Arief Nugroho, Surakarta
Pertengahan Mei 2022 lalu saya mengunjungi Desa Wirun, Kecamatan Mojolaban, Kabupaten Sukoharja, Kabupaten Jawa Tengah. Sekilas, desa ini tak ada bedanya dengan desa-desa lain. Tetapi, ada satu hal yang membuat desa ini begitu istimewa. Desa ini telah dikenal sebagai sentra kerajinan alat musik gamelan.
Di Desa Wirun, gamelan dibuat dengan cara tradisional, dengan mengandalkan keterampilan tangan manusia. Prosesnya sendiri tergolong rumit karena harus mengandalkan ketelitian, dan pengalaman agar bisa menghasilkan gamelan dengan kualitas yang baik.
Kerajinan gamelan di desa ini sudah berdiri sejak tahun 1956. Tidak heran jika gamelan Wirun masyhur tidak hanya di pasar lokal, tetapi juga ke manca negara. Tidak sedikit gamelan dari Desa Wirun dipesan dan dipasarkan di luar negeri, speerti Jepang, Amerika dan Eropa.
Hari itu, Tukiman (55) bersama delapan orang rekannya bersiap membuat satu set Kempul (salah satu jenis gamelan), pesanan seseorang.
Tukiman sendiri sudah belasan tahun menekuni profesi sebagai pembuat gamelan. Kepiawaiannya bersama rekan-rekannya sudah tidak diragukan.
Berbekal pengalaman itu, ia dan teman-teman seprofesinya terbilang cukup mahir dalam membuat gamelan.
Namun demikian, untuk membuat seperangkat gamelan diperlukan keterampilan dan ketelitian. Prosesnya pun tidak semudah yang dibayangkan, karena harus melewati berbagai tahapan yang rumit.
Setidaknya terdapat lima tahap yang harus dilalui. Di antaranya, tahap melebur bahan baku logam (campuran kuningan dan tembaga) atau disebut dengan membesot, mencetak atau menyinggi, menempa, dan membabar atau pemeriksaan terakhir.
Setelah membabar, ada satu proses penting lagi yang harus dilakukan untuk menghasilkan satu set gamelan yang sempurna, yaitu proses menyesuaikan tangga nada atau pelarasan.
Dalam proses membesot, seorang pengrajin gamelan akan mempersiapkan kowi, yaitu wadah sejenis mangkuk yang terbuat dari tanah liat. Dalam proses ini, dipersiapkan perapian yang dilengkapi dengan alat pemanas untuk menghasilkan panas yang maksimal.
Kowi tersebut kemudian diisi dengan logam dan campuran lainnya, seperti tembaga atau perak untuk menghasilkan warna lempeng yang bagus.
Setelah bahan dasar pembuatan gamelan sudah jadi, tahap berikutnya adalah menyinggi. Dalam tahap menyinggi, bahan dasar logam dilebur kembali untuk dicetak menjadi bentuk bilah atau bulat.
Terdapat tiga bentuk gamelan yang dibuat dalam tahap ini, antara lain, bentuk panjang (dawan), bentuk panjang setengah lingkaran, dan bentuk cebongan. Untuk menjaga kesakralan, biasanya pada tahap ini digunakan air kembang untuk merendam gamelan yang sudah dicetak.
Alat musik gamelan yang sudah dicetak kemudian masuk ke tahap menempa atau membentuk untuk menghasilkan bentuk yang sempurna. Tahap menempa merupakan tahap yang paling rumit dalam proses pembuatan gamelan.
Dalam tahap ini, pengerjaan dilakukan oleh orang yang benar-benar memahami seluk-beluk gamelan, mengingat proses menempa tidak dilakukan sembarangan, melainkan menggunakan berbagai teknik memukul menggunakan palu pemukul yang beraneka macam.
Gamelan yang sudah ditempa kemudian diperiksa kembali pada tahap membabar. Pada tahapan ini jika masih terdapat kecacatan pada bentuk akan diperbaiki kembali. Setelah tahap membabar, secara fisik alat musik gamelan yang dibuat sudah selesai, namun belum secara fungsi. Oleh karena itu dibutuhkan satu tahapan lagi untuk menghasilkan gamelan dengan fisik dan fungsi yang sempurna, tahap tersebut adalah menyesuaikan tangga nada.
Setelah disesuaikan dengan tangga nada, bilah dan bulatan siap dipasang pada sangkarnya. Pada tahap inilah pembuatan berbagai alat instrumen gamelan telah selesai secara fisik maupun fungsinya.
Satu set gamelan berjumlah sekitar 26 item dapat dibuat dalam 3-4 bulan. Mengenai harga, satu set gamelan lengkap bisa dihargai hingga sekitar Rp 300 juta, bahkan lebih.
Mahalnya harga jual gamelan selain karena membutuhkan proses yang lama dan tingkat ketelitian yang tinggi, juga didasarkan pada harga bahan baku yang tinggi serta banyaknya bahan baku yang dibutuhkan.
Untuk membuat satu perangkat gamelan lengkap, seorang perajin harus menyediakan 1,3 ton tembaga dan 3 kuintal tembaga.** Editor : Syahriani Siregar