Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Tolak Iklan Provider agar Konten Bebas Gawai

Super_Admin • Minggu, 20 Oktober 2019 | 09:05 WIB
KE MASA LAMPAU: Suasana Kampung Kayutangan di Kota Malang. Pengunjung bisa mendapati cerita-cerita sejarah yang diceritakan pemilik rumah. SHABRINA P ARAMACITRA/ JAWA POS
KE MASA LAMPAU: Suasana Kampung Kayutangan di Kota Malang. Pengunjung bisa mendapati cerita-cerita sejarah yang diceritakan pemilik rumah. SHABRINA P ARAMACITRA/ JAWA POS
Komunitas Bocah Pelawak Ngapak Polapike

Komunitas Polapike bukan sekadar kumpulan pelawak cilik. Melainkan juga wadah untuk membentuk karakter anak-anak Desa Sadangwetan, Kebumen. Sudah punya 85 video di YouTube dan acara di Trans7 yang kontraknya baru habis Agustus lalu.

Agus Dwi Prasetyo, Kebumen, Jawa Pos

’’BAR iki sinau ora? (setelah ini belajar tidak?),’’ tanya Rendra kepada Azkal. Dengan muka polos, Azkal menjawab, ’’Oh iya, MTK-ne enek PR. Kelalen nyong. Untung Mas Rendra ngomong (Oh iya, ada PR MTK. Lupa aku. Untung Mas Rendra mengingatkan).’’ Bergegas Azkal mengajak Fadli dan Ilham pulang ke rumah.

Namun, langkah mereka sekonyong-konyong terhenti ketika Ilham, 9, menyela, ’’Tapi inyong ora enek PR (Tapi aku tidak punya PR).’’ Seketika Azkal, 12; Fadli, 11; dan Rendra, 34, menatap tajam ke Ilham bersamaan. ’’Sinau iku ora kudu enek PR, Ham (Belajar itu tidak harus ada PR, Ham),’’ jawab Rendra dengan wajah bersungut.

Ekspresi yang mereka munculkan mampu mengundang tawa yang melihat. Setidaknya menghasilkan senyum.
Dialog itu bukan bagian dari adegan film pendek untuk tayangan televisi atau kanal YouTube Rendra Polapike. Percakapan itu spontan. Ilham memang seperti itu. Kerap menjawab sekenanya. ’’Ilham itu paling polos,’’ kata Yan Rendra Pratiwi, nama lengkap Rendra.

Berbeda dengan Azkal, Fadli, dan Ilham, nama Rendra barangkali kurang familier di kalangan penggemar film pendek produksi Polapike atau acara komedi situasi Bocah Ngapa(k) Ya yang tayang di Trans7. Bukan karena dia jarang tampil. Tapi lantaran dia lebih sering dipanggil Pak RT karena memang kerap kebagian peran sebagai Pak RT.

Polapike adalah kanal YouTube komedi situasi yang menyedot perhatian selama setahun terakhir. Hampir seluruh konten video yang di-posting telah ditonton ribuan bahkan jutaan kali. Jumlah pelanggannya hingga tadi malam tercatat 802 ribu akun.

Nama mereka semakin ngetop setelah bermain dalam program Bocah Ngapa(k) Ya yang ditayangkan Trans7. Kerja sama itu selesai akhir Agustus lalu. Namun, produksi konten di YouTube terus berlangsung.

Selain mereka, ada anak-anak lain yang melengkapi cerita. Di antaranya, Oktavia Tyastuti (berperan sebagai Tyas/kakak Ilham) dan Yusuf Anwar (Ucup). ’’Orang nyangkanya Polapike itu ada tiga (anak). Polapike itu komunitas,’’ cerita Rendra.

Meski menggunakan bahasa Ngapak, konten video Polapike disukai banyak orang. Tak terbatas hanya mereka yang menggunakan bahasa Ngapak. Barangkali karena faktor keluguan para aktor dalam setiap video serta lokasi pengambilan gambar di pedesaan yang segar dan alami di Dusun Loning, Desa Sadangwetan, Kecamatan Sadang, Kebumen.

’’Dulu sempat dianggap orang gila karena syuting di tempat-tempat sepi,’’ ungkap Rendra.

Jika jeli melihat, dari 85 video yang diunggah di YouTube, Polapike hampir tidak pernah menampilkan adegan memunculkan telepon genggam. Bahkan, Polapike menolak tawaran iklan provider ponsel dan sejenisnya untuk menghindari konten disisipi adegan dengan menggunakan gawai. ’’Sebab, takutnya dijajah handphone,’’ tegasnya.

Sampai sekarang, Polapike lebih konsisten menyisipkan permainan tradisional khas anak desa. Misalnya, patil lele, petak umpet, telepon kaleng, egrang, bermain kelereng, hingga menggiring ban. ’’Kami bisa main dengan permainan yang bikin sendiri,’’ papar pria kelahiran 1985 itu.

Polapike diinisiasi Rendra. Sebelumnya, Rendra yang sempat mengenyam karir sebagai artis figuran di Jakarta pulang kampung. Dia tak berniat balik ke ibu kota. Tak banyak yang dikerjakan di desa, pikirannya tertekan. Hingga muncullah ide mengajak anak-anak di desa untuk membikin konten YouTube yang khas pada Agustus tahun lalu.

Dalam produksinya, Polapike selalu mengedepankan hak anak. Misalnya, menghindari syuting pada jam sekolah, jam mengaji, dan jam belajar malam. Polapike juga tidak mau mengganggu kegiatan ekstrakurikuler yang diikuti pemainnya seperti Pramuka. ’’Terus, di jam salat, kegiatan syuting dihentikan,’’ kata Rendra.

Sebagai pentolan komunitas, Rendra tidak hanya mengatur jadwal, tapi juga membangun karakter anak-anak dalam fragmen cerita yang dibuat. Pembentukan karakter dilakukan dengan menyisipkan pesan moral dalam setiap kegiatan Polapike. ’’Jadi, tak tempel terus. Tak perhatikan benar-benar perkembangannya,’’ jelasnya.

Pendekatan itu pun membuat Rendra dikenal sebagai pawang anak-anak oleh warga kampung. Pada awal-awal Polapike terbentuk, Rendra sulit mengatur ritme. Banyak anak yang minggatan (kabur) ketika pengambilan gambar.

’’Ada yang suka bercanda sendiri juga,’’ ungkapnya.

Rendra juga sempat dianggap orang gila oleh orang kampung karena selalu bergerombol dengan anak-anak. ’’Dulu ada orang yang bilang, ’Oh gemblung dolane karo cah cilik-cilik.’ Tapi, sekarang orang tua yang dulu nyinyir malah minta anaknya diajak syuting,’’ ujar Rendra.

Meminta anak-anak itu berakting bukanlah hal mudah. Apalagi, di antara mereka semua, tidak ada yang punya latar belakang seni peran. Rendra harus ekstrasabar mengajari mereka.

Dia mencontohkan Ilham. Bocah kelas III MI Ma’arif Sadangwetan itu awalnya jarang mau tersenyum ketika bertemu orang. Dia juga paling lambat dalam menghafal dialog-dialog panjang. Ilham kerap menjadi sasaran perundungan Azkal dan Fadli karena kelemotannya itu.

’’Tapi, ternyata yang menjadi perhatian sekarang malah Si Ilham. Dia jadi lebih percaya diri dan karakter baiknya terus berkembang,’’ jelasnya.

Proses pembentukan karakter itu sejalan dengan harapan orang tua Azkal cs. Kepada Rendra, para orang tua menitipkan anak-anak mereka agar memiliki kepribadian yang baik. ’’Kalau kami, penginnya (Ilham) jadi anak mandiri, lebih pintar. Sejak syuting, kepercayaan dirinya meningkat. Kendel,’’ ungkap Tarmah, ibu Ilham.

Begitu pula orang tua Fadli. Ruwiyo, ayah Fadli, merasakan anaknya mendapat tambahan ilmu selama bergabung dalam komunitas Polapike. ’’Seperti pelajaran bahasa Inggris, kalau di sekolah belum dapat, tapi kadang-kadang sudah dimasukkan (disisipkan) di syuting,’’ tuturnya.

Polapike bertekad terus menjaga konsistensi komunitas yang bukan sekadar tontonan, melainkan juga tuntunan. Yang tak kalah penting adalah terus menjaga ciri khas wong ndeso dalam setiap konten. ’’Kalau diminta mengubah itu (ciri khas ndeso), saya sangat menolak,’’ tegas Rendra. (*/c5/ayi) Editor : Super_Admin
#polapike #features