Olah lahan tanpa membakar menjadi semangat baru dalam dunia pertanian di tengah perubahan iklim yang semakin nyata. Banyak petani yang mengadopsi metode ini. Tidak hanya mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan, tetapi membuka peluang untuk mendapatkan keuntungan yang signifikan.
Ramses L Tobing, Kubu Raya
Muhammad Salim sudah tiga tahun menggeluti dunia pertanian. Lahan pertanian milik pria yang disapa Salim itu di pekarangan belakangan rumahnya, Dusun Lingga Selatan, Desa Lingga, Kubu Raya. Luasnya 50x90 meter persegi.
Salim menggarap lahan pertaniannya dengan mulsa tanpa olah tanah (MTOT). Metode ini menggunakan lapisan penutup organik di bedengan lahan pertanian. Seperti jerami, daung kering, rumput kering atau kayu maupun ranting kering. Pertanian ini dibuka tanpa membakar lahan. Mulai dari pembukaan lahan hingga proses penanaman.
Salim memakai metode ini sejak awal tahun 2022. Pengetahuan itu didapatnya saat mengikuti pelatihan dari Program Udara Bersih Indonesia. Pria berusia 43 ini sempat ragu. Sebab selama ini dia menggarap lahan masih dengan cara membakar.
Mulai dari membuka lahan hingga proses tanam. Tetapi Salim menepis keraguannya. Ia memilih untuk mencoba. Ternyata hasil panennya meningkat jika dibandingkan dengan cara konvensional.
"Saya pernah tanam gambas, hasilnya 1 ton. Kalau konvensional hanya 400 kiloan. Dan itu saya coba di lahan seluas 30x40 meter persegi," kata Salim.
Salim merasa pertanian dengan MTOT biaya produksinya lebih rendah dibandingkan konvensional. Penyusutannya bisa mencapai 20 persen. Namun hasil yang didapat lebih banyak.
Salim mencontohkan pada tanaman gambas. Nilai rupiah yang didapatkan untuk satu baris, dengan metode tanam MTOT bisa mendapatkan Rp500 ribuan. Sedangkan metode konvensional sekitar Rp300 ribuan.
Hematnya biaya produksi ini karena satu lubang tanam bisa digunakan untuk berbagai jenis tanaman. Salim pernah mencobanya. Ada empat jenis tanaman yang ditanamnya secara bergantian setelah panen.
"Pertama tanam semangka, lalu buncis, selanjutnya gambas. Terakhir tanam pare," kata Salim.
Selain soal biaya produksi, Salim juga merasa pertanian dengan MTOT lebih simpel dibandingkan konvensional. Sebagai contoh membuat bedengan hanya sekali. Jika dengan konvensional harus berkali-kali.
Begitu juga ketika proses pembukaan lahan yang sengaja dibiarkan berserakan. Meski kelihatan tidak rapi tetapi hasil panen lebih menjanjikan.
"Sengaja berserakan dan tidak dibakar, dibiarkan kering sendiri. Semak-semak itu untuk membuat mulsa. Kayu-kayu yang sudah ditebang sengaja disimpan di atas bedengan. Semak atau rumput liat ditebas dan ditaruh di atas bedengan, tujuan biar tidak terlalu kering," kata Salim.
Hasil pertanian Salim langsung dilemparnya ke pasar tradisional. Ia yang mengantarnya langsung. Tidak bisa satu kali antar. Ia harus bolak balik karena mengantar menggunakan sepeda motor. Dusun tempat ia tinggal belum bisa dilintasi mobil. Sementara motor hanya bisa membawa beban maksimal 100 kilo.
"Ya harus bolak balik," ujar Salim.
Meski hasil produksi lebih banyak, namun Salim masih terkendala di harga. Menurutnya harga untuk petani masih terhitung rendah.
Sebagai contoh harga di pasaran sekitar Rp15 ribu per kilo untuk satu komoditas. Sementara harga yang diambil dari petani Rp8.000 per kilo. "Jadi sekitar 40 persen turunnya," ujar Salim.
Yang dikhawatirkan Salim jika harga di pasaran turun. Secara otomatis harga di petani juga turun. Ia bahkan pernah menjual gambas dengan harga terendah Rp3.000 per kilo.
Namun jika harga pasaran tinggi maka harga di petani juga tinggi. Ia pernah menjual hasil panennya Rp12.000 per kilo.
"Kadang-kadang ada malas juga, Cuma tidak ada kerjaan lagi jadi dikerjakan dengan semangat. Paling tidak sudah menutupi biaya produksi," imbuh Salim.
Pertemuan dengan metode MTOT ini merupakan program dari Udara Bersih Indonesia (UBI) yang diinisiasi Yayasan Field Indonesia. Selain di Kubu Raya program ini juga ada di Ketapang, Kayong Utara, dan Landak.
"Kalau di Kubu Raya sejak tahun 2021," kata Direktur Eksekutif Yayasan Field Indonesia Heru Setyoko.
Heru menjelaskan bahwa program udara bersih Indonesia untuk mengurangi risiko perubahan iklim, mengurangi kebakaran dan menciptakan udara bersih. Pihaknya berharap ke depan bisa bekerjasama dengan pemerintah untuk melanjutkan program ini.
"Kami berharap dari dinas pertanian melanjutkan. Bisa melakukan sinergi, narasumber atau pendampingan untuk pengembangan program udara bersih indonesia," tambah Heru.
Menurut Heru metode ini sangat sederhana, mudah, dan murah. Ada empat metode, mulsa tanpa olah tanah, bedengan kayu, pupuk daun dan cangkang telor. Sederhana dan murah sehingga dapat dilakukan masyarakat.
Lanjut Heru, metode ini tidak hanya dapat meningkatkan produksi, dan pendapatan petani. Melainkan dapat menjaga kesuburan ini sehingga bermanfaat bagi kesehatan dan lingkungan.
Heru menambahkan penerapan metode ini sejatinya untuk mengubah perilaku masyarakat sehingga diterapkan secara perlahan ke petani.
Ia pun mengapresiasi respon petani dengan perubahan yang ada. Seperti mulai petani mulai organisme tanah, kesuburan tanah, tentang nutrisi yang dibutuhkan tanaman.
"Tantangannya pada banjir dan hama. Tetapi petani tertarik sehingga ada perubahannya, dari membakar menjadi tidak membakar. Dari menggunakan pupuk kimia kemudian menggunakan pupuk organik. Kemudian memperhatikan kesuburan tanah," ungkap Heru.
Kepala Bidang Sarana dan Prasarana Dinas Pertanian dan Tanaman Hortikultura Kalimantan Barat Masudi menilai pertanian dengan metode MTOT adalah terobosan.
Metode ini mendorong petani dan masyarakat pertanian untuk ramah lingkungan. Apalagi di tengah permasalahan pembukaan lahan dengan cara membakar. Lalu kebakaran hutan dan ladang yang dampaknya pada perekonomian.
Menurut Masudi dengan adanya metode ini akan mengurangi polusi udara dari asap.
"Harapannya bisa meningkatkan efisiensi dan efektivitas pertanian. Penyuluh dan petani diharapkan bisa bekerjasama, sehingga bisa meningkatkan produktivitas pertanian," pungkasnya. (*)
Editor : A'an