Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Mekar Karena Tagar, Adaptasi UMKM di Era Digital

Aristono Edi Kiswantoro • Sabtu, 9 Desember 2023 | 15:29 WIB
PRODUKSI: Kristin Sisilia sedang menyelesaikan buket bunga yang dipesan oleh pembeli online-nya.    (Aristono/Pontianak Post)
PRODUKSI: Kristin Sisilia sedang menyelesaikan buket bunga yang dipesan oleh pembeli online-nya. (Aristono/Pontianak Post)

Media sosial kini bukan lagi jadi sarana alternatif untuk berjualan. Banyak pelaku usaha, termasuk UMKM di Pontianak menjadi mekar lewat jalan ini. Medsos dianggap lebih efisien.

JEMARI Kristin Sisilia asyik merangkai bunga sintetis dan printilan lainnya menjadi sebuah buket. Ia dibantu dua orang karyawan. Agar hasilnya tidak melenceng, sesekali ia melihat gambar yang dikirim oleh pembelinya.

"Kami tidak ready stock. Jadi semua by custom, sesuai keinginan costumer," ujar orang yang sudah memulai usaha florist dengan brand Surprise Me sejak tujuh tahun lampau.

Rumahnya di Gang Parit Demang, Jalan Parit Demang, Pontianak itu sejatinya kurang strategis untuk berusaha. Posisinya berada di paling ujung di gang buntu tersebut. Namun dari sini lah ibu beranak satu ini menghasilkan ribuan karya yang semuanya terjual.

"Padahal saya punya rumah juga di Jalan Pancasila yang lebih strategis. Tetapi karena kita jualan di medsos, jadi dari mana saja bisa, yang penting internet lancar," sebut perempuan 30 tahun ini.

Usaha florist ini dijabaninya sejak masih gadis. Seperti sarjana baru pada umumnya, begitu lulus kuliah, Kristin bekerja kantoran. Sampai tiba saat ia merasa jenuh dan memutuskan keluar. "Tahun 2016 saya resign dari pekerjaan karena merasa bukan passion. Lalu saya mulai bikin florist ini. Saya memang suka seni apapun, termasuk merangkai bunga," katanya.

Langkah pertama, Kristin mulai membuka akun Instagram @Surprisemeee. Lalu ia mengunggah foto-foto buket dan parsel yang pernah dibuatnya. Tak lupa pada keterangan postingannya ia membubuhi tagar (hashtag); #FloristPontianak, #BuketPontianak, #HampersPontianak, dan sejenisnya. Betapa senangnya dia, hari itu juga langsung ada yang memesan.

Menurutnya ada jutaan orang yang bermain medsos dan tak saling kenal. Namun tagar menjadi kunci bagi orang-orang yang ingin mendapatkan suatu konten tertentu, termasuk mencari produk. "Ada pemesan dari Kodam (Tanjungpura), minta dibikinkan buket bunga untuk pejabat di sana yang baru dilantik. Langsung besoknya kami antar ke sana. Ternyata kekuatan hashtag itu luar biasa," tutur dia.

Portofolio Medsos jadi Penilaian Bank

Sejak saat itu, usaha yang digeluti Kristin kian berkembang. Pemesannya tak hanya dari Pontianak, tetapi juga kota-kota lain. Dalam sebulan ia mampu meraup omzet Rp20-40 juta rupiah. Namun pada momen hari raya besar keagamaan, Kristin mampu menghasilkan lebih dari Rp50 juta per bulan.

Kristin tak ingin berhenti di sini. Kini ia ingin mendirikan usaha karangan bunga papan. Satu kavling tanah yang tepat berada di samping rumahnya telah siap dibangun bengkel untuk itu. Ia pun telah mendapatkan dana segar lewat Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari Bank BRI. "Saya baru beberapa bulan ini ambil KUR BRI dengan plafon Rp50 juta. Ya memang untuk itu (mengembangkan usaha)," ucapnya.

SIAPKAN POSTINGAN: Kristin Sisilia, pemilik usaha florist Surprise Me sedang mengedit foto yang akan diposting di Instagram.
SIAPKAN POSTINGAN: Kristin Sisilia, pemilik usaha florist Surprise Me sedang mengedit foto yang akan diposting di Instagram.
 

Ternyata protofolio Surprise Me di Instagram membuat Kristin mudah tembus KUR BRI. "Saya hanya satu kali bertemu dengan orang dari BRI. Karena saya usaha dari rumah, saya tunjukkan akun IG Surprise Me. Katanya, usaha saya dinilai layak, karena saya juga tidak punya tunggakan bank. Selanjutnya proses dilakukan via online dan WA saja. Tak lama kredit saya cair deh," jelas dia.

Khalid Danu Purnomo, selaku Manajer Bisnis Mikro BRI Pontianak menyebut sepanjang tahun lalu, terdapat lebih 14.000 nasabah dengan total plafon Rp564 miliar yang dilayani pihaknya. Sebagian dari nasabah tersebut banyak pula yang tidak memiliki toko atau kios fisik alias bergelut total di penjualan online.

"Saat ini memang sudah era digital. Jadi salah satu pertimbangan kami juga adalah melihat aktivitas bisnis nasabah di e-commerce atau medsos. Selain tentu saja syarat administrasi lainnya. Apalagi sekarang pengajuan KUR juga bisa dilakukan secara online," sebut Khalid.

Buah manis penjualan digital turut dialami Yulistia Risky Pratiwi. Wanita 25 tahun ini berjualan jilbab dan pakaian muslimah di berbagai e-commerce. Akun Instagramnya dengan nama @Barakallahshop yang punya 54 ribu follower menjadi etalase produknya.

"Ada sedikit peningkatan pada terutama Ramadan. Mungkin karena orang malas ke toko atau mall ya. Jadinya larinya belanja ke online," ujan Risky saat ditemui di butiknya, Jalan Tanjungsari, Pontianak.

Pada setiap postingannya, ia cantumkan tagar yang langsung menyasar keinginan konsumen seperti #hijabsyarimurah #hijabberlayer #hijabinstan, dan lain-lain. Berbeda dengan Kristin ia tidak mencantumkan nama kota dalam tagarnya.

Namun lantaran itu, ia mampu menjangkau pasar yang lebih luas. Pemesan produk yang dijualnya berasal dari berbagai daerah di tanah air.

Sementara itu satu-satunya outlet Swalles, brand sampo lokal asal Pontianak, harus ditutup akibat sejak pandemi lalu. Namun beruntung pasar digital adalah makanan sehari-hari bagi pemilik sampo berbahan baku sarang burung walet ini. Saat ini hampir semua penjualan dilakukan online. Produknya terjual hingga ke seluruh provinsi di Indonesia. Bahkan luar negeri. Kini shampoo ini sudah dibeli oleh konsumen di 47 kota –seIndonesia. Bahkan dibeli pula oleh orang luar negeri.

Merawat Followers

Salah satu keunikan dari shampoo Swalles ini adalah cara penjualannya. Pasutri pemegang merek ini, Fransiskus Wiraya (38) dan Felis Noviyana (30) menghindari menjual di retail. Selain menyasar konsumen tertentu, harga Swalles dinilai terlalu mahal bila masuk ke ritel. Apalagi berbagai macam merek shampoo ada di sana, dengan harga jauh lebih murah.

Penjualan langsung lewat media sosial kepada konsumen lebih dipilih, utamanya lewat akun Instagram @swalles_official. Selain lebih eksklusif, mereka juga bisa langsung berinteraksi dan mengedukasi konsumennya secara langsung. Media sosial adalah andalan mereka. Di akun medsos Swalles, terutama Instagram, ada ratusan testimoni dari para konsumen mereka.

Felis dan suami mengelola pemasaran digital dengan sangat serius. Menurutnya produk yang baik, harus didukung pula oleh strategi pemasaran dan komunikasi yang baik. "Bukan cuma manajemen internal kita, di ekosistem digital ini warganet, baik itu konsumen kita atau bukan juga harus diperhatikan," tukas Felis.

Instagram menjadi media sosial andalan Felis, lantaran daya jangkau dan keaktifan para penggunanya. Kini akun Instagram @swalles_official sudah memiliki lebih lebih 40 ribu pengikut organik.

"Satu hari kami minimal posting empat konten. Isinya kebanyakan bahkan bukan jualan produk, tetapi lebih kepada edukasi bagaimana merawat tubuh, menjaga kesehatan, hingga kuis-kuis dan cerita menghibur. Atau membahas hal-hal yang sedang viral," ucapnya.

Akun itu memang terlihat terkelola dengan baik. Setiap postingan memiliki desain grafis, corak dan warna yang seragam. Foto produk atau orang pun diambil dengan angle dan komposisi yang pas.

Tak ketinggalan setiap momen hari nasional dan keagamaan juga ada ucapan khusus. Felis dan timnya juga rutin membalas komentar netizen. "Membalas komentar itu wujud menghargai mereka. Siapapun akan senang kalau komentarnya ditanggapi," sebutnya.

Tak kalah penting adalah pengiriman. Menurut dia, dalam penjualan online, kecepatan pengiriman memegang peranan penting. Setiap pemesanan dari konsumen harus dikirim hari itu juga. Batas pengiriman jam 8 malam, menyesuaikan jadwal tutup jasa kurir. Bila konsumen order selepas jam itu, akan dikirim besok paginya.

Analisa data juga menjadi faktor yang tak boleh diabaikan oleh penjual online. Felis memanfaatkan berbagai aplikasi untuk mencegah penipuan dan melihat respon pasar. Apalagi dulu dia sering tertipu oleh pembeli palsu.

Demi menghindari itu, dia memakai sebuah aplikasi untuk mengetahui apakah alamat pemesan benar atau fiktif. Atau akun medsos seseorang itu asli atau kloningan. "Kami juga rutin melihat grafik view di medsos. Ternyata kenaikan grafik di medsos juga berpengaruh terhadap penjualan," pungkasnya. (Aristono)

Editor : Aristono Edi Kiswantoro
#UMKM #digital #bri #pontianak