Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Menilik Keramba Gang Durian, Tekad Maju dari Tepian Sungai Kapuas

Syahriani Siregar • Senin, 22 November 2021 | 17:20 WIB
BERKOMPETISI: Seniman mural Kalimantan Barat saat melukis dinding di kawasan Stadion Sultan Syarif Abdurrahman Pontianak, kemarin. ARIEF NUGROHO/PONTIANAK POST
BERKOMPETISI: Seniman mural Kalimantan Barat saat melukis dinding di kawasan Stadion Sultan Syarif Abdurrahman Pontianak, kemarin. ARIEF NUGROHO/PONTIANAK POST
Sungai Kapuas adalah urat nadi perekonomian Kalimantan Barat. Sungai terpanjang se-Indonesia ini menjadi penghubung barang-barang konsumsi dan hasil alam keluar masuk melalui sungai itu. Di tepian Kapuas, Kabupaten Kubu Raya, sekelompok warga tak ingin hanya jadi penonton dengan membangun keramba jaring apung.

Aristono Edi Kiswantoro, Pontianak

SURYADI asyik melempar butiran-butiran pelet ke keramba ikan saat Pontianak Post berkunjung ke sana, Minggu (21/11). Suasana saat itu cukup berisik. Deru mesin kapal-kapal niaga yang melintas Sungai Kapuas beradu dengan suara anak-anak yang berlarian di jalan setapak perkampungan itu. Tak hirau dengan sengatan matahari di lintasan khatulistiwa. Bahkan pantulan sinar matahari dari sungai juga cukup menyilaukan mata.

Nun di seberang keramba, sejumlah kapal tanker raksasa sedang parkir di galangan kapal raksasa untuk perawatan berkala. Di sungai yang sepanjang lebih seribu kilometer ini memang banyak berdiri dermaga-dermaga modern milik berbagai perusahaan. Kontras dengan rumah-rumah kayu milik warga.

Sore itu giliran Suryadi untuk memberi makan ikan-ikan di keramba jaring apung yang dikelola oleh warga Gang Durian, Dusun Tanjung Puri, Desa Arang Limbung, Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya. Ribuan ikan nila berloncatan saling berebutan makanan di air Sungai Kapuas yang bewarna kecokelatan. Di permukaan kolam banyak enceng gondok yang sengaja ditaruh agar ikan bisa berteduh.

Ikan-ikan itu terkurung jaring-jaring keramba yang ditambatkan ke pelampung berupa tong-tong plastik berwarna biru. Tong juga menjadi alas jalan setapak dari kayu agar siapapun bisa lewat. Sementara tiang-tiang pancang menembus dasar sungai untuk menyangga keramba.

"Kami berdelapan orang yang dipercaya untuk mengelola keramba ini. Jadi masing-masing ada jadwal kasih makan ikan. Sehari kasih makan ikan tiga kali," ujar pria 45 tahun ini.

Keramba ini dibangun secara gotong royong oleh warga akhir Januari 2021 lalu. Bersamaan dengan peresmian Gang Durian menjadi Kampung Berseri Astra (KBA) Kubu Raya, sebuah program sosial dari Astra International. Sebagai informasi KBA punya empat pilar program yaitu pendidikan, kewirausahaan, lingkungan dan kesehatan. Keramba ini bagian dari pilar kewirausahaan, sementara tiga pilar lainnya juga mulai berjalan. Dari program itu warga dibantu pembangunan keramba dan fasilitas pendukung lainnya, serta 1.000 ekor bibit ikan.

Photo
Photo
TANTANGAN: Faktor lingkungan menjadi tantangan dalam mengelola keramba jaring apung di Sungai Kapuas. (aristono/Pontianak Post)

"Awalnya hanya empat kolam saja. Tapi kami tambah dua kolam lagi untuk pembibitan, supaya tidak beli bibit dari luar," sebut Suryadi.

Hasil yang didapat dari keramba ini lumayan. Apalagi saat ini harga ikan nila sedang bagus. Di pasaran tembus Rp35.000 per kilogram. Total sudah enam kali warga memanen ikan dari keramba. Tak jarang ada konsumen yang datang membeli secara eceran sebelum panen besar dilakukan.

Rata-rata warga mendapat 100-150 kilogram ikan setiap panen sebagian panen dibagikan ke warga sekitar. Sedangkan sebagian lagi dijual ke pengepul. Seluruh keuntungan masuk ke mas untuk digunakan operasional dan pengembangan keramba. Dia bilang, dengan skala dan kapasitas keramba yang sekarang sulit menyisihkan hasil keuntungan untuk uang keringat pengelola.

"Kami bekerja ikhlas saja dulu," kata dia.

Keramba kelompok yang mulai membuahkan hasil ini menginspirasi warga lain untuk turut membudidayakan ikan secara mandiri. Kini di sekitar kampung itu berdiri sejumlah keramba apung milik individu warga.

"Kami bersyukur warga jadi tertarik untuk berwirausaha budidaya ikan. Apalagi daerah kami sangat berpotensi karena berada di tepi Sungai Kapuas. Tidak perlu tanah yang luas dan menggali kolam," sebut dia.

Warga juga mulai membahas untuk membangun rumah makan tepi sungai yang bisa menjadi objek wisata. Rencananya, rumah makan itu akan menjual olah ikan segar dari keramba.

"Harapan kami dalam waktu dekat keramba jadi semakin luas dan banyak, supaya bisa jadi pemasukan untuk warga. Untuk jangka panjang, ada cita-cita menjadikan kampung ini menjadi destinasi wisata kuliner," ungkapnya.

Tantangan

Namun keramba KBA Kubu Raya bukan tanpa kendala. Kardiman, ketua kelompok pengelola keramba KBA Gang Durian menyebut tantangan budidaya ikan di Sungai Kapuas sangat besar. Keramba rentan terhadap pencemaran sungai dan sampah yang berada di sungai. Selain itu, kuat arus air yang berubah-ubah, serta gelombang dari kapal yang melintas juga berpengaruh terhadap kesehatan ikan.

Belakangan, saat hujan deras tiba, banyak ikan di keramba itu yang mati. Terutama dari kolam pembibitan, sehari bisa 100an ekor anak ikan yang mati. Kalau ikan ukuran sedang dan besar aman, mungkin karena fisiknya sudah kuat.

"Kami tidak tahu mati karena apa. Bisa jadi karena kena zat-zat beracun dari hulu sungai. Ini kan Sungai Kapuas yang sangat panjang, kalaupun ada sampah atau zat lain kita tak tahu dari mana datangnya," tutur Kardiman.

Mengelola keramba di sungai menjadi hal baru bagi warga di sana. Mayoritas warga, terutama kaum pria di Gang Durian bekerja sebagai tukang bangunan. Sebagian lagi menjadi buruh perusahaan di berbagai pabrik di pinggiran kapuas.

Operasi Bibir Sumbing oleh Perhimpunan Ahli Bedah Plastik Indonesia di RSUD Sultan Syarif Mohamad Alkadrie. (IST)
Operasi Bibir Sumbing oleh Perhimpunan Ahli Bedah Plastik Indonesia di RSUD Sultan Syarif Mohamad Alkadrie. (IST)
NILAI JUAL: Ikan nila yang dipelihara kelompok KBA Gang Durian sedang bagus harganya di pasaran, yaitu Rp35.000 per kilogram. (Aristono/Pontianak Post)

"Sungai Kapuas yang ada di hadapan kami memang belum dimanfaatkan. Kami berharap keramba ini bisa berhasil," imbuh dia.

Dulu sekali, memang pernah ada warga yang punya keramba. Bisa dibilang berhasil, namun berhenti di tengah jalan lantaran usia si empunya sudah senja dan tak ada yang mengurus keramba itu lagi.

"Untuk model keramba dan cara pemeliharaan kami tiru dari yang beliau lakukan. Sampai sekarang kami masih dalam tahap belajar dan terus mencari ilmu agar keramba ini berhasil. Mungkin ke depan bisa menerapkan teknologi," imbuh dia.

Semangat dan Kekompakan

Salah satu pihak yang mendorong warga membangun keramba ini adalah kelompok usaha Astra International melalui program KBA-nya. Fasilitator KBA Kubu Raya, Surono menilai ada tekad kuat dari warga Gang Durian untuk maju.

"Kami melihat ada semangat dari warga untuk memajukan lingkungannya. Setelah kami lakukan survei, pengamatan lapangan, dan beberapa pertemuan. Akhirnya keinginan warga agar program KBA masuk bisa disetujui," jelas dia.

Meskipun dia mengakui tantangan di kawasan marginal tentu lebih berat ketimbang daerah mapan. Rata-rata pendidikan warga di sini terbilang rendah. Begitu juga lingkungan serta fasilitas umumnya yang belum memadai. Namun, lanjut Surono, itulah tujuan dari KBA, yaitu mewujudkan wilayah yang bersih, sehat, cerdas, dan produktif sehingga kualitas hidup masyarakat di sana naik.

Dia menceritakan besarnya semangat dan kekompakan warga saat proses pembangunan keramba awal tahun ini.

"Saat pembangunan keramba Januari lalu, kaum prianya gotong royong. Sedangkan ibu-ibu menyiapkan makanan dan minuman. Pengurus KBA juga aktif melaporkan perkembangan keramba yang dijalankan. Walaupun ini baru dimulai, kami optimis kalau warga kompak dan konsisten terus seperti ini niscaya berhasil," sebut pria berkacamata ini.

Photo
Photo
GEMBIRA: Anak-anak warga Gang Durian tengah bermain di tepian Sungai Kapuas dengan latar belakang aktivitas galangan kapal. (Aristono/Pontianak Post)

Potensi Budidaya Ikan

Bupati Kubu Raya Muda Mahendrawan mengapresiasi kegiatan budidaya ikan dengan keramba dari masyarakat. Apalagi sektor perikanan tengah menjadi fokus pihaknya, dimana Pemkab Kubu Raya memang saat ini tengah gencar mensosialisasikan dan mempromosikan budidaya ikan kepada masyarakat. Terlebih sebanyak 40 persen wilayah Kubu Raya merupakan perairan, baik laut dan sungai.

"Bagaimana masyarakat mampu memanfaatkan potensi laut dan sungai yang sangat luas. Salah satunya untuk budidaya ikan," kata Muda.

Muda menuturkan, dengan slogan dari Kubu Raya Untuk Indonesia, dirinya meyakini Kubu Raya yang merupakan Kabupaten termuda di Kalbar ini mampu berkontribusi bagi republik ini dengan berbagai potensi alam dan kekayaan laut yang melimpah. Dia juga mengapresiasi berbagai pihak yang turut membantu dan memberdayakan masyarakat di sektor budidaya ikan.

"Ini seiring dengan visi kita bersama yaitu, Kubu Raya Bahagia," ucapnya.

Produktivitas perikanan budidaya di Kubu Raya sendiri tengah menurun produksinya dalam beberapa tahun terakhir. Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Kalbar mencatat, pada tahun 2016 produksi perikanan budidaya di Kubu Raya tembus 3.150,60 ton. Namun turun pada tahun berikutnya yaitu 2.754,64 ton. Kemudian tahun 2018, anjlok lagi ke angka 2.184,00 ton.

Tidak hanya di sektor hulu, yaitu perikanan tangkap dan perikanan budidaya. Muda juga mendorong sektor pendukung, seperti UMKM pembuat pakan ikan hingga pengolahan ikan menjadi makanan.

"Kita terus memberikan bantuan modal, pembinaan, dan menghubungkan nelayan, UMKM dengan pasar yang lebih luas," imbuhnya.

Selain itu, pihaknya juga mendorong masyarakat untuk mengkonsumsi ikan lokal untuk memperkuat ketahanan pangan dan pemenuhan protein masyarakat. Protein, kata dia, sangat penting untuk pemenuhan gizi, terutama anak-anak yang sangat berpengaruh terhadap kecerdasan.

“Kita tingkatkan pasokan gizi yang bersumber dari hasil (makanan dan minuman) lokal. Produksi protein hewani dan nabati ini perlu ditingkatkan, karena gizi ini sangat penting dalam tumbuh kembang manusia. Selain itu menjadi sumber konsumsi protein setiap rumah tangga, makan ikan juga membantu nelayan perikanan tangkap dan pembudidaya,” pungkasnya. ** Editor : Syahriani Siregar
#keramba #dermaga #gang durian #tepian sungai kapuas #kubu raya