Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Hari Ayah Nasional: Penjaga Harapan dan Inspirasi Keluarga

A'an • Minggu, 10 November 2024 | 18:12 WIB
Ilustrasi Hari Ayah Nasional.
Ilustrasi Hari Ayah Nasional.

12 November menjadi momen sakral bagi sang pemilik nama "AYAH". Momen tersebut diperingati sebagai Hari Ayah Nasional dalam kalender penanggalan Indonesia. Memang terdengar klise, mengingat sudah ada Hari Ibu sebelumnya. Namun kisah heroik perjuangan sosok Ayah, yang berjuang tanpa pamrih disaat bahagia, susah, sedih, terpuruk, akan selalu dikenang di hati anak-anaknya. Seperti apa sosok Ayah dalam diri Parmin, Buruh Pasar yang sudah berusia uzur ini ?

DENY HAMDANI, PONTIANAK

MASIH ingat lirik lagu, "Ayah. Engkaulah nafasku. Yang menjaga di dalam hidupku. Kau ajarkan aku menjadi yang terbaik. Kau tak pernah lelah. Sebagai penopang dalam hidupku. Kau berikan aku semua yang terindah. Aku hanya memanggilmu Ayahhhh. Di saat ku kehilangan arah. Aku hanya mengingatmu Ayahhhh. Jika aku tlah jauh darimu. Kau tak pernah lelah. Sebagai penopang dalam hidupku. Kau berikan aku semua yang terindah. Aku hanya memanggilmu Ayah," bait lagu yang dibawakan Ifan Seventeen, Band terkenal Indonesia, cukup mengena 

Bagi banyak anak, lirik lagu tersebut sebagai ungkapan cinta dan penghargaan seorang anak terhadap Ayahnya. Setiap bait liriknya menyentuh hati. Ada kalimat getaran jiwa sekaligus menggambarkan betapa besarnya pengaruh Ayah dalam kehidupan anak-anaknya. Lirik lagu ini juga mencerminkan perasaan kerinduan, kasih sayang, dan tulus untuk sosok Ayah saat menjadi tulang punggung anak-anaknya.

Dalam penggalan lirik lagu tersebut juga tercerminkan perasaan sejati terhadap sosok Ayah. Ini mungkin menjadi pengakuan atas dedikasi, cinta, dan pengorbanan Ayah saat bertugas di dunia membimbing anak-anaknya menjalani kehidupan. Lirik lagu "Ayah" mengingatkan semua pentingnya merayakan dan menghormati peran Ayah dalam keluarga, dan masyarakat.

Salah satu kisah "hero" patut dicontoh, bagaimana Parmin(56), seorang Ayah terbiasa dengan ritme hidup yang menuntut fisik dan mental. Setiap subuh, ketika sebagian besar orang masih terlelap, ia sudah harus berangkat ke pasar di Sungai Raya. Di sana, Pamin bekerja membantu bongkar muat barang, menyusun, hingga menjaga kios.

Matahari baru saja terbit ketika Parmin sudah mulai mengangkat karung-karung berat, dan tak jarang ia baru bisa beristirahat sejenak ketika matahari sudah tenggelam. Hanya untuk kembali lagi esok hari. "Saya hanya ingin anak-anak saya punya masa depan lebih baik, tidak seperti saya," ucap Parmin dengan nada lembut namun penuh tekad. "Biarlah saya yang lelah, asal mereka bisa sekolah dan meraih cita-cita mereka," timpal Parmin Kembali.

Sejak muda, Parmin sudah berkomitmen bekerja keras demi menyekolahkan anak-anaknya hingga ke perguruan tinggi. Meski penghasilan terbatas, Parmin tak pernah ragu menyisihkan sebagian dari upahnya demi biaya pendidikan. Dia ingin ketiga anaknya bisa menjadi sarjana dan berguna bagi bangsa dan negara.

Anak-anak Parmin, masing-masing berusia 20, 17, dan 14 tahun, memahami perjuangan sang ayah. Mereka kerap melihat Parmin pulang dalam keadaan lelah, namun tetap berusaha memberikan senyuman dan waktu bagi keluarga. Setiap malam, meski hanya sebentar, Parmin selalu menyempatkan diri untuk mengobrol dan menanyakan kabar sekolah mereka. "Kadang bapak bilang, beliau tak bisa bantu banyak soal pelajaran, tapi bapak selalu ingetin kami untuk tidak menyerah," ujar Siti, anak sulung Parmin yang kini duduk di bangku kuliah.

Parmin, sosok Ayah yang tanpa pamrih memberikan segala yang mereka punya demi melihat anak-anak mereka sukses. Pengorbanan dan cinta tak terucap dari seorang ayah adalah fondasi yang membuat semuanya mampu berdiri tegak, berani bermimpi, dan melangkah maju. Meskipun Parmin mungkin hanya sekadar buruh pasar di mata dunia, namun bagi anak-anaknya, ia adalah pahlawan tak tergantikan.

Cerita lainnya dating dari Almarhum Ahmad, warga desa terpencil di Desa Kubu, Kecamatan Kubu, Kabupaten Kubu Raya yang telah berjuang sepanjang hidupnya untuk ke-2 anak-anaknya.

Sejak anaknya masih orok hingga dewasa, Ahmad, seorang pria sederhana telah berjuang tanpa henti demi masa depan lebih baik. Dia telah bekerja keras sebagai pekerja serabutan sepanjang hidupnya. Terikat dengan sinar matahari panas dan keringat mengucur, sudah menjadi bagian hidupnya.

"Namun, kerja keras saya berbuah hasil. Ke empat anak saya, sudah mapan sekarang. Dari menjadi guru, sampai bekerja di perusahaan besar di Jakarta. Bangga rasanya, mau cerita takut Riya. Tetapi bagi saya, anak-anak adalah investasi masa depan, meski saya harus menderita sejak muda," ucap pria paruh baya ini bercerita di rumahnya.

Ahmad masih ingat, ketika masih berusia 18 atau 19 tahun di masa lalu. Di usianya yang masih sangat muda, Ahmad harus menghadapi kenyataan bahwa dia akan menjadi ayah dari seorang bayi.

Meski masalahnya sulit, dia sudah berjanji ke istrinya, untuk tidak menyerah dan bertanggung jawab akan masa depan anak-anaknya.

Dia bekerja serabutan di berbagai pekerjaan, dari tukang kayu, buruh pabrik, petani, nelayan, dan berdagang hanya untuk menyediakan kebutuhan dasar bagi keluarganya.

Meski hidup serba kekurangan, Ahmad tidak pernah melepaskan impiannya memberikan pendidikan yang baik bagi keempat anaknya. Dia meluangkan waktu, tenaga, penghasilan, dan kadang-kadang makanan demi biaya sekolah anak-anaknya. "Sering pulang larut malam, setelah bekerja keras, terkadang ada luka di tangan dan mata lelah. Namun saya selalu memberikan dukungan dan semangat kepada kami, bahkan ketika situasi ekonomi keluarga sangat sulit," katanya.

Perjuangan Ahmad bukan hanya tentang mencari nafkah. Ia juga harus menjalani banyak hal sulit yang mungkin tak pernah dibayangkan siapapun. Dari tidur singkat. Makan seadanya. Hingga berkendara dengan sepeda tua yang setia menemani perjalanan hariannya.

Di waktu jeda bekerja, Ahmad sering menjadi guru bagi anak-anaknya di rumah. Meskipun pendidikannya tak terlampau tinggi, karena keterbatasan ekonomi orang tuanya, namun urusan baca tulis dan berhitung, dia cukup lihai. Ahmad mengajarkan anak-anaknya membaca, menulis, dan berhitung.

Meskipun buku-buku pelajaran adalah barang mewah di waktu itu, dia tetap berusaha memenuhinya. Dia tahu betul, pendidikan adalah kunci menuju kesuksesan. Dia tidak ingin anak-anaknya terbelenggu karena keterbatasan ekonominya.

Ahmad tidak hanya menjadi Ayah yang baik, tetapi juga seorang teman sejati. Ia selalu mendengarkan keluh kesah anak-anaknya, memberikan nasihat bijak, dan menghibur saat mereka merasa putus asa. Dia adalah tempat berlindung mereka, di saat badai kehidupan menerpa.

Saat ini, anak-anak Ahmad telah tumbuh dewasa. Mereka telah mengejar impian mereka masing-masing dan menjadi orang sukses. Mereka tahu bahwa semua pencapaian mereka adalah hasil perjuangan seorang Ayah yang tak pernah lelah bekerja.


Dan kisah Parmin dan Ahmad meyakini bahwa selalu ada jalan menuju roma. Meski terbatas, ketekunan, perjuangan tanpa lelah akan selalu membuahkan hasil memuaskan. Kini, anak-anak mereka sudah bekerja di berbagai bidang berbeda, tak mengikuti jejak ayahnya yang bermandikan lelah dan keringat. Kedua contoh orang tua ini adalah bukti hidup keberhasilan seorang Ayah yang bersedia berkorban demi masa depan anak-anaknya.(**)

Editor : A'an
#hari ayah nasional