Kalimantan Barat lewat kekayaan alamnya yang melimpah, seringkali menjadi tempat penemuan hewan-hewan eksotis. Di tengah belahan hutan lebat dan sungai membelah, seekor katak unik, tidak memiliki paru-paru berkembang biak. Katak Kepala Pipih Kalimantan alias Barbourula kalimantanensis, nama ilmiahnya. Warga lokal sering menyebutnya Jakai. Dia adalah kodok dari suku Bombinatoridae, makhluk ajaib sebagai daya tarik dunia ilmiah dan para pencinta alam. Lewat keajaiban biologisnya, katak kepala pipih jadi fenomena di Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional (HCPSN), yang diperingati setiap tanggal 5 November ?
DENY HAMDANI, NANGA PINOH
Berbicara tentang hewan langka dan unik, Katak Kepala Pipih (Barbourula kalimantanensis) memegang peranan khusus di hutan Kalimantan Barat. Hewan, yang tidak memiliki paru-paru ini, menghabiskan seluruh hidupnya di sebagian wilayah Nanga Pinoh, Kalimantan Barat dan sekitar. Sebagai hewan endemik langka, warna kulit mencolok, dan memanjang, Katak Kepala Pipih merupakan salah satu satwa langka dan endemik yang dilindungi.
Aturannya tertuang dalam Pasal 21 Ayat 2 UU 5/1990 yang isinya: "Setiap orang dilarang untuk menangkap, melukai, membunuh, menyimpan, memiliki, memelihara, mengangkut, dan memperniagakan satwa yang dilindungi dalam keadaan hidup, dan juga dilarang memperniagakan satwa yang dilindungi dalam keadaan mati". Ada sanksi pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak Rp100.000.000,00 (seratus juta rupiah) bagi yang melanggar ketentuan UU Perlindungan Satwa Langka di atas.
Meskipun langka, para peneliti dan pecinta alam sering kali berusaha keras memahami lebih lanjut tentang Katak Kepala Pipih. Para petualang dan ilmuwan alam sering mengunjungi daerah ini, mencari jejak hewan ajaib ini. Tujuannya menjaganya supaya tetap lestari di hutan lebat, Nanga Pinoh, sebagai habitat hewan yang sering jadi pemberitaan ini.
Awal Juli sebelumnya, tim dari Post-Release Monitoring (PRM) dimuat di www.orangutan.or.id melakukan radio tracking dan berjumpa dengan Jakai yang sedang berada di atas bebatuan sungai. Katak ini merupakan salah satu spesies endemik langka dan memiliki sebaran terbatas, hanya ditemukan di hutan hujan Kalimantan.
Jakai memiliki ukuran sedang. Panjang tubuhnya sekitar 6,6 cm dan katak betina sekitar 7,7 cm. Bentuk kepalanya pipih mendatar. Sementara bagian moncongnya lebar membundar, dan memiliki badan gempal. Barbourula kalimantanensis memiliki tungkai depan dan belakang penuh selaput renang hingga ujung jarinya. Karena tidak memiliki paru-paru sebagai organ pernapasannya, katak langka ini sepenuhnya bernafas melalui kulit.
Di Indonesia sendiri, Jakai tidak dilindungi dan tidak termasuk ke dalam daftar Convention on International Trades on Endangered Species of Wild Flora and Fauna (CITES). Namun, di dalam daftar International Union for Conservation of Nature (IUCN) masuk ke dalam kategori "Genting". Sebab, jangkauannya terbatas. Mereka berada di bawah ancaman kepunahan disebabkan berkurangnya habitat hidup mereka. Maka menjaga habitat jakai agar tetap lestari populasinya di masa depan, harus terus dilakukan.
melansir www.nationalgeographic.grid.id, Djoko Tjahjono Iskandar adalah herpetology (pakar amfibi dan reptil) Indonesia berkali-kali membuat geger dunia sains lewat temuan-temuannya. Memulai karirnya tahun 1978 sebagai herpetology, pilihannya menekuni katak dan reptil sangat tidak populer. Waktu itu belum ada ahli katak di Indonesia. "Mungkin saya satu-satunya waktu itu. Bisa dibilang pioneer," katanya.
Menekuni katak-katak Indonesia, Djoko belajar dari ahli luar negeri. Dia berkorespondensi lewat surat. Salah satunya dengan Robert Frederick Inger, ahli katak dan reptil dari Field Museum yang juga banyak mempelajari keanekaragaman hayati Indonesia.
Ketekunannya membuahkan hasil. Dia menemukan Barbourula kalimantanensis, katak famili Discoglossidae pertama yang ditemukan di Borneo. Gelar doktor dari Université Montpellier 2 di Montpellier Prancis sukses diraihnya. Pada tahun 2008a silam, penelitian kembali Barbourula kalimantanensis berhasil dipublikasikan di jurnal Current Biology pada 6 Mei 2008 mengungkap fakta baru. Katak kepala pipih itu ternyata tidak punya paru-paru.
"Waktu itu geger juga. Jenis itu adalah satu-satunya katak di dunia yang tidak memiliki paru-paru, pernapasannya dengan kulit," ungkap Djoko yang mengaku menemukan jenis katak itu di Sungai Pinoh, bagian dari Kapuas, Kalimantan Barat.
Studi kemudian mengungkap bahwa populasi Barbourula kalimantanensis sangat minim. International Union for Conservation of Nature (IUCN) menyatakan bahwa spesies tersebut terancam punah tahun 2013 silam. Selain Barbourula kalimantanensis, penemuan spektakuler Djoko ialah Cyrtodactylus batik. Spesies itu adalah cicak jari bengkok yang ditemukan di Gunung Tompotika, wilayah Sulawesi Tengah.(**)
Editor : A'an