Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Disabilitas juga Mampu Berprestasi

A'an • Minggu, 3 Desember 2023 | 11:17 WIB
BERPRESTASI: M. Bhadra Pandita Anas (kanan), atlet tuna netra berprestasi pada cabang olahraga renang.
BERPRESTASI: M. Bhadra Pandita Anas (kanan), atlet tuna netra berprestasi pada cabang olahraga renang.

  

National Paralympic Committee Indonesia (NPCI) Kalbar menghelat Pekan Paralimpic Provinsi (Peparprov) 2023 yang dibuka pada 25 November lalu di GOR Pangsuma Pontianak.

Peparprov sendiri menjadi wadah para atlet disabilitas dalam mendulang prestasi. Bagaimana pengalaman para atlet sampai pendampingnya di helatan ini?

 

MIRZA AHMAD MUIN, Pontianak

 

M. Bhadra Pandita Anas merupakan salah satu atlet disabilitas yang ikut serta dalam perhelatan Peparprov Kalbar tahun ini. Ia merupakan atlet renang kategori tuna netra kelas lowvision.

Tahun ini merupakan tahun pertama Pandita, sapaannya, mengikuti kejuaraan Peparprov cabor renang kategori tuna netra. Terhitung 6 bulan ia melakukan persiapan untuk menatap kejuaraan ini.

Semenjak bergabung dengan NPCI Kalbar, ia pun aktif dalam berbagai kegiatan olahraga.

Mahasiswa IKIP PGRI Pontianak ini awalnya menekuni olahraga taekwondo. Namun dilihat pengurus NPCI Kalbar, ia memiliki peluang untuk menjadi atlet renang tuna netra.

Ia pun diarahkan untuk ikut serta latihan renang. Tanpa pikir panjang, tawaran tersebut diiyakan.

Latihan keras dilakukannya bersama teman-teman atlet renang normal, dengan pembimbingan dari pelatih renang. Kata dia, usaha tak mengkhianati hasil.

Di perlombaan sebenarnya, ia pun berhasil meraih dua medali dalam helatan ini. Medali emas untuk kategori dada dan medali perak untuk kategori bebas.

Menurutnya, latihan keras selama latihan menjadi kunci bisa mendapatkan prestasi level Kalbar ini. Ia pribadi dalam latihan tak mengalami kendala.

Kalaupun soal mata yang penglihatannya tidak sejelas orang normal, ketika di lomba renang baginya biasa. Karena selama latihan memang ini tantangannya.

Di Kalbar sendiri, kata dia, atlet renang tuna netra tak banyak. Bisa dihitung jari. Ia sendiri bisa dikatakan sebagai pioneer untuk atlet renang tuna netra.

Baginya, raihan dua medali ini menjadi pelecut semangat untuk berprestasi di tingkat yang lebih tinggi. Yaitu bisa berbicara di tingkat nasional. Makanya saat ini, ia latihan renang rutin.

Ia ingin mendapatkan prestasi yang lebih tinggi. Awal langkahnya mulai dari sini. “Mudah-mudahan apa yang ditarget bisa menjadi kenyataan. Saat ini saya terus latihan rutin dengan modal tekad dan semangat,” katanya.

Dari cerita yang lain, Sulastri, tenaga pengajar di SLB C Dharma Asih Pontianak di tahun ini menjadi salah satu dari enam pendamping dari 20 atlet disabilitas, yang ikut serta dalam perhelatan NPCI Kalbar tahun ini.

Sebagai tenaga pengajar tuna grahita yang sudah 20 tahun lebih mengabdikan diri, banyak pengalaman yang ia kecap. Terutama ketika mendampingi atlet disabilitas tuna grahita saat bertanding.

Menurutnya, dalam mendampingi atlet disabilitas tuna grahita, membutuhkan tingkat kesabaran tinggi. Sebab ia mesti berhadapan dengan emosi atlet tuna grahita yang berbeda-beda.

Pengalaman ini kerap ia dapati baik ketika mengajar di kelas dan membawa atlet tuna grahita di pertandingan sesungguhnya. Baik itu level provinsi dan level nasional.

Seperti di Peparprov belum lama ini, salah satu atletnya ngambek. Ketika mengalami situasi ini, lanjut dia, diperlukan kesabaran ekstra. Ia pun membujuk si atlet, dengan menanyakan terlebih dulu kenapa ia sampai ngambek.

Setelah didapat apa yang membuat si atlet ngambek, ia pun memikirkan cara untuk membujuk si atlet. Bermacam cara ia lakukan dalam mengembalikan emosi atlet tuna grahita ini.

Paling mendebarkan tentu saat si atlet akan bertanding tiba-tiba emosi atlet tuna grahita labil. Ini menjadi tantangannya, sebab Sulastri mesti gerap cepat membujuk. Jangan sampai atlet tak mau bertanding. Jika demikian, latihan yang sudah berjalan selama presiapan bisa menguap begitu saja.

Namun syukurlah selama mendampingi para atlet tuna grahita, ia bisa menaklukkan situasi tersebut. “Tetapi tetap saja mendebarkan. Namun syykurlah semua bisa berjalan lancar,” katanya.

Seperti Peparprov kemarin, dari 20 atlet tuna grahita yang ikut serta dalam perhelatan itu, tiga atletnya berhasil meraih medali. Yaitu satu emas untuk cabor lompat jauh atas nama Natalius, satu perunggu lompat jauh atas nama Firyansyah dan satu medali perunggu untuk cabor atletik kategori lari 100 meter atas nama natalius.

Selain prestasi ini, di Peparnas tingkat nasional dulu sebagai pendamping ia juga berhasil membawa atlet tuna grahita mendapatkan prestasi di cabor renang, catur dan tenis meja. (*)

Editor : A'an
#prestasi #peparprov #kalbar #atlet disabilitas #atlet