Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Zodiak

Panggung Musikal Tanah Air Semakin Menggeliat: Tiket Terjual Habis Sejak Jauh Hari, Minat Para Kreator Pun Melonjak

Dinda Juwita • Minggu, 18 Mei 2025 | 01:59 WIB

 

MUSIKAL: Drama musikal Keluarga Cemara menjadi salah satu pertunjukan yang digandrungi penonton.
MUSIKAL: Drama musikal Keluarga Cemara menjadi salah satu pertunjukan yang digandrungi penonton.

Selama bertahun-tahun, pentas musikal di Indonesia hanya hadir sebagai pertunjukan sesekali. Itu pun terbatas panggung kecil atau skala komunitas. Namun, lima tahun belakangan, ekosistem musikal kian ”hidup”. Terutama di Jakarta. Gedung berkapasitas lebih dari 1.000 penonton terisi penuh. Bahkan, peminat mesti war ticket untuk menonton. Pasalnya, tiket sering sold out jauh sebelum pentas digelar.

DINDA JUWITA – Jakarta


PONTIANAK POST - Musikal Petualangan Sherina, Keluarga Cemara, Lutung Kasarung, dan banyak lainnya, turut menjadi titik balik industri kesenian ini. Hal itu memperlihatkan bahwa pasar Indonesia tidak hanya siap, tetapi juga haus akan hiburan yang menggabungkan akting, musik, tari, dan narasi yang kuat.

Pentas Re-Run Musikal Lutung Kasarung yang diproduksi EKI Dance Company, misalnya. Awalnya digelar empat show, tetapi karena antusiasme penonton ditambah menjadi total tujuh show mulai 22 – 25 Mei di Gallery Ciputra Artpreneur, Jakarta yang berkapasitas total 1.157 seat. Itu pun seluruh tiket sudah habis terjual 21 April lalu atau sebulan sebelum pertunjukan dihelat.

Begitu pula Musikal Bawang Merah Bawang Putih di Galeri Indonesia Kaya, Grand Indonesia Jakarta pada Sabtu (10/5) lalu. Dua kali show dan special preview satu hari sebelumnya dipenuhi penonton.

Aldafi Adnan, sutradara sekaligus pelakon musikal menuturkan, beberapa tahun belakangan, terutama pascapandemi memang industri drama musikal berkembang cukup pesat. Dalam setahun banyak produksi yang dibuat berbagai komunitas maupun lembaga.

”Dulu sebelum pandemi, pementasan minim. Setahun hanya ada satu atau dua pementasan. Sekarang dari awal sampai akhir tahun bisa belasan pementasan atau produksi,” ujarnya setelah pementasan Bawang Merah Bawang Putih di Galeri Indonesia Kaya, Jumat (9/5).

Dafi menceritakan, sebagai seorang yang bekerja di depan maupun di balik layar, dia melihat perkembangan drama musikal makin menunjukkan geliatnya. Perkembangan itu tecermin bukan hanya dari jumlah pementasan yang digelar, tetapi juga dukungan pihak-pihak terkait. Musikal tak lagi sebatas ruang ekspresi, tetapi berkembang menjadi sektor kreatif yang menjanjikan.

”Mulai banyak production house yang membuat drama musikal, contohnya Keluarga Cemara. Ekosistem drama musikal memang sedang berkembang secara pesat, yakin, dan benar,” tutur pria yang berperan sebagai Telmi Yahya dalam Geng Tilu K di Musikal Keluarga Cemara itu.

Tak hanya dari sisi penonton, minat dari para kreator pun melonjak. Banyak aktor, musisi, koreografer, dan penulis skenario yang mulai melihat musikal sebagai media ekspresi utama mereka. Meski Broadway menjadi kiblat industri ini secara global, namun berbagai pertunjukan drama musikal tanah air tetap memasukkan unsur budaya lokal dan cerita khas Indonesia. Hal itu justru menjadikan musikal Indonesia memiliki identitas yang unik.

 

Cerita Orisinal dan Budaya Lokal

Galabby Thahira, pemeran Ibu Tiri dalam musikal Bawang Merah Bawang Putih serta Emak dalam Musikal Keluarga Cemara menuturkan, justru local wisdom turut menjadi salah satu katalis yang membuat drama musikal tanah air bisa lebih ”diterima”.

”Masyarakat kita justru banyak lho yang suka dengan cerita orisinal dan budaya, jadi lebih relatable,” ucapnya. Bahasa yang dipakai di pertunjukan juga pakai bahasa sehari-hari, lalu film-film akhirnya dibuat ke panggung musikal. ”Itu semua bikin orang-orang makin tertarik. Memang butuh ’pancingan’ dulu,” lanjut perempuan yang juga pernah menimba ilmu di Broadway itu.

Namun geliat panggung musikal tak terjadi dalam ruang hampa. Dibutuhkan sebuah ekosistem yang sehat agar musikal bisa terus berkembang. Padahal, lanjut Galabby, cikal bakal industri ini sudah ada di tanah air sejak puluhan tahun silam. Dia mencontohkan kesenian ludruk maupun ketoprak yang sejatinya nenek moyang drama musikal Indonesia.

 

Musikal Keluarga Cemara, Hadir Lagi 30 Pertunjukan

Setelah sukses memikat hati puluhan ribu penonton tahun 2024, Musikal Keluarga Cemara kembali ke atas panggung. Menawarkan kisah klasik yang tetap relevan—tentang cinta, kesederhanaan, dan nilai-nilai keluarga yang hangat.

Musikal yang dikomandoi Visinema Studios, Indonesia Kaya, dan Ciputra Artpreneur itu merupakan adaptasi dari salah satu intellectual property (IP) terpopuler yang telah diangkat ke layar lebar. Serta, akan menjadi panggung musikal yang hadir selama satu bulan penuh dengan total 30 kali pertunjukan.

Keluarga Cemara, yang berakar dari serial televisi legendaris karya Arswendo Atmowiloto, dikenal sebagai kisah keluarga sederhana yang penuh makna. ”Ini bukan pengulangan dari pertunjukan tahun lalu, tapi pengembangan yang lebih dalam dan lebih artistik lagi,” ujar produser Cristian Imanuell.

Banyak sentuhan baru dan segar. Sutradara Pasha Prakasa menambahkan, ada penambahan adegan, tata artistik, hingga moving set. Video musik untuk seluruh lagu-lagunya juga akan dirilis. Tahun lalu, Musikal Keluarga Cemara berhasil menyabet Piala AMI Awards untuk kategori Album Terbaik.

”Kami semua berharap Musikal Keluarga Cemara ini menjadi katalisator semakin berkembangnya ekosistem musikal di Indonesia, yang terpenting semoga banyak keluarga yang makin bisa menikmati hiburan berkualitas,” tutur Pasha pada konferensi pers di Ciputra Artpreneur, Rabu (14/5).

 

Tontonan Libur Sekolah

Total ada 35 pelakon yang akan beradu peran. Susunan keluarga Abah dan Emak hadir dengan pemeran baru. Adegan tiap babak juga dikembangkan lebih emosional. Pertunjukan itu berlangsung pada 20 Juni - 13 Juli mendatang di Ciputra Artpreneur, Jakarta. Musikal Keluarga Cemara sengaja diadakan saat libur sekolah, sehingga anak-anak dan keluarga bisa menikmatinya bersama.

Dengan kembalinya Musikal Keluarga Cemara, dunia seni pertunjukan Indonesia mendapat suntikan semangat baru. Drama musikal lokal bukan lagi sekadar alternatif hiburan—ia telah menjadi panggung utama dalam menggambarkan kisah, budaya, dan semangat bangsa. (dee/nor)

Editor : Hanif
#indonesia #pentas musikal #budaya lokal #teater #musikal #Kreativitas #musik