Bagi Umar Patek, kopi racikannya bukan semata bisnis, tapi penanda hidup baru. David Andreasmito yang mengajaknya bekerja sama mengaku melihat keinginan kuat Umar untuk berubah sejak kali pertama mereka bertemu.
RAMADHONI CAHYA, Surabaya
KOPI Ramu racikannya memang dijual di kafe. Ada modal yang dialirkan, mulai untuk pelatihan sampai membeli mesin pengolah kopi.
Tapi, bagi Umar Patek, ini bukan soal bisnis semata. Ini juga tentang penanda hidup. ”Saya ingin membuktikan bahwa saya bisa berubah, bisa memberi manfaat,” kata Umar dalam peluncuran Kopi Ramu di Hedon Estate, Surabaya, Selasa (3/6) malam.
Bagi seorang eks narapidana teroris (napiter) seperti Umar, tak mudah membuat orang percaya bahwa dia berniat berubah. Punggungnya terus digendongi masa lalu kelam buntut keterlibatannya dalam Bom Bali I pada 2002.
Dia memang pernah menjadi salah satu teroris paling dicari pemerintah Indonesia, Australia, Filipina, dan Amerika Serikat (AS). Pemerintah AS bahkan pernah menjanjikan reward USD 1 juta bagi siapa saja yang bisa menangkap atau memberikan informasi untuk penangkapannya.
Sampai kemudian jalan itu terbuka lewat kopi yang dia suguhkan kepada David Andreasmito, seseorang yang belum lama mengenalnya ketika dokter gigi tersebut bertamu ke rumahnya di Porong, Sidoarjo, pada awal 2023. Itu pertemuan mereka yang kesekian setelah Umar yang baru keluar dari Lapas Surabaya Kelas I di Porong pada 7 Desember 2022 berkali-kali menolak bantuan dari David.
Suguhan kopi rempah racikan Umar yang resepnya diwarisi sang ibu itu memikat David. Dari sanalah ide bisnis kopi rempah mulai digarap serius. ”Sejak pertemuan pertama saya melihat ada keinginan kuat untuk menjadi lebih baik dari dalam diri Umar,” sebut David.
Berbagai Varian
Ada beragam varian kopi yang telah dihasilkan Umar selama dua tahun terakhir, termasuk kopi rempah. ”Kopi rempah ini resep dari ibu saya dan kebetulan saya dari kecil suka kopi,” tutur pria kelahiran Pemalang, Jawa Tengah, 20 Juli 1966 itu.
Begitu menyepakati tawaran David, dukungan modal juga mengalir. Seorang rekan David yang berkecimpung di dunia kopi turut membantu mewujudkan rencana itu. Mulai memberi pelatihan hingga membelikan mesin pengolah kopi senilai Rp 260 juta untuk mendukung produksi.
Baca Juga: Hari Ini Puncak Haji di Arafah, Hanya Ambulans RI Boleh Masuk Armuzna
”Pemilihan nama Ramu itu dari kebalikan nama saya. Jadi, Umar dulu meramu bom, sekarang meramu kopi,” tuturnya.
Kini racikan kopi Umar telah hadir di sejumlah titik, termasuk kafe-kafe di Banyuwangi dan Surabaya. ”Beliau menawarkan saya untuk menjual kopi di kafenya, sebagian besar menggunakan biji kopi dari Bondowoso,” ungkapnya tentang David.
Selain kopi, Umar juga menekuni fotografi makro. Objek yang dia jepret dari jarak sangat dekat dan menunjukkan detail. Mulai hewan, bunga, atau lainnya. Foto-fotonya acap kali dia unggah di akun Instagram pribadinya, @umar.potret.
”Pertama kali tertarik saat di dalam lapas, melihat tayangan televisi tentang fotografi makro menggunakan handphone dengan lensa tambahan yang dijepit di kamera belakang,” ujar dia.
Muncul Spontan
Lantas, mengapa David yang sebelumnya tak mengenal Umar sama sekali repot-repot mau membantu? Menurut pria 58 tahun itu, ide tersebut muncul secara spontan di pikirannya. Dia kemudian meminta bantuan rekannya agar dapat bertemu dengan pria yang terlahir dengan nama Hisyam itu secara langsung.
Sebuah langkah yang mendatangkan banyak pertanyaan dan kritik. Bahkan Umar sendiri keheranan. ”Dia bilang kok saya enggak takut. Saya jawab saya cuma takut sama Tuhan, bukan sama manusia,” kata David.
Ketika akhirnya tawarannya kepada Umar diterima, dia pun berfokus untuk membantu dari sisi manajemen. Sedangkan Umar berfokus meracik kopi. Skema bisnisnya, David akan membeli produk Umar dan dipasarkan melalui kafenya.
David menegaskan, tak ada niat mengambil untung. ”Semata ingin menunjukkan bahwa seseorang bisa berubah terlepas dari masa lalu yang pernah terjadi,” katanya.
Bahwa Umar bersungguh-sungguh berubah sekeluar dari penjara yang dia jalani sejak 2011–2022, mantan Kepala Densus 88 Antiteror Polri Komjen Pol Marthinus Hukom termasuk yang bisa memberikan testimoni. ”Saya masih teringat, begitu dia keluar, langsung menghubungi dan mengajak bertemu,” ucap Marthinus yang kini menjabat kepala Badan Narkotika Nasional saat hadir dalam peluncuran.
Umar mengakui masa lalunya memang kelam. ”Tapi, saya ingin sisa hidup jadi lebih baik,” ujarnya. (*/ttg)
Editor : Hanif