Bantuan itu diserahkan kepada kelompok tani Tunas Harapan selaku pengelola danau. Hadir Bupati Sanggau Paolus Hadi, Manager Komunikasi dan Koordinasi Kebijakan KPw BI Kalbar Djoko Juniwarto, perwakilan Dinas Ketahana Pangan Kalbar, Disporapar Kalbar dan instansi lainnya. Paolus Hadi mengapresiasi bantuan tersebut.
Menurutnya, bendungan ini selama ini belum produktif. Padahal beberapa tahun yang lalu, bantuan serupa pernah masuk ke sana. Hasil yang didapatkan warga hanya berupa ikan yang diambil saban dua tahun dengan cara menangkap massal. Dia berharap program ini bisa dimanfaatkan oleh warga.
"Kelola tempat wisatanya dengan baik. Ekonomi Senyabang bisa hidup kalau orang ramai datang. Begitu juga sistem pengelolaan kerambanya diperbaiki. Ujungnya adalah peningkatan kesejahteraan masyarakat," kata dia.
Bantuan tersebut, kata dia, juga sejalan dengan keinginan Pemkab Sanggau untuk meningkatkan sektor pariwisata. Juga sesuai target pemerintah untuk meningkatkan konsumsi ikan masyarakat. "Di Kabupaten Sanggau ini angka konsumsi ikannya hanya 25 Kg per orang per tahun. Makanya angka stunting kita juga tinggi. Sehingga kami berharap program semacam ini terus digalakkan. Tidak hanya Pemkab, tapi juga pihak lain," pinta dia.
Kepala Bidang Ketersediaan dan Distribusi Pangan, Dinas Pangan, Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kalimantan Barat, Anang Ikhsan Nafiri mengatakan, pangan memang menjadi isu strategis karena diprediksikan di masa depan. Menurutnya masyarakat seharusnya dapat menerapkan pola mengonsumi apa yang diproduksi dan memproduksi apa yang dikonsumsi.
"Jadi keramba ikan ini bisa dimanfaatkan sebagai sumber protein bagi warga di sini. Selain tentu bisa menjadi sumber ekonomi warga karena harga ikan nila cukup tinggi di pasaran," ucap Anang Ikhsan.
Acara serah terima sendiri berlangsung meriah dan penuh keakraban. Bupati melantunkan beberapa lagu, dan mengajak ratusan warga berjoget bersama. Selain itu adapula seremoni penyerahan PSBI mesin giling padi untuk Gapoktan Bahkti Bersama (Kembayan), lantai jemur padi (Sekayam), dan demplot benih padi unggul varietas Tropico kepada Gapoktan Benua Raya (Tayan Hilir).
Djoko Juniwarto, manajer BI Kalbar menyebut pihaknya melihat semangat dari kelompok tani setempat yang besar untuk mengembangkan desanya. Apalagi desa ini diberkati dengan adanya danau. "Melihat potensi ini, kami membuat kegiatan peningkatan kapasitas ekonomi kelompok tani melalui optimalisasi budidaya ikan keramba di Danau Senyabang. Setelah sebelumnya anak-anak GenBI mempercantik danau ini," ujar dia.
Dia juga mengusulkan, festival menangkap ikan ini tidak lagi diadakan dua tahun sekali. Melainkan setiap tahun. Selain itu, festival ini juga naik kelas dari acara lokal masyarakat menjadi terbuka untuk umum. Sehingga mendapat publikasi luas dan menjadi atraksi wisata yang mengundang orang ramai untuk datang. Pengelola juga bisa menjadikannya lokasi pemancingan berbayar, yang keuntungannya masuk kas kelompok.
"Semoga tempat ini menjadi destinasi wisata baru yang ramai dikunjungi orang. Apabila dikelola dengan baik, maka akan memunculkan alternatif pendapatan baru bagi warga di sini. Karena akan menghidupkan sektor lainnya seperti ritel, kuliner dan lainnya," kata Djoko Juniwarto.
Lokasi Danau Senyabang sendiri sangat strategis. Persis di tepi jalan nasional Tayan-Sosok. Salah satu jalur lintas kabupaten teramai di Kalbar, menghubungkan Pontianak dengan Kuching (Malaysia).
Julius selaku ketua pengelola danau mengaku sangat bersemangat untuk mengelola danau ini. "Kami sangat berterimakasih kepada Genbi dan BI Kalbar atas bantuan ini. Tidak akan kami sia-siakan, karena kami dipesani oleh Pak Djoko agar danau ini bisa bermanfaat untuk masyarakat desa. Ke depan kami akan menambah beberapa jenis ikan dan memperbanyak properti untuk wisata di sini secara mandiri," ungkapnya.
Sejarah Danau Senyabang
Sebelumnya, akhir September lalu, sekira 70 orang anggota GenBI gotong royong bersama masyarakat setempat merevitalisasi bendungan seluas tiga hektare tersebut. Mereka merenovasi gazebo dan jembatan di sana. Seluruh sisi bendungan yang ditumbuhi ganggang, lumut, dan rumput dibersihkan.
Tidak hanya itu, GenBI juga mencat seluruh gazebo, barau dan jembatan. Temanya warna-warni.
Adapula dua plang branding bertuliskan "Senyabang Lake" di tepi danau dan tengah danau. GenBI juga membawa berbagai bunga-bunga serta tanaman hias untuk mempercantik bendungan tersebut.
Deni, tokoh masyarakat setempat menuturkan, bendungan ini sebenarnya adalah telaga alam kecil yang diperluas oleh warga sekitar pada tahun 1979. Anak sungai Senyabang mengalir ke sini. Pada tahun 1983 TNI bersama warga kembali memperbesar bendungan ini, hingga seluas sekarang. Warga menyebutnya Danau Senyabang.
Berbagai ikan lokal seperti gabus, toman, sepat, betok dan lainnya hidup di sini. Warga dan orang luar dilarang memancing atau menangkap ikan di sini. "Mereka yang ketahuan melanggar dihukum adat. Sehingga ikan-ikan tersebut selalu tersedia," kata dia.
Setiap dua tahun sekali bendungan dikeringkan. Lalu digelar festival menangkap ikan. Ratusan warga dari anak-anak hingga dewasa turun untuk menangkap ikan dengan tangguk. Festival terakhir baru saja digelar bulan Agustus tahun ini. Satu ekor ikan toman yang ditangkap beratnya bisa mencapai 8 Kg.
Pada tahun 2007, Pemkab Sanggau memberikan bantuan dua gazebo dan jembatan. Adapula hibah keramba beserta bibit ikan di sini. Namun keramba tersebut tidak lama dikelola oleh warga. (ars) Editor : Aristono Edi Kiswantoro