Merantau dan menuntut ilmu sejak kecil menjadi bagian hidup para santri. Termasuk anak-anak dari Kalimantan Barat, berangkat menuju pesantren di Pulau Jawa. Kapal pun menjadi alat transportasi penting bagi mereka.
Ramses L Tobing, Pontianak
SUDAH dua generasi di keluarga Erna yang berangkat ke tanah jawa untuk menuntut dan memperdalam ilmu pesantren di Pulau Madura, Jawa Timur. Dan, KM Lawit atau Bukit Raya pun menjadi sahabat mereka sejak belasan tahun silam.
"Saya ke Madura itu dari sebelum menikah. Usia belasan tahun. Sekarang sudah hampir 50 tahun usia saya. Ya, bolak-balik Madura-Pontianak pakai kapal Pelni," ujarnya.
Pilihan menggunakan kapal karena biaya lebih murah dibandingkan pesawat. Bagi santri yang berasal dari keluarga dengan anggaran terbatas, kapal laut bisa menjadi pilihan yang lebih ekonomis. Hanya saja perjalanannya lebih panjang. Namun, bagi Erna tidak masalah. Bahkan, dia menikmati perjalanan menggunakan kapal. Sebab, di atas kapal dia bisa bertemu dengan berbagai macam orang dan mendengar cerita mereka.
Lalu selama beberapa hari di kapal, santri biasanya saling berbagi cerita satu dengan lainnya. Mulai dari rencana, harapan dan kekhawatiran saat mondok di tanah Jawa, sembari menikmati angin laut, ombak yang menggulung, dan langit malam yang menemani perjalanan.
Bagi Erna suasana itu sebagai pembedanya. Ia bahkan masih ingat suasana menggunakan kapal. Para santri sudah berkumpul di pelabuhan bila musim liburan tiba, atau sebaliknya. Saat harus kembali lagi ke pondok. Pelabuhan dipenuhi keramaian penumpang yang membawa berbagai macam barang. Ada yang hendak pulang kampung, berlibur, atau sekadar mencoba pengalaman baru mengarungi lautan.
Erna terkadang rindu dengan suasana itu. Masa-masa dimana bersama santri lainnya berangkat ke kampung atau kembali ke mondok di tanah Jawa. Karena itu meski tidak lagi mondok di Jawa, ia tetap menggunakan kapal untuk berangkat kesana. Bahkan, ketika ia sudah menikah dan punya anak. Rutinitasnya bolak balik dari Pontianak ke Tanah Jawa tetap menggunakan kapal.
Kini, anak-anak juga melakoni hal yang sama dengan Erna. "Anak saya juga mondok di Madura," katanya.
Begitu juga yang dialami Siti Latifah. Warga Gang Ilham, Nipah Kuning Dalam, Kecamatan Pontianak Barat. Anak laki-lakinya berusia 15 tahun juga mondok di Tanah Jawa. Anak sulung dari tiga bersaudara. Berangkat ke Tanah Jawa juga menggunakan kapal. Busthomy namanya. Mondok di Pesantren Lirboyo Kediri, Jawa Timur.
"Karena pertama kali jadi ditemani, setelah terbiasa baru bisa sendiri atau bareng teman-temannya yang sama mondok di Jawa," kata wanita berusia 32 tahun ini.
Bagi Siti memilih kapal tak semata-mata karena akomodasi lebih murah dibandingkan kapal, tetapi bagasi yang lebih banyak. Sebab kapal laut seringkali memberikan kemudahan dalam membawa barang bawaan yang lebih banyak tanpa biaya tambahan yang besar. Ini penting bagi santri yang membawa banyak barang pribadi atau perlengkapan belajar. Apalagi jika perjalanan perdana. Biasanya Santri membawa bekal yang lebih banyak.
Alasan lainnya, dengan naik kapal laut, penumpang tidak harus terburu-buru. Penumpang bisa menyesuaikan jadwal atau dengan kebutuhan santri. Kemudian soal konektivitas juga. Biasanya kapal laut menyediakan rute langsung ke tujuan tertentu di Jawa yang lebih dekat dengan pesantren atau sekolah yang dituju.
"Biasanya dengan rute pesawat terbang memerlukan tambahan perjalanan darat," kata Siti.
Siti bercerita di awal perjalanan, sang anak penuh antusias, walau sebelumnya sempat ragu dan sedih karena harus berpisah jauh dari orangtua.
"Saya ingatkan anak untuk tetap bersemangat karena di balik tantangan itu, ada ilmu dan pengalaman berharga yang menanti," kata Siti.
Kepala Cabang PT Pelni Pontianak Doni Romadoni mengatakan kapal memang menjadi pilihan bagi santri yang melakukan perjalanan dari Pontianak ke Jawa dengan tujuan masuk ke pondok pesantren.
Kapal laut menjadi pilihan utama tidak hanya karena harga yang terjangkau, dan membawa barang lebih leluasa. "Kebanyakan memang santri-santri yang ingin kembali ke pondok atau sebaliknya, kapal laut menjadi pilihan utama untuk transportasinya," kata Doni di Pontianak, baru-baru ini.
Menurut Doni keberadaan kapal laut dari Pelni membantu akses bagi anak-anak yang ingin menempuh studi ke luar Kalbar, dengan akomodasi yang lebih terjangkau. Termasuk para santri. Apalagi kata Doni, tak sedikit santri-santri asal Kalimantan Barat yang masuk pondok, baik di Pulau Madura, maupun Jawa Timur.
"Jadi dengan ada kapal laut pelni, masyarakat lebih terbantukan, karena dari sisi tarif lebih terjangkau namun sisi kenyamanan penumpang tetap diprioritaskan," jelas Doni.
Doni a juga menambahkan bahwa PT Pelni berkomitmen untuk terus meningkatkan kualitas pelayanan, termasuk memastikan keamanan dan kenyamanan selama perjalanan, seperti yang dilakukan para santri. Sebagai contoh dari sisi keselamatan pelayaran.
Lanjut Doni, alat keselamatan yang disiapkan pun secara jumlah atau daya tampung lebih banyak dari penumpang. Mulai dari jaket pelampung, lalu sekoci. Terbaru alat keselamatannya Marine Evacuation System (MES) di atas kapal penumpang.
Sebagai informasi MES adalah sistem keselamatan di kapal yang dirancang untuk memfasilitasi evakuasi penumpang dan kru dengan cepat dan aman dalam keadaan darurat. MES biasanya terdiri dari seluncuran evakuasi yang dapat diembuskan. Pada situasi darurat, seperti kebakaran atau kapal yang tenggelam, MES memungkinkan penumpang dan kru untuk segera meninggalkan kapal.
"Jadi model seluncuran dari atas kapal dan langsung ke air. Nanti di air ada sekoci yang berukuran besar sehingga bisa menampung dalam jumlah besar," jelas Doni.
Kemudian dari sisi tiket, saat ini jauh lebih mudah. Penumpang dapat membeli tiket secara online, baik melalui aplikasi PELNI Mobile Apps dan situs web resmi PELNI, maupun melalui aplikasi mobile banking perbankan. Aplikasi ini memungkinkan pelanggan untuk memeriksa rute, jadwal kapal, dan memesan tiket dengan mudah.
"Jadi sekarang jauh lebih mudah," ujar Doni.
Soal penumpang, rata-rata 400 orang untuk sekali jalan. Saat libur sekolah bisa mencapai 800 orang, bahkan bisa 1.000 orang lebih untuk sekali jalan saat liburan lebaran. Terkait dengan rute, mulai dari Semarang, Serasan, Tanjung Pandan, Surabaya, Tanjung Priok, Midai, Natuna, Tarempa, Letung, Kijang, dan Belinyu. Kapal yang dimiliki, KM Lawit dan KM Bukit Raya.
"Jadi ke pulau-pulau terluar masuk dalam rute kapal," kata Doni. (*)
Editor : A'an