Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Kisah Heroik Pekerja Buruh Harian Lepas

Misbahul Munir S • Selasa, 13 Juni 2023 | 17:00 WIB
BURUH ANGKUT: Pekerja bongkar muat di Dermaga kapuas Indah membuat barang ke dalam kapal jurusan Kayong Utara, Senin (1/5). Upah yang tak pasti didapatkan menjadi pekerja bongkar muat membuat pekerjaan tersebut penuh dengan risiko. (HARYADI/PONTIANAKPOST)
BURUH ANGKUT: Pekerja bongkar muat di Dermaga kapuas Indah membuat barang ke dalam kapal jurusan Kayong Utara, Senin (1/5). Upah yang tak pasti didapatkan menjadi pekerja bongkar muat membuat pekerjaan tersebut penuh dengan risiko. (HARYADI/PONTIANAKPOST)
Abadi Dalam Pusaran Kehidupan Yang Menuntut Pengorbanan.

Gelap langit di sudut kota hampir terang. Langit berwarna kusam gelap, mulai memunculkan oranye indah sebagai warna pagi di ufuk timur. Warna tersebut menemani langkah-langkah para pekerja buruh harian di pasar pagi. Di dalam pusaran kehidupan yang serba cepat ini, ada beberapa orang yang sedang gigih berjuang mengepulkan asap dapur rumahnya. Mereka adalah pekerja buruh harian. Pekerja tegar di balik layar, yang jarang terdengar rintihan cerita hidupnya ?

Deny Hamdani, Pontianak.

MATA Mamad(47) masih berkaca-kaca subuh hari menjelang pagi. Sebelum ayam berkokok, dan suara azan terdengar lantang dari sebaran toa-toa rumah ibadah, dia sudah berada di pasar. Hiruk pikuk suara pasar juga ikut mengema keluar. Itu menandakan pasar pagi tak pernah tidur. Lalu lalang orang-orang, dan para pemikul alias buruh harian tak kalah sibuknya.

Di pundaknya, barang angkutan dengan puluhan atau ratusan kilogram tengah dipikulnya. Dia membawanya ke satu lapak besar Pasar Pagi di daerah Kubu Raya. Selanjutnya barang tersebut ditumpuk, sebelum disebar ke pedagang lain. Hampir sepanjang hari ketika pasar akan buka, aneka barang-barang tersebut dipikul Mamad. Dia sudah menjalani pekerjaan ini sejak lama. Hanya berharap upah sebagai buruh kasar harian lepas. "Ya beginilah kerjaan saya. Yang penting halal," katanya beberapa waktu lalu.

Eko Syahputra Siregar, pemerhati nasib buruh dan sering berjibaku dengan kehidupan pekerja harian lepas ini mengatakan bahwa pekerja buruh harian, sering dari lapisan masyarakat bawah. Mereka kerap terperangkap dalam lingkaran kemiskinan dan kesulitan hidup. "Umumnya memang mereka tak memiliki pekerjaan tetap. Harus bergantung pada pekerjaan harian yang ada. Pekerjaannya sering kali bersifat fisik. Seperti buruh bangunan, tukang kebun, tukang sapu jalan, pekerja sektor informal lainnya,"ucapnya. "Mereka bekerja tanpa jaminan sosial, hak-hak pekerja, atau perlindungan yang memadai," timpal Eko.

Tidak jarang, lanjutnya, para pekerja buruh harian harus bangun pagi-pagi buta dan berjalan jauh menuju tempat penjemputan. Ada juga memakai kendaraan sendirian, ngojek atau ikut dengan temannya. Mereka menempuh perjalanan panjang menuju lokasi pekerjaan. "Terlepas dari cuaca, apakah hujan atau terik matahari yang membakar kulit, mereka tetap melangkah dengan semangat tak kenal lelah," ujarnya.

Di balik kerja keras dan perjuangan mereka, terdapat kisah hidup pilu kehidupan mereka. Yang sering didengar dari telingganya dan sering dilupakan masyarakat adalah, mereka bekerja untuk sekedar menyambung hidup keluarga. Ada yang bekerja membiayai pendidikan anak-anak. Atau bahkan bekerja untuk menyembuhkan penyakit yang tak kunjung sembuh. "Setiap pekerja buruh harian memiliki cerita dan alasan yang berbeda untuk melanjutkan perjuangan mereka setiap hari," kata salah satu politisi muda Golkar Kalbar ini.

Sebagian pekerja lepas boleh dibilang sebagagi pahlawan tanpa tanda jasa. Mereka setia mengerjakan tugas-tugas dan penuh dedikasi. Meskipun berjuang mencari nafkah, mereka tetap melaksanakan tugas dengan cermat dan teliti. Keterampilan dan keahlian yang dimiliki mereka, mungkin seringkali terabaikan. Akan tetapi, mereka adalah tulang punggung dari banyak proyek dan pemeliharaan di satu daerah.

Sering kali juga di tengah cobaan dan pengorbanan tak terhitung jumlahnya, pekerja buruh harian masih belum diberi pengakuan layak. Gaji seringkali rendah. Kurangnya akses terhadap fasilitas kesehatan dan pendidikan termasuk perlakuan tidak adil, terutama di kota-kota besar masih menjadi realitas menghantui kehidupan buruh harian lepas.

"Jujur, kita bisa berbuat kok. Bisa saja cara memberikan perhatian dngan tunjangan kepada para pekerja buruh harian ini. Memang diperlukan langkah-langkah konkret dalam meningkatkan kondisi mereka. Misalnya pemerintah perlu menerapkan undang-undang yang memberikan perlindungan dan hak-hak yang adil bagi pekerja buruh harian, termasuk akses terhadap jaminan sosial, upah yang layak, dan lingkungan kerja yang aman," ucap bacaleg muda dapil Kalbar 1 ini.

Selain itu, lanjutnya, diperlukan upaya berupa pelatihan dan pengembangan keterampilan kepada pekerja buruh harian. Ini supaya mereka memiliki peluang meningkatkan taraf hidup keluarga mereka. Program-program pelatihan vokasional dan akses terhadap pendidikan yang terjangkau dapat membantu meningkatkan kualifikasi mereka dan membuka pintu menuju pekerjaan yang lebih baik. (den) Editor : Misbahul Munir S
#heroik #pekerja #Pasar Pagi #buruh harian lepas