Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Selebrasi Festival Tunas Bahasa Ibu

A'an • Selasa, 10 Desember 2024 | 11:06 WIB

 

FESTIVAL: Seorang siswa nyanyikan lagu  berbahasa Dayak Hibun pada Selebrasi Festival Tunas Bahasa Ibu Tingkat Provinsi Kalimantan, Senin (9/12).
FESTIVAL: Seorang siswa nyanyikan lagu  berbahasa Dayak Hibun pada Selebrasi Festival Tunas Bahasa Ibu Tingkat Provinsi Kalimantan, Senin (9/12).

Tampilkan Lagu Berbahasa Dayak Hibun

Lagu dan Dongeng berbahasa Dayak Hibun yang disajikan pada Selebrasi Festival Tunas Bahasa Ibu Tingkat Provinsi Kalimantan sukses menarik perhatian peserta yang hadir, Senin (9/12). Acara ini juga menampilkan pantun dan gendang (Tundang), serta dongeng berbahasa Melayu.  

 

MARSITA RIANDINI, Pontianak

 

SELEBRASI Festival Tunas Bahasa Ibu yang diselenggarakan ini bukan hanya menjadi wadah merayakan keberagaman bahasa dan sastra daerah, tetapi juga menanamkan kebanggaan dan kecintaan terhadap bahasa ibu atau bahasa daerah, khususnya kepada generasi muda di Kalimantan Barat.

Tahun 2024, Balai Bahasa Kalbar merevitalisasi 2 bahasa daerah, yaitu Melayu (Kubu Raya dan Pontianak), dan bahasa HIbun (Sanggau). Revitalisasi bahasa daerah merupakan upaya yang sangat penting untuk menjaga keberagaman budaya Indonesia.

Plh Kepala Balai Bahasa Kalbar, Gulana Hadi Prayitno  mengatakan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa telah melakukan berbagai upaya untuk mencapai tujuan tersebut. Namun, masih banyak tantangan yang harus dihadapi. Oleh karena itu, diperlukan kerjasama dari semua pihak untuk memastikan keberlangsungan bahasa daerah di Indonesia, khususnya di Kalbar.

Selama beberapa tahun terakhir, upaya yang lebih terstruktur dan sistematis dilakukan oleh Badan Bahasa dalam proses Revitalisasi Bahasa Daerah.

Kegiatan ini merupakan amanat UU no 24 Tahun 2009 ttg Bendera, Bahasa, Lambang Negara, dan Lagu Kebangsaan. Kegiatan ini merupakan program yang dilaksanakan BPPB dan berjalan secara masif di 30 balai/kantor bahasa diseluruh indoenesia.

"Untuk sampai pada acara hari ini, kita telah melalui berbagai tahapan, mulai dari Koordinasi dengan Pemda, Diskusi Kelompok Terumpun (DKT), Pelatihan Guru Utama, Pengimbasan, Pemantauan dan Evaluasi, serta puncaknya pada Festival Tunas Bahasa Ibu. Kemudian memberikan apresiasi kepada siswa dan guru peserta Revitalisasi Bahasa Daerah tahun 2024," katanya.

Tujuan revitalisasi, untuk melestarikan bahasa daerah. Menjaga agar bahasa daerah tetap hidup dan digunakan dalam kehidupan sehari-hari, meningkatkan penggunaan bahasa daerah, serta mendorong masyarakat untuk lebih sering menggunakan bahasa daerah dalam berbagai kesempatan.

"Mencegah kepunahan bahasa daerah dengan memastikan agar bahasa daerah tetap hidup dan digunakan oleh generasi mendatang Menguatkan identitas budaya, memperkuat identitas budaya daerah melalui pelestarian bahasa daerah," ujarnya.

Program revitalisasi dilakukan dengan pemetaan bahasa daerah yang terancam punah dan menganalisis tingkat vitalitasnya, kemudian  Pengembangan bahan ajar, pelatihan guru master yang akan mengimbaskan. Lomba dan Festival Bahasa dan Sastra Daerah, Pembelajaran Berbasis Seni, dan Budaya. Melibatkan aspek seni, dan budaya dalam pembelajaran bahasa daerah.

"Pendampingan berkelanjutan, yaitu memberikan pendampingan kepada masyarakat, komuitas, dan guru dalam upaya revitalisasi bahasa daerah. Melanjutkan program yang sudah berjalan di tahun berikutnya, dan menambah jumlah bahasa yang terlibat. Kerja sama dengan pemerintah daerah membangun kerjas ama dengan pemerintah daerah untuk mendukung program revitalisasi," jelasnya.

Harapannya, masyarakat semakin sadar akan pentingnya melestarikan bahasa daerah. Bertambahnya jumlah penutur bahasa daerah, dan terjadi peningkatan jumlah penutur bahasa daerah, terutama di kalangan generasi muda.

Terbentuknya komunitas penutur bahasa daerah, muncul komunitas-komunitas yang aktif dalam melestarikan bahasa daerah. "Tersedianya berbagai sumber belajar bahasa daerah, tersedia berbagai bahan ajar dan media pembelajaran bahasa daerah, yang berasal dari penyusunan modul bahan ajar," tambahnya.

Tantangan yang dihadapi kurangnya minat generasi muda. Generasi muda cenderung lebih tertarik menggunakan bahasa Indonesia atau bahasa asing. Kurangnya dukungan dari pemerintah daerah.  Beberapa daerah belum memberikan dukungan yang maksimal terhadap program revitalisasi. Kurangnya tenaga ahli, dan terbatasnya jumlah tenaga ahli di bidang bahasa daerah.

Gulana mengatakan, pesan Kepala Badan agar saat FTBI Kalbar dapat mengirim perwakilan dari bahasa Melayu dan Hibun ke FTBI tingkat nasional.

"Kami berharap dan terus berusaha, pada TA 2025 lebih banyak bahasa dan daerah yang dapat terlibat dalam proses Selebrasi FTBI Tingkat Provinsi sehingga apa yang diamanatkan oleh UU dapat tercapai dengan lebih baik lagi," jelasnya.(*)

Editor : A'an
#Festival tunas bahasa ibu