Pebulu tangkis tunggal putri Ratchanok Intanon berpacu dengan kondisi fisik di usianya yang menapaki 30 tahun pada 2025. Setelah melalui siklus juara lima tahunan di Indonesia, kini atlet Thailand tersebut tertantang menjaga kondisinya agar bisa terus bermain hingga Olimpiade Los Angeles 2028.
RIZKY AHMAD FAUZI, Jakarta
DENGAN kalungan medali yang melingkar di lehernya, Ratchanok Intanon memperagakan gaya pose tertidur yang dalam beberapa pertandingan selalu dilakukannya. Termasuk di Indonesia Masters yang berakhir pada 26 Januari lalu.
Gaya itu yang dia lakukan setelah mengalahkan Sim Yu-jin (21-19, 21-18) pada partai final. Torehan prestasi itu merupakan siklus juara lima tahunan di ajang bergengsi yang berlangsung di tanah air. Intanon meraih gelar juara di Indonesia sejak usianya memasuki 15 tahun. Tepatnya pada Indonesia Masters Grand Prix Gold pada 2010.
Di usianya yang masih terbilang belia ketika itu, Intanon yang juara di sektor tunggal putri bersanding dengan para legenda badminton Indonesia yang menduduki podium tertinggi seperti Taufik Hidayat di tunggal putra, Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir di ganda campuran, serta Mohammad Ahsan/Bona Septano di sektor ganda putra.
Selain 2010, Intanon menyabet juara di Indonesia Open 2015 serta Indonesia Masters edisi 2020 dan 2025. Bagi dia, bertanding di RI, khususnya Istora, sudah bukan barang baru. Bahkan terbilang terlalu sering. ”Sejak saya 15 tahun dan sekarang saya akan berusia 30 tahun, jadi saya pikir itu luar biasa,” tuturnya, lantas tersenyum.
Menurut Intanon, ada hal berbeda baginya ketika bermain di hadapan publik Istora ketimbang di negara lain. Salah satu yang terasa baginya adalah dukungan dan sorakan penonton menggema hampir di setiap sudut. Hal itu menjadi pendongkrak semangatnya.
”Saya adalah orang yang sangat suka bermain di Istora. Itu sebabnya hasil saya di sini sangat bagus, saya tidak tahu kenapa. Tapi, saya rasa ada sesuatu yang spesial di sini untuk saya. Mungkin sesuatu yang tidak bisa kita lihat membantu saya di sini,” ucap peraih medali emas Badminton Asia Championships 2015 itu.
Kini ada hal lain yang menjadi fokusnya ketika bertanding selain menampilkan performa terbaik. Yaitu, menjaga agar tidak cedera. Ya, di usianya sekarang dan bermain di sektor tunggal, cedera menjadi momok paling menakutkan.
Dia juga harus menjaga kondisi fisik. Hal itu terlihat ketika berhasil meraih juara di Indonesia Masters Super 500, sepekan setelahnya Intanon harus gugur di babak 16 besar Thailand Masters Super 300 usai ditundukkan juniornya, Pitchamon Opatniputh, atlet berusia 18 tahun.
Belum Ada Rencana Pensiun
Tepat pada 5 Februari nanti, Intanon menapaki usia 30 tahun. Namun, ambisinya sebagai pebulu tangkis belumlah pudar. Masih banyak misi dan harapan yang ingin diwujudkannya. Dia pun masih belum punya rencana pensiun. ”Saya belum ada rencana (pensiun). Saya mau lihat dua tahun lagi, untuk Asian Games dulu,” ucapnya.
Di tunggal putri, pemain lain seperti atlet Tiongkok He Bing Jao (27) dan pebulu tangkis Jepang Aya Ohori (28) yang secara usia lebih muda sudah lebih dulu memutuskan pensiun.
Intanon kini lebih sering bersaing dengan pemain yang secara usia jauh di bawahnya ketika bertanding di suatu turnamen. Seperti yang terjadi di Thailand Masters 2025. Bahkan, pemain nomor satu tunggal putri asal Korea Selatan An Se-young berumur 23 tahun.
Incar Medali Asian Games 2026
Intanon ingin melewati step-by-step. Fokus utamanya saat ini adalah bisa berlaga di Asian Games 2026 yang berlangsung di Aichi-Nagoya, Jepang. Dia belum pernah meraih medali perorangan pada ajang multievent itu. Prestasi terbaiknya adalah perak nomor tim putri pada edisi Hangzhou, Tiongkok, 2010 dan perunggu di edisi Jakarta 2018.
”Setelah itu (Asian Games), jika kondisi saya dan lainnya berjalan baik, saya akan lanjut untuk kualifikasi ke Los Angeles 2028 (Olimpiade),” katanya.
Jika tidak ada kendala, Intanon akan menjalani Olimpiade kelimanya. Di ajang multievent terbesar sejagat itu, sudah empat kali dia berlaga. Namun, belum sekali pun membawa pulang medali. Di setiap game yang dijalani, Intanon mengaku masih selalu ingin meraih kemenangan. Karena itu, dia kerap menyembunyikan ketakutan. Baik ketika melawan pemain yang jauh lebih muda ataupun kekhawatiran terjadinya sesuatu seperti cedera. ”Saya tahu saya punya kesempatan. Saya tahu tidak 100 persen. Tapi, saya berusaha datang (ke turnamen) dengan permainan saya,” ujarnya. (*/c19/dio)
Editor : Miftahul Khair