Di usia yang tak muda lagi, H Abdul Syukur Mustafa, seorang qari asal Pontianak, terus menjadi sosok inspiratif dalam dakwah Al-Quran.
Dikenal dengan sapaan Pak Syukur, ia mengabdikan hidupnya untuk belajar dan mengajarkan Al-Quran.
Usia bukan halangan baginya, bahkan menjadi saksi kegigihannya berkeliling dari masjid ke masjid setiap pagi selepas subuh hingga malam.
Pak Syukur mengajarkan berbagai aspek ilmu Al-Quran, seperti tajwid, tilawah, dan fashohah, kepada jamaah yang tersebar di seluruh Kota Pontianak.
Aktivitas ini sering membuatnya baru kembali ke rumah menjelang tengah malam.
Perjalanan Syukur dalam mendalami Al-Quran dimulai sejak kecil. Di tengah kesibukan membantu orang tuanya berjualan kelapa di Parit Besar, Pontianak, ia belajar dengan Ustadz M. Sood Abdul Samad, seorang guru tilawah yang terkemuka. Bakat dan suaranya yang khas menarik perhatian gurunya, yang kerap melibatkan Syukur dalam berbagai kegiatan, termasuk lomba MTQ.
Sejak usia anak-anak hingga dewasa, Syukur telah mengumpulkan banyak prestasi di berbagai kompetisi MTQ. Bahkan, di usia senjanya, ia masih mampu meraih juara pertama dalam kategori usia emas. Selain Ustadz Sood, Pak Syukur juga memperdalam ilmu Al-Quran dengan Ustadz H. Ahmad Abdul Kadir dan Ustadz H. Fauzi Arsyad serta guru-guru lain di Kota Pontianak.
Baginya, belajar dan mengajarkan Al-Quran bukan sekadar tugas, tetapi sudah menjadi bagian dari hidup.
“Sebaik-baiknya orang adalah yang belajar dan mengajarkan Al-Quran,” ucapnya, menggambarkan dedikasi yang tak pernah pudar.
Pak Syukur adalah bukti nyata bahwa pengabdian pada ilmu dan dakwah tak mengenal batas usia.**
Editor : Salman Busrah