Deny Hamdani, Pontianak
WAJAH dua jurnalis Pontianak Post, Arief Nugroho dan Meidy Khadafi, tampak tersenyum puas, ketika tiba di lantai 11 Hotel Neo Pontianak. Napas keduanya sedikit terengah-engah, seperti tengah mengejar sesuatu.
Meski tidak telat, mereka berdua rupanya menjadi paling terakhir yang datang pada acara Iftar Ramadan Bersama kru Jurnalis Pontianak Post & Neo Pontianak. Enam dan 7 April lalu menjadi agenda penyambung tali silaturahmi jajaran media dan usaha perhotelan.
Keseruan dan keceriaan terbangun ketika perbincangan seadanya mengalir begitu saja antara kru Pontianak Post dan Humas Neo Pontianak. Tidak ada yang serius dibicarakan. Semuanya serba bercanda, sambil menunggu beberapa menit ke depan azan merdu menggema keluar dari layar televisi, suara radio, dan toa masjid. Sementara sebelumnya kudapan dan hidangan pelengkap, sudah memenuhi meja makan. Begitu suara azan magrib menyeruak, keluarlah kalimat rasa syukur dari semua umat muslim. Itu menandakan waktu berbuka sudah dimulai.
Soal iftar bersama di bulan Ramadan, Ustaz Miftah, pencemarah asal Kalbar sekaligus politisi PPP Kalbar menyimpulkan bahwa hal ini adalah kegiatan yang dilakukan pada saat bulan Ramadan. Dijelaskan dia sebagai sebuah kegiaitan di mana sekelompok orang berkumpul untuk berbuka puasa bersama. Kegiatan ini, menurut dia, biasanya diadakan di masjid, rumah, atau tempat umum lainnya.
Nah, hadis yang memperkuatnya, diungkapkan dia, juga ada. Disebutkan dia, dari Anas bin Malik RA, Rasulullah SAW bersabda, "Janganlah kalian mengabaikan undangan yang diberikan oleh saudara-saudara kalian, apalagi undangan untuk berbuka puasa. Barangsiapa yang mengabaikan undangan, maka dia telah durhaka terhadap Allah dan Rasul-Nya." (HR. Bukhari)
Dia juga mengungkapkan mengenai beberapa hadis Nabi Muhammad SAW yang menyebutkan tentang keutamaan dan keberkahan dari iftar bersama dalam tradisi reliji Islam. Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda, "Barangsiapa yang memberi makan kepada orang yang berpuasa, maka dia akan mendapatkan pahala seperti orang yang berpuasa, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa sedikitpun." (HR. Tirmidzi).
Sementara dari Salman Al-Farisi RA, Rasulullah SAW bersabda, "Jika seorang Muslim memberi makan seorang Muslim lainnya saat berbuka, Allah SWT akan memberi kepadanya makanan dari Surga dan mengampuni dosanya." (HR. Bukhari dan Muslim)
Menurut Miftah, dalam tradisi Islam, iftar bersama menjadi ajang yang penting dalam mempererat hubungan sosial antarsesama muslim. Kegiatan ini, menurut dia, tidak hanya dilakukan pada zaman Rasulullah SAW, tetapi juga dilanjutkan para sahabatnya dan umat muslim di seluruh dunia sampai sekarang.
"Ini menjadi bentuk ibadah dan kebaikan yang dianjurkan oleh Islam," ucapnya.
Pada zaman Rasulullah, lanjutnya, iftar bersama dilakukan di Masjid Nabawi dengan cara membagikan makanan kepada seluruh jemaah yang hadir. Rasulullah SAW sendiri, digambarkan dia, sering memimpin kegiatan ini dan mengajarkan kepada umatnya untuk saling berbagi dan memberikan makanan kepada yang membutuhkan. Bahkan, diungkapkan dia bahwa Rasulullah telah bersabda bahwa orang yang memberikan makanan untuk berbuka kepada orang yang berpuasa, akan mendapatkan pahala yang sama dengan orang yang berpuasa.
Di Indonesia, tradisi iftar bersama ini sendiri, menurut dia, juga sudah ada sejak zaman para wali songo. Para wali Allah, menurutnya, melakukannya di banyak tempat. Para wali Allah ini digambarkan dia, tidak hanya mengajarkan tentang agama, tetapi juga memperkenalkan tradisi buka bersama sebagai bentuk kebersamaan dan solidaritas antar umat.
"Nah, manfaatnya adalah mempererat tali silaturahmi antarsesama umat muslim, selain meningkatkan rasa kebersamaan dan persaudaraan, juga membantu yang membutuhkan agar dapat merasakan nikmatnya hidangan secara bersama-sama," kata Miftah bijaksana.
Dia melanjutkan dalam konteks modern seperti sekarang, tradisi reliji iftar bersama telah menjadi ajang terpenting memperkuat hubungan sosial dan kebersamaan di tengah masyarakat. Hal ini, menurut dia, terlihat dari banyaknya acara buka bersama yang diadakan di masjid-masjid, perkantoran, lembaga pemerintahan, dan tempat-tempat umum lainnya.
Tujuan iftar sendiri, dikatakan dia, juga saling meningkatkan kebersamaan, solidaritas, membantu yang membutuhkan agar bisa menikmati hidangan bersama-sama. Selain itu, dia menambahkan bahwa kegiatan ini juga memberikan kesempatan bagi orang-orang untuk saling berbagi pengalaman dan inspirasi, juga memperkaya pengalaman berpuasa selama Ramadan.
Dalam konteks modern juga, sambungnya, tradisi reliji iftar bersama dalam Islam telah menjadi lebih luas dan berkembang. Di seluruh dunia, umat muslim dari berbagai latar belakang dan budaya dipastikan dia, memperoleh manfaat dari kegiatan berbuka puasa bersama, seperti mempererat hubungan sosial, meningkatkan rasa persaudaraan, dan membantu yang membutuhkan.
Selain itu, menurut dia, iftar bersama juga dijadikan sebagai ajang untuk memperkenalkan keanekaragaman budaya dan tradisi di antara umat muslim yang berasal dari berbagai negara dan latar belakang. Di Indonesia dan Kalbar, digambarkan dia, tradisi iftar bersama telah menjadi bagian penting dari budaya Ramadan di kalangan umat muslim. Dipastikan dia, begitu banyak masjid, musala, pusat kegiatan Islam, dan lembaga sosial yang menyelenggarakan acara iftar bersama sebagai bentuk kepedulian dan solidaritas sosial.
"Kesimpulannya adalah, tradisi iftar bersama dalam Islam telah berlangsung sejak zaman Rasulullah SAW dan terus berkembang hingga saat ini. Banyak manfaat sosial, kultural, dan keagamaan yang ditelurkan dari kebiasaan dan adar istidat reliji sejak zaman baginda nabi ini," pungkas anggota DPRD Kalbar tersebut. (*) Editor : Syahriani Siregar