PONTIANAK - Ikatan Mahasiswa Seni (IKANMAS) sukses mempersembahkan Dramatari “Legenda Batu Betarup” yang sarat pesan moral dan nilai kebajikan untuk masyarakat. Pertunjukan tersebut digelar di Taman Budaya Kalimantan Barat selama dua hari, 29-30 November 2024.
Pimpinan Produksi, Lala Oktaviani, menjelaskan kegiatan ini bertujuan memberikan kesempatan kepada teman-teman untuk mengapresiasikan diri di bidang seni peran dan tari, sekaligus sebagai wujud hasil karya dari ujian akhir semester Mata Kuliah Dramatari di Prodi Pendidikan Seni Pertunjukan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Untan.
“Melalui pementasan ini, teman-teman di prodi lebih bisa mengekspresikan diri dalam dramatari yang sudah dikaryakan. Semoga penampilan dari prodi kami dapat menghibur masyarakat dan pesan moral yang terkandung di dalamnya tersampaikan,” ujar Ismunandar, selaku dosen pengampu mata kuliah Drama Tari.
Pertunjukan yang berjalan cukup meriah itu dihadiri 300 penonton dari semua kalangan masyarakat. Selama pementasan berlangsung, penonton terbawa masuk ke dalam cerita dengan emosi yang naik turun. Terlihat ada perasaan tegang, senang, dan sedih yang terpancar dari raut wajah penonton di setiap babak cerita.
Pertunjukan Dramatari "Legenda Batu Betarup" itu sendiri mengangkat cerita tentang rakyat Kabupaten Sambas. Cerita rakyat tersebut memiliki pesan moral dan nilai kebajikan, yakni bagaimana kita harus saling berbagi dan tidak merendahkan orang lain.
Dalam pertunjukan Legenda Batu Betarup tersebut, dikisahkan tentang seorang Mak Miskin dan anaknya, Siti Asikin, yang tidak diundang pada pesta pernikahan orang kaya. Kemudian, anaknya tetap datang saat masyarakat sedang memasak, namun seseorang memberikan bungkusan daging. Sehingga, anak tersebut kembali dan meminta ibunya untuk memasak daging tersebut.
Setelah anak tersebut kembali dan memberikan bungkusan tersebut kepada sang ibu, ibunya terkejut karena bungkusan tersebut berisi getah karet. Karena hal itu, Mak Miskin menjadi sedih dan marah, sehingga membuatnya memikirkan rencana jahat agar pernikahan orang kaya itu hancur.
Mak Miskin kemudian mendandani seekor kucing dengan diberi kalung dan dipakaikan baju kecil. Kucing tersebut dibawa oleh Siti Asikin ke lokasi hajat dan dilempar ke dalam tenda yang berisi tamu undangan.
Kucing kecil itu ditertawakan karena tingkahnya dianggap lucu hingga kucing berlari menjauh. Tak berapa lama muncul gemuruh petir hingga hujan yang sangat lebat di hari itu. Setelah itu, hari menjadi gelap dan tendanya terkena petir. Mak Miskin dan Siti Asikin menjauhi lokasi. Hujan tak berhenti selama tujuh hari dan seluruh tenda telah menjadi batu. (vie)
Editor : Miftahul Khair