Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Tradisi Bakcang Tetap Hidup, Warga Tionghoa Sungai Pinyuh Pilih Kolam Renang Demi Keamanan

Wahyu Ismir Jartha Kusuma • Senin, 2 Juni 2025 | 13:09 WIB
MANDI: Kolam Renang Goa Maria dipenuhi pengunjung dari warga Tionghoa yang melaksanakan ritual mandi Bakcang
MANDI: Kolam Renang Goa Maria dipenuhi pengunjung dari warga Tionghoa yang melaksanakan ritual mandi Bakcang

Di tengah tantangan zaman, warga Tionghoa Sungai Pinyuh membuktikan bahwa tradisi bukan sesuatu yang harus ditinggalkan, melainkan diwariskan dengan cara yang bijak dan aman.

Wahyu Ismir, Anjongan


PONTIANAK POST - Meski zaman terus berubah, semangat mempertahankan tradisi tetap menyala di kalangan warga Tionghoa Sungai Pinyuh. Salah satu bentuk nyata dari semangat itu terlihat pada perayaan Hari Bakcang, Sabtu (31/5), ketika sejumlah keluarga memilih Kolam Renang Goa Maria Anjongan sebagai lokasi pelaksanaan ritual mandi sakral.

Athian dan keluarganya bukan sedang berlibur atau menikmati akhir pekan seperti biasa. Di bawah terik matahari siang, mereka datang ke kolam bukan untuk berenang, melainkan menjalankan adat leluhur: mandi di air mengalir antara pukul 11.00 hingga 13.00 pada Hari Bakcang — waktu yang dipercaya membawa keberkahan, membersihkan diri dari pengaruh negatif, dan membuka pintu rezeki serta kesehatan.

“Sebenarnya bisa saja dilakukan di sungai, tapi kami khawatir dengan isu buaya,” ujar Athian, mengungkap alasan berpindah lokasi. Selain ancaman hewan buas, kebersihan sungai juga menjadi pertimbangan.

Tradisi mandi ini bukan sekadar rutinitas, melainkan bagian dari spiritualitas. Dalam kepercayaan Tionghoa, waktu dua jam di siang hari itu dikenal sebagai “waktu Ungsi”, momen yang diyakini paling ampuh untuk melakukan ritual pembersihan batin. Syaratnya pun jelas: air yang mengalir, bukan air diam seperti di kolam tertutup atau sumur.

Meski berpindah dari sungai ke kolam buatan, nilai dan makna ritual tetap dijaga. Tawa anak-anak yang bermain di air, suara percikan yang menyatu dengan doa-doa dalam hati, menjadi simbol bahwa budaya bisa bertransformasi tanpa kehilangan ruhnya.

“Yang penting airnya tetap mengalir. Kami tetap mandi sambil berdoa. Minta sehat, rezeki, dan dijauhkan dari hal-hal buruk,” tutur Athian sembari mengawasi anak-anaknya yang menikmati momen tersebut dengan gembira.(*)

Editor : Hanif
#Sungai Pinyuh #anjongan #GOA MARIA #Bakcang #Hari Bakcang #warga tionghoa #tradisi