Sungai Kakap di Kabupaten Kubu Raya mulai menunjukkan potensinya sebagai destinasi wisata yang tak sekadar menyuguhkan pemandangan indah, tapi juga pengalaman menyeluruh yang merangkul cita rasa, budaya, hingga nilai-nilai kearifan lokal.
IDIL AQSA AKBARY, Pontianak
PONTIANAK POST - Di desa wisata itu, wisatawan tak hanya diajak mencicipi makanan khas pesisir, tapi juga menyelami cerita di balik setiap sajian yang tersaji di meja. Inilah wisata gastronomi Kalimantan Barat (Kalbar), konsep perjalanan yang memadukan kekayaan kuliner, keberagaman etnis, serta toleransi antar agama dalam satu paket wisata yang otentik.
Kepala Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata Kalbar, Windy Prihastari belum lama ini mengunjungi langsung Sungai Kakap. Dalam perjalanan menyusuri sungai atau muara Kakap menuju sebuah klenteng ikonik yang berdiri megah di tengah laut, Windy mencicipi sejumlah sajian khas masyarakat setempat.
Ia menyebut pengalaman itu sebagai bentuk nyata dari kekuatan rasa yang membawa pesan mendalam. Atau wisata gastronomi.
“Ini bukan sekadar soal makanan enak, tapi soal nilai, soal cerita, dan bagaimana kuliner bisa menjadi jembatan budaya,” ujarnya.
Salah satu hidangan yang mencuri perhatian adalah bolu berendam, kue manis yang biasa hadir dalam perayaan keagamaan, serta patlau sambal udang yang memanfaatkan hasil laut segar dari perairan setempat. Setiap gigitan punya makna, setiap rasa menyimpan jejak sejarah dan budaya.
Tak hanya itu, hasil olahan seperti udang segar, ikan tenggiri, dan kerupuk laut menjadi buah tangan khas yang memperkuat identitas kuliner pesisir. Kuliner di Sungai Kakap bukan sekadar produk konsumsi, tapi juga representasi dari kehidupan masyarakat yang hidup selaras dengan alam, dan sesama.
Menariknya, pengalaman wisata di Sungai Kakap juga membawa pengunjung pada suasana spiritual, dan sosial yang harmonis. Klenteng yang berdiri di tengah laut bukan hanya destinasi religi, tapi juga simbol toleransi yang hidup di tengah masyarakat multietnis.
“Harmoni itulah yang menjadi kekuatan tersembunyi dari Sungai Kakap, menjadikannya bukan hanya layak dikunjungi, tapi juga diceritakan,” ujarnya.
Windy mengajak masyarakat, terutama generasi muda, untuk ikut menggaungkan potensi ini ke panggung yang lebih luas. Menurutnya, kekuatan digital harus dimanfaatkan secara maksimal. Konten kreatif dari anak-anak muda desa bisa menjadi senjata ampuh untuk memperkenalkan Sungai Kakap ke tingkat nasional, bahkan internasional.
“Kita punya banyak cerita yang belum tersampaikan. Tinggal bagaimana anak-anak muda bisa mengemasnya dengan cara yang menarik,” kata Windy.
Sungai Kakap telah membuktikan bahwa wisata kuliner bukan sekadar urusan lidah. Lebih dari itu, ini adalah perjalanan yang membuka mata, menyentuh hati, dan mempererat rasa.
“Ketika cita rasa, budaya, dan toleransi bertemu dalam satu ruang, maka yang tercipta adalah pengalaman wisata yang tak terlupakan. Kalbar punya potensi besar, dan Sungai Kakap adalah salah satu wajah terbaiknya,” pungkasnya.(*)
Editor : Hanif