Tubuh Rara Membengkak hingga tak Bisa Buang Air Kecil
Di sudut sebuah ruangan rumah sakit di Jakarta, seorang anak perempuan berusia sekitar delapan tahun sedang menjalani transfusi darah. Parasnya sesekali seperti sedang menahan sakit, namun ia berusaha tersenyum seakan ingin meyakinkan dunia bahwa ia masih kuat.
SILVINA, Pontianak
GADIS kecil itu bernama Azzahira Prima. Kurang lebih dua tahun sudah berjuang melawan penyakit ginjal kronis yang dideritanya. Bocah asal Desa Sungai Jaga B Kecamatan Sungai Raya Kabupaten Bengkayang itu kini harus menetap di Jakarta bersama kedua orangtuanya demi kesembuhan. Rara menjalani rawat jalan di RSCM Jakarta.
Rara, begitu Azzahira biasa disapa mulai menderita sakit di awal tahun 2023. Dia tiba-tiba mengalami muntah, demam, dan tidak bisa buang air kecil. Tubuhnya mulai membengkak dan disertai rasa gatal yang tak tertahankan.
Selama beberapa hari, Rara sama sekali tidak buang air kecil, sehingga keluarganya segera membawanya ke puskesmas. Namun, setelah mendapatkan obat dari puskesmas, kondisinya tidak membaik, justru semakin lemas dan sesak.
Melihat keadaan Rara yang semakin memburuk, orang tuanya membawa Rara ke rumah sakit terdekat. Sesampainya di rumah sakit, sesaknya semakin parah. Dokter menemukan bahwa paru-parunya telah dipenuhi banyak cairan, dan terjadi pembengkakan pada jantungnya.
Hanya dalam satu hari perawatan di rumah sakit, Rara harus menjalani transfusi darah sebanyak dua kantong. Namun, selesai transfusi darah yang kedua, ia mengalami gagal napas dan harus masuk ICU selama kurang lebih 14 hari.
Beberapa jam berada di ICU, Rara harus segera menjalani cuci darah menggunakan alat cuci darah dewasa sebanyak dua kali. Sejak saat itu, berat badannya sulit naik, tubuhnya lemas dan tampak pucat. Untuk mempertahankan kesehatannya, Rara harus rutin menerima suntikan setiap minggu guna menaikkan kadar hemoglobin.
Ibunda Rara, Lisa tak kuasa menahan air mata saat menceritakan bagaimana putri kecil satu-satunya itu harus menjalani berbagai prosedur medis. Rara telah menjalani cuci darah, biopsi ginjal, pemeriksaan ECO jantung, rontgen, serta USG ginjal.
Bahkan kini, ia harus rutin mendapatkan suntikan mingguan yang sayangnya tidak tercover oleh BPJS. Alhasil, Lisa dan ayah Rara harus membeli obat tersebut dengan biaya sendiri.
Lisa juga menceritakan, dari awal pengobatan sampai sekarang darah di urin 3+ belum ada penurunan. Rara sering pucat dikarenakan hemoglobinnya tidak pernah mencapai di angka normal.
"Sebagai seorang ibu, saya ingin melihat anak saya tumbuh sehat dan bahagia. Tapi, kondisi kami terbatas. Saya hanya bisa berharap ada uluran tangan dari orang-orang baik di luar sana yang mau membantu perjuangan Rara," ujar Lisa sambil menyeka air mata.
Sementara itu, dokter yang menangani Rara menyebutkan bahwa gadis malang itu harus menjalani pengobatan dan perawatan serius. Karena fungsi ginjalnya menurun, untuk orang normal berfungsi 100 persen, sementara Rara hanya 50 persen. Rara divonis CKD (penyakit ginjal kronis) stadium tiga oleh dokter.
Saat ini, Rara tidak hanya membutuhkan pengobatan medis, tetapi juga doa dan kepedulian kita semua. Mari kita bersama-sama menjadi cahaya harapan bagi Rara, agar ia bisa kembali tersenyum dan menjalani masa kecilnya dengan penuh kebahagiaan.(*)
Editor : A'an