Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Kisah Jepriadi, Sang Penggagas Rumah Baca di Perbatasan Indonesia-Malaysia di Sambas: Berawal dari Kegelisahan Banyak Anak Putus Sekolah

Miftahul Khair • Senin, 11 November 2024 | 11:35 WIB
Jepriadi bersama anak-anak Dusun Semayong yang sedang menikmati buku di Rumah Baca Semayong. Pada masa-masa awal, rumah baca ini menempati ruang tamu di rumah orang tua Jepriadi di Dusun Semayong.
Jepriadi bersama anak-anak Dusun Semayong yang sedang menikmati buku di Rumah Baca Semayong. Pada masa-masa awal, rumah baca ini menempati ruang tamu di rumah orang tua Jepriadi di Dusun Semayong.

Keberadaan Kampung Pintar Semayong Institute di Dusun Semayong berhasil menurunkan angka putus sekolah di wilayah perbatasan Indonesia-Malaysia di Kabupaten Sambas itu. Semula, tidak sedikit anak-anak yang putus sekolah dan lebih memilih bekerja di Malaysia. Tapi kini semuanya berubah, hampir 100 persen anak-anak di dusun ini bersemangat untuk sekolah. Bagaimana ceritanya? 

HERIYANTO, Sambas 

JEPRIADI Tarmiji Suaib (38), sang penggagas Kampung Pintar Semayong benar-benar gusar saat melihat minimnya minat anak-anak di kampungnya untuk melanjutkan sekolah. Bayangkan, dari 30 siswa yang lulus SD, hanya 3-4 anak yang melanjutkan ke jenjang SMP. Sebagian besar anak-anak di sana memilih bekerja di Malaysia.  

Dusun Semayong terletak Desa Sungai Kumpai, Kecamatan Teluk Keramat, Kabupaten Sambas. Dusun tempat Jepriadi tinggal ini memang berdekatan dengan wilayah Sarawak, Malaysia. Jarak Semayong ke perbatasan tak sampai satu jam perjalanan. “Karena itulah, anak-anak di sini lebih memilih menyeberang ke Malaysia untuk bekerja,” ungkap Peraih Penghargaan Satu Indonesia Award tahun 2018 itu. Penghargaan ini merupakan apresiasi bagi anak bangsa, baik  individu maupun kelompok yang memiliki kepeloporan dan idealisme untuk berbagi dengan sesama. 

Menurut Jepriadi, bekerja di Malaysia bagi anak-anak di desanya memang lebih menjanjikan ketimbang bersekolah. “Mereka bisa dapat uang lebih cepat. Sementara kalau sekolah mereka justru harus keluar uang. Dengan uang di tangan mereka bisa beli sepeda motor, handphone dan barang-barang lain yang mereka senangi,” ujar Jepriadi. 

Karena tak memiliki keterampilan dan pengetahuan yang memadai, rata-rata pekerjaan yang dilakoni adalah kerja kasar, seperti jadi buruh di perkebunan sawit, industri perkayuan, atau buruh bangunan. “Banyak yang biasanya tinggal di tengah hutan untuk menebang kayu atau bahasa di sini Nyingso,” ungkapnya.

Kabupaten Sambas berbatasan langsung dengan Sarawak, Malaysia di wilayah utara. Panjang perbatasan negara yang membentang di kabupaten pantai barat Kalbar ini mencapai 97 kilometer. Pembangunan yang pesat di Malaysia, serta minimnya lapangan pekerjaan di wilayah asal mendorong banyak warga Sambas berbondong-bondong bekerja di Negeri Jiran. Kondisi ini tak terkecuali terjadi di Dusun Semayong. 

Persoalan inilah yang melandasi Jepriadi untuk mendirikan Kampung Pintar Semayong Institute. Pada 2013, Jepriadi bersama tiga sahabatnya, Wahyudi, Asman, dan Ako Adi Saputra mendirikan komunitas pemuda, yakni Karang Taruna Tunas Harapan Bersama yang menjadi cikal bakal Kampung Pintar Semayong. Mereka berempat yang saat itu tengah mengenyam bangku kuliah merasa terpanggil untuk membuat perubahan.

“Kami berempat berinisiatif mendirikan komunitas pemuda karena prihatin dengan kondisi anak-anak di perbatasan. Jadi kami termotivasi untuk mencegah anak-anak putus sekolah dan memotivasi mereka untuk melanjutkan sekolah,” ujar Wahyudi, kakak kandung Jepriadi yang saat itu berkuliah di Fisip, Universitas Tanjungpura. 

Melalui komunitas tersebut, mereka pun membuat berbagai kegiatan. “Di akhir ujian nasional, kami kumpulkan anak-anak, baik SD, SMP maupun SMA. Kita berikan mereka motivasi mereka agar mau lanjut sekolah. Selain ke anak-anak, kita juga kumpulkan orang tua. Kita beri motivasi mereka betapa pentingnya pendidikan bagi-anak-anak mereka,” ujar Wahyudi. 

Menurut Wahyudi, kebanyakan orang tua di Desa Sungai Kumpai kurang mendukung anak-anak mereka bersekolah. Mereka beranggapan sekolah itu tidak ada gunanya. “Banyak orang tua, karena kondisi ekonomi mereka pas-pasan, mereka sebenarnya kurang tertarik menyekolahkan anak mereka tinggi-tinggi,” tambah Asman, sahabat Jepriadi.  

Dari sekitar 3000 warga Desa Sungai Kumpai, kata Asman, ada ratusan pemuda yang bekerja ke Malaysia dan putus sekolah. “Kalau kondisi ini dibiarkan terus menerus tentu semakin banyak pemuda desa yang putus sekolah,” ujarnya. 

Namun, dengan pendekatan yang ada, akhirnya dari tahun ke tahun jumlah anak-anak yang melanjutkan sekolah bisa meningkat. “Pada 2013 itu, dari awalnya anak-anak yang bisa melanjutkan ke SMP hanya 3-4 anak, bisa menjadi 20 anak,” ungkapnya. Dengan berbagai upaya, akhirnya dari tahun ke tahun, angkanya terus meningkat. 

“Yang paling terlihat adalah jumlah pemuda yang melanjutkan kuliah. Dari awalnya tidak ada yang kuliah, sekarang jadi banyak. Dari 2006-2015, ada 100 lebih yang melanjutkan kuliah dan jadi sarjana,” kata Jepriadi. 

Setelah sukses mendirikan Komunitas Pemuda Semayong, pada rentang 2016-2018, Jepriadi dan rekan-rekannya mendirikan sekolah swasta, baik SD maupun dan SMP di Dusun Semayong. Sebelumnya tidak ada SMP di kampung tersebut. “Kami Madrasah Tsanawiyah Semayong. Ini sekolah swasta,” ujarnya. 

Sebelum ada Madrasah Tsanawiyah Semayong, anak-anak yang hendak melanjutkan sekolah ke SMP harus ke luar kampung. “Dulu itu susah sekali kalau mau sekolah. Zaman saya dulu, saya harus ke kota kecamatan di Sekura, sekitar lima kilometer dari rumah. Saya ke sekolah itu harus berjalan kaki karena tidak ada kendaraan,” ujarnya. 

Kala itu, kondisi jalan berlumpur saat hujan dan melewati hutan. “Saya biasa jalan kaki bersama kawan-kawan. Harus berangkat pukul 05.00 pagi dari rumah supaya bisa tepat waktu sampai di sekolah,” tuturnya.

Jauhnya jarak dari rumah ke sekolah itu juga menjadi alasan bagi anak-anak desa untuk tidak melanjutkan pendidikan. “Itulah mengapa banyak anak malas mau sekolah,” ujarnya. 

SMP Swasta Semayong akhirnya berdiri pada 2018. Di awal-awal sekolah ini berdiri, para gurunya adalah anggota komunitas. “Saya sempat juga mengajar meski belum selesai kuliah. Tapi lama-lama semakin banyak guru, dan siswanya juga banyak.” 

Kini, sudah banyak pemuda di Semayong yang menjadi sarjana. Meski tetap ada saja pemuda desa yang merantau ke Malaysia, namun jumlahnya tidak sebanyak dulu. Sekarang mereka pun bisa memilih pekerjaan yang sesuai dengan pendidikan mereka di Malaysia. “Dengan pendidikan yang baik, pilihan pekerjaan mereka jadi lebih banyak, misalnya kerja di minimarket, perusahaan, atau jadi pemandu wisata. Banyak pula pemuda desa yang kini jadi PNS atau P3K. Saya senang sekali terjadi perubahan yang begitu drastis di desa kami,” ujar Jepriadi. 

Untuk meningkatkan literasi membaca dan menulis, Jepriadi pun menginisiasi pendirian rumah baca. Rumah baca ini diberi nama Rumah Baca Semayong. Keinginan ini muncul karena sejak SD hingga kuliah belum ada perpustakaan di Kampung Semayong. Alhasil, minat membaca pun menjadi rendah. “Karena itu, untuk melengkapi komunitas yang sudah ada, kami pun mendirikan Rumah Baca Semayong,” ujarnya. 

“Di awal-awal itu bukunya kita kumpulkan buku buku bekas dari teman-teman kuliah. Awalnya hanya dua puluh buku,” tambahnya. 

Untuk menambah koleksi, Jepriadi pun menjalin kerja sama dengan berbagai instansi, antara lain Lembaga Pengkajian dan Studi Arus Informasi Regional (LPS-AIR), Perpustakaan Provinsi Kalbar, dan para donatur. “Kita post donasi buku, sehingga banyak yang menyumbang  dari Kota Sambas dan Pontianak. Bahkan ada yang dari luar Kalimantan seperti Palembang hingga Bandung. Mereka kirim via pos atau kurir.” 

Pada awalnya, karena belum memiliki bangunan sendiri, Rumah Baca Semayong menggunakan ruang tamu di rumah orang tua Jepriadi. Rak-rak dibuat seadanya dengan bahan kayu atau papan bekas. Biaya pendirian rumah baca ini berasal dari dana pribadi Jepriadi.

“Karena semakin banyak yang menjadi donatur buku, jumlah koleksi kami semakin banyak. Jadi ribuan buku,” ujar pria yang sangat ramah itu. 

Pada 2017, Rumah Baca Semayong terpilih menjadi salah satu peserta pada lomba perpustakaan desa tingkat nasional. Saat itu, Rumah Baca Semayong berhasil menyabet juara ketiga. Setelah itu banyak sekali bantuan yang mengalir, mulai dari buku, rak, komputer, hingga meja belajar.

“Akhirnya kami mendorong Pemerintah Desa Sungai Kumpai untuk membangun perpustakaan desa.  Saya lobi kepala desa. Akhirnya dia mau,” cerita Jepriadi, ayah dari empat anak itu. 

Sampai saat ini sudah berdiri satu bangunan perpustakaan seluas 6x10 meter dengan koleksi mencapai 3000 buku. Selain perpustaakan, bangunan ini juga menjadi markas bagi komunitas anak-anak muda Semayong.

“Di sini sering diadakan pelatihan, rapat, hingga sekadar berbagi ide dan motivasi,” katanya. 

Kepala Desa Sungai Kumpai, Gusanto mengatakan, gerakan yang telah dilakukan Jepriadi bersama rekan-rekannya telah mengaktifkan semangat pendidikan di desanya.

“Banyak sekali perubahan yang telah terjadi. Paradigma orang tua yang dulunya belum mendukung pendidikan anak, sekarang berlomba lomba untuk menyekolahkan anaknya hingga ke perguruan tinggi.”  

Gusanto mengaku sangat mendukung semua kegiatan di Rumah Baca Semayong. Pihaknya bahkan menganggarkan khusus pengelolaan rumah baca itu dari dana desa. “Dengan adanya rumah baca ini, anak-anak muda Desa Semayong atau mahasiswa menjadi lebih mudah dalam mencari referensi,” ujarnya. 

Selain buku-buku umum, ada pula buku-buku yang berisi pengetahuan untuk meningkatkan keterampilan masyarakat, misalnya di bidang pertanian, pembuatan kerajinan, hingga beternak ayam. Masyarakat pun banyak yang mendapatkan manfaat dari buku-buku tersebut.

Baca Juga: Honda ICON e: dan CUV e: Meriahkan Booth AHM di IMOS 2024

“Dulu belum ada masyarakat yang berternak ayam karena kurangnya pengetahuan mereka. Setelah ada bukunya, kini jadi banyak yang jadi peternak ayam,” ungkap lulusan D3 Pertanian, Universitas Tanjungpura itu. 

Kini, Jepriadi memperluas rumah baca menjadi lembaga yang tak sekadar mengoleksi buku, namun juga berupaya mengembangkan berbagai kemampuan pemuda desa. Itulah Kampung Pintar Semayong Institute. “Kita sudah punya bangunan yang memadai dan juga koleksi ribuan buku. Yang jadi PR berikutnya adalah bagaimana ini terus merangsang pemuda-pemuda di sini untuk aktif mengelolanya,”ujar pria yang kini jadi pegiat UMKM itu. 

Jepriadi berharap gerakan ini terus berlanjut hingga di masa mendatang. Dengan pendidikan, kata Jepriadi, wajah Desa Sungai Kumpai bisa lebih terang. “Karena kita yakin dengan pendidikan kita bisa mengubah status sosial masyarakat. Pendidikan adalah upaya kita membangun peradaban,” tutup suami dari Elly Sartika itu. (*)

Editor : Miftahul Khair
#rumah baca #perbatasan #indonesia-malaysia #sambas #Kampung Pintar