Tanamkan Pondasi Pendidikan Dan Kesehatan, Bisa Dinikmati Sampai Sekarang
Pada 1924 atau satu abad yang lalu, enam suster dari Belanda yakni Zr Muder Sophie, Zr Leontine, Zr Elizabeth, Zr Rosa, Zr Eudoxia dan Zr Aquina tiba di Indonesia tepatnya di Kota Sambas Kalimantan Barat. Menggunakan kapal, berlabuh di Sungai Kapuas Pontianak selanjutnya menyusuri sungai dan masuk ke Kota Sambas. Bertempat apa adanya ditengah belantara, mendirikan pondok yang sangat sederhana untuk memberikan pelayanan kesehatan, pendidikan hingga latihan ketrampilan ke warga tanpa bedakan suku, agama ras maupun golongan.
FAHROZI - Sambas
Kongregasi Fransiskanes Sambas (KFS) berasal dari Kongregasi Fransiskanes Peniten Rekolektine yang berkedudukan di Etten Leur Belanda yang didirikan Muder Marie Joseph Raymakers. Kongregasi ini berstatus Keuskupan (Diosesan ) yang ada di wilayah Keuskupan Breda. Pada 1924 mengutus enam suster misionarisnya pertama ke Indonesia yang saat itu masih Hindia Belanda.
Pada 11 Juni 1924, enam suster misionaris itu adalah Zr Muder Sophie, Zr Leontine, Zr Elizabeth, Zr Rosa, Zr Eudoxia dan Zr Aquina, kali pertama menginjakkan kaki di Kota Sambas. Setelah melakukan perjalanan dengan kapal dari Negara Belanda untuk mewartakan Injil bagi Umat Kristiani. Tak hanya itu, banyak aksi dan karya yang dilakukan enam suster saat di Kota Sambas. Kisah kiprah enam Suster Misionaris dari Belanda saat di Sambas diceritakan Sr. Yudith KFS dan Sr. Jeanne Marie KFS.
Beberapa jam setelah ketibaannya di Kota Sambas. Bukan dimanfaatkan untuk beristirahat. Namun kegiatan melayani masyarakat langsung dilakukan. Diantaranya memberikan pelayanan kesehatan bagi warga yang memerlukan, termasuk mengumpulkan beberapa wanita yang ditahun itu banyak yang tak bersekolah, untuk diberikan pelatihan keterampilan. Mulai dari menjahit, memasak hingga lainnya, termasuk mengajari bagaimana nanti jika menjadi ibu rumah tangga bagi mereka yang saat itu belum menikah.
“Membuat pondok sederhana untuk melayani orang sakit yang memerlukan pengobatan, sebagai tempat untuk melatih dan belajar bagi anak-anak kecil, termasuk mengumpulkan para wanita untuk mendapatkan keterampilan menjahit, memasak hingga lainnya. Saat itu, para Suster yang tiba di Sambas, juga belum ada tempat untuk menginap, jadi mereka sementara menumpang di gedung Kepastoran kemudian pindah ke bangunan Biara meski saat itu belum selesai sepenuhnya,” kata Sr. Yudith KFS.
Seiring berjalannya waktu, kegiatan melayani dibidang kesehatan yang dilakukan para suster tersebut semakin berkembang dan dikenal masyarakat. Bahkan, Sultan Sambas dimasa itu, pernah melakukan perawatan kesehatan, kemudian masyarakat pada umumnya juga banyak mendapatkan pelayanan kesehatan. “Ada Sultan Sambas dimasa itu, juga pernah mendapatkan pelayanan kesehatan dari para Suster. Begitu juga masyarakat pada umumnya, juga banyak yang mendapatkan layanan kesehatan, sehingga apa yang dilakukan tak dibatasi agama, suku maupun ras,” kata Sr. Jeanne Marie KFS.
Pelayanan kesehatan itupun terus berkembang, yang hingga saat ini bisa dirasakan manfaatnya oleh masyarakat luas. Salah satu yang bisa dilihat adanya Rumah Sakit Elizabeth, yang merupakan rumah sakit pertama di Kota Sambas saat itu. Termasuk munculnya sejumlah klinik kesehatan yang diantaranya ada di Pemangkat dan beberapa wilayah lain.
Dibidang pendidikan, berawal dari pondok sederhana tempat mengumpulkan anak-anak untuk dilatih dan belajar. Serta para wanita mendapatkan keterampilan. Apa yang dirintis para suster yang datang dari Belanda, berkembang. Salah satunya adanya sekolah dibawah naungan Yayasan Amal dan Kurban atau yang dikenal dengan Yayasan Amkur. Mulai dari TK hingga SMA saat ini masih ada dan terus berkembang dan sudah tersebar hingga dibanyak daerah di Kalimantan Barat hingga lainnya di Indonesia.
Dalam perjalanannya, pelayanan di bidang pendidikan yang dilakukan para Suster dari Belanda. Juga menyiapkan bangunan asrama, karena pada zaman itu akses jalan masih sulit untuk ke sejumlah desa di Kabupaten Sambas. Sehingga jalur transportasi sungai menjadi andalan. Ini dilakukan agar pelajar yang bersekolah di Amkur bisa melakukan proses belajar dengan tenang, karena tak harus pulang ke rumah usai belajar, karena jarak dan medannya cukup sulit.
Bahkan, bidang pendidikan yang benar-benar dilakukan pada waktu itu. Banyak diantara lulusan atau alumni Sekolah Amkur di Sambas berhasil, contohnya adalah Bupati Sambas 2011-2016 Juliarti Djuhardi Alwi, Bupati Landak 2017-2022 Karolin Margret. Kemudian masih banyak lagi termasuk Anggota DPRD Kabupaten Sambas dari PKB yakni Yakob Pujana. “Dalam memajukan pendidikan, para suster waktu itu tak membedakan suku, agama, ras,” kata Sr. Jeanne Marie KFS.
Semangat para suster-suster dari Belanda inilah, yang terus dibawa dan ditanamkan oleh para suster yang ada di KFS. Bagaimana peduli dan memberikan perhatian kepada masyarakat kecil tanpa membedakan suku, agama dan ras. “Nilai-nilai itulah yang ditanamkan para suster, yang itu kami lakukan sampai sekarang, kami melayani tanpa memandang suku agama maupun ras,” kata Sr. Yudith KFS.
Bak sebutir gandum, berbuah limpah yang mengibaratkan sebutir gandum, dari beberapa suster yang merupakan perintis. Berbuah limpah, sekarang berkembang menjadi banyak baik dari jumlah, karya dan yang ditorehkan, sampai sekarang masih bisa dilihat dan dinikmati.
Kemudian dari para suster misionaris dari Belanda yang datang secara bertahap sebanyak 51 orang, saat ini jumlah suster yang ada di KFS berjumlah dua ratusan orang yang terus menanamkan nilai-nilai yang sudah diajarkan pada perintis.(***)
Editor : A'an