknologi seperti sekarang.
Itulah salah satu daya tarik yang dibangun The End of Oak Street melalui latar waktu 1982.
Era 1980-an Bukan Sekadar Nostalgia
Jawapos mengulas perjalanan waktu dalam film tidak hanya digunakan sebagai pintu menuju dunia prasejarah.
Baca Juga: The End of Oak Street Hadirkan Drama Keluarga di Tengah Situasi Hidup Mati
Latar tahun 1982 juga memiliki fungsi dalam membangun pengalaman para karakter.
Mitchell menyorot bagaimana para tokoh berusaha bertahan hidup tanpa teknologi mumpuni seperti yang tersedia saat ini.
Keterbatasan tersebut membuat koneksi dan rasa peduli menjadi bagian penting ketika keluarga Platt berusaha bertahan.
Baca Juga: The End of Oak Street: Ketika Kompleks Perumahan Terlempar ke Masa Dinosaurus
Dengan demikian, latar 1982 tidak sekadar menjadi tempelan atau unsur nostalgia.
Kontras Dunia Biasa dan Hutan Prasejarah
Salah satu kekuatan film terletak pada pertemuan dua dunia yang sangat berbeda.
Di satu sisi terdapat kawasan pemukiman tepi kota yang terlihat biasa, tenang, dan mirip dengan permukiman lainnya.
Baca Juga: Kisah Cinta Fanny Kondoh dan Mendiang Suami Diangkat Menjadi Film Baby Udon
Di sisi lain, terdapat hutan prasejarah yang dipenuhi hewan buas. Kontras tersebut menciptakan rasa bingung, takut, sekaligus penasaran.
Kehidupan yang awalnya tampak normal mendadak berubah menjadi perjuangan untuk bertahan hidup.
Perpaduan berbagai unsur tersebut membuat film terasa seperti gado-gado.
Drama keluarga, fiksi ilmiah, perjalanan waktu, semesta paralel, hingga dinosaurus hadir dalam satu cerita.
Baca Juga: Dari Deep Blue Sea ke Deep Water, Renny Harlin Kembali Menggarap Film Hiu
Mereka yang menyukai drama maupun fiksi ilmiah-dinosaurus dapat menemukan daya tarik masing-masing.
”Yang aku suka dari film ini adalah bagaimana ceritanya menegangkan sekaligus utuh dan menyentuh,” ujar Hathaway. (*)
Editor : Chairunnisya