PONTIANAK POST - Festival musik bukan hanya menjadi tempat menikmati pertunjukan musisi.
Dalam film Operasi Pesta Copet, keramaian dan kebiasaan penonton justru menjadi bagian dari sebuah rencana pencopetan.
Dalam ulasan Jawapos, disebutkan Film cerita panjang pertama karya drummer Seringai, Edy Khemod, tersebut mengikuti kisah Ijal (Iqbaal Ramadhan), seorang pria yang baru saja kehilangan pekerjaan.
Untuk menyambung hidup sekaligus membayar utang keluarganya, Ijal bekerja sebagai badut sulap bersama temannya, Adut (Kristo Immanuel).
Baca Juga: Reacher Season 4 Ubah Sejumlah Elemen Novel Gone Tomorrow Karya Lee Child
Namun, pekerjaan itu belum mampu mencukupi kebutuhan mereka. Ijal kemudian memilih jalan yang melanggar hukum. Bersama Silet (Fauzan Lubis), Ijal dan Adut mencopet di pasar.
Mencari Keuntungan di Festival Musik
Mencopet di pasar ternyata belum mampu mengentaskan Ijal dari kemiskinan. Jalan keluar kemudian datang dari Melodi (Kawai Labiba), sepupu Ijal yang menyukai musik.
Dari Melodi, Ijal mengetahui tentang Pestapora, festival musik lintas genre yang digelar selama tiga hari di JIEXPO Kemayoran, Jakarta Pusat.
Baca Juga: Dari Penyanyi ke Aktris, Shanna Shannon Hadapi Tantangan Film Pertama
Bagi Ijal, mencopet di tempat tersebut berpotensi menghasilkan keuntungan lebih besar dibandingkan mencopet di pasar.
Rencana pencopetan kemudian disusun oleh Ijal, Adut, Melodi, dan Tia (Zulfa Maharani), mantan kekasih Ijal.
Mereka membagi tugas, mulai dari pengalih perhatian, pengambil barang, hingga penadah barang curian.
Pengetahuan Melodi mengenai musik, musisi, serta kecenderungan penggemar menjadi salah satu bahan pertimbangan dalam menyusun rencana tersebut.
Formula Heist dengan Latar Musik
Operasi Pesta Copet memang tidak menawarkan konsep cerita yang sepenuhnya baru.
Baca Juga: Film The End of Oak Street Hadirkan Teror Dinosaurus Tanpa Teknologi Modern
Premisnya memiliki kemiripan dengan film tentang tokoh-tokoh miskin yang berusaha menyambung hidup melalui cara yang tidak dibenarkan secara hukum.
Pemaparan cerita pada bagian awal pun relatif mudah ditebak sehingga bagi sebagian penonton dapat terasa membosankan.
Namun, kehadiran festival musik populer yang benar-benar ada di dunia nyata menjadi daya tarik tersendiri.
Baca Juga: Kisah Cinta Fanny Kondoh dan Mendiang Suami Diangkat Menjadi Film Baby Udon
Edy mencoba menghubungkan cerita komedi heist dengan skena musik Indonesia.
Menurutnya, musik Indonesia tidak hanya berbicara tentang musisi, tetapi juga cara orang mengonsumsi musik, identitas penggemar, hingga hubungan musisi dengan penggemarnya.
“Bisa dibilang, Operasi Pesta Copet ini sosiologi dari ragam musik Indonesia, tapi dari sudut pandang pencopet,” terang Edy.
Baca Juga: Spider-Man Brand New Day Padukan Drama, Humor, dan Aksi Spektakuler dalam Satu Film
Pendekatan tersebut membuat musik tidak sekadar menjadi latar atau tempelan dalam film.
Pertunjukan, gimmick, serta tradisi penggemar seperti mosh pit, wall of death, hingga bernyanyi dan berjoget bersama justru menjadi bagian dari cerita.
Berbagai situasi tersebut dimanfaatkan sebagai kesempatan bagi para pencopet untuk melancarkan aksinya sekaligus menjadi penggerak cerita dan motivasi karakter. (*)
Editor : Chairunnisya