Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

PHK Massal Kian Mencekik, Jutaan Harapan Kerja Terancam Padam

Yolina Vanessa • Sabtu, 28 Juni 2025 | 18:28 WIB
Para generasi muda pencari kerja yang tengah berbincang dengan petugas BP3MI, di stan Job Fair Jakarta Barat, Tanjung Duren, Rabu, 4 Juni 2025.
Para generasi muda pencari kerja yang tengah berbincang dengan petugas BP3MI, di stan Job Fair Jakarta Barat, Tanjung Duren, Rabu, 4 Juni 2025.

SETIAP sentuhan mouse yang menghantarkan email lamaran, setiap baris kalimat yang tertulis di surat, bukan sekadar tinta atau data digital, melainkan seuntai asa. Menambahkan bumbu semangat akan awal yang baru dalam seutas harapan besar, bagi jutaan individu harapan itu kini harus dihadapkan dengan tembok realitas yang tinggi.

Gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) bak ombak yang tidak kunjung reda dan angka pengangguran yang terus membengkak, seolah menjadi kabar pilu bagi para pejuang rupiah di setiap sudut kota. Setiap klik "Apply", setiap lembar lamaran yang terkirim, menjadi sebuah lantunan doa. Ketidakpastian yang mencekik, tidak pernah usai di tengah tekanan ekonomi. Kisah mengenai setiap individu, yang sekuat tenaga mencoba bertahan dari rumitnya perputaran kehidupan.

Krisis yang tidak Kunjung Usai, Menjebak Jutaan Mimpi

Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) mungkin hanya terlihat sebagai deretan grafik dan tabel, tetapi dibaliknya tersimpan gambaran yang begitu muram. Meskipun perekonomian Indonesia sesekali menunjukkan secercah harapan pemulihan, jumlah angkatan kerja yang tidak terserap masihlah sangat signifikan.

Bayangkan saja, pada 2024, data terbaru BPS menunjukkan tingkat pengangguran terbuka masih merangkak tinggi, terutama di kalangan generasi muda dan lulusan baru. Mereka, yang seharusnya menjadi tulang punggung masa depan, justru harus menunda mimpi-mimpi mereka.

Sumber: olahan data Badan Pusat Statistik.
Sumber: olahan data Badan Pusat Statistik.

Meski secara signifikan data statistik BPS menunjukkan bahwa Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) dari 2024 ke 2025 menurut, akan tetapi hal ini tidak dapat menghindari bahwa para pengangguran semakin bertambah dari waktu ke waktu terlebih lagi PHK massal yang terjadi. Dikutip dari Tempo, kepala BPS menyatakan bahwa jumlah pengangguran per Februari 2025 mencapai 7,28 juta orang. Mengalami peningkatan sebanyak 3,67 juta ketika dibandingkan dengan data pada Februari 2024 lalu.

Sumber: olahan data Badan Pusat Statistik.
Sumber: olahan data Badan Pusat Statistik.

Mereka adalah wajah-wajah yang mencoba tersenyum, di balik kecemasan yang mendalam, berharap setiap lamaran yang mereka kirimkan pada akhirnya menjadi sebuah harapan yang terealisasikan. Sulit rasanya untuk tetap bertahan di tengah serbuan perputaran ekonomi yang tidak menentu, menjadikan kesempatan demi kesempatan kian memudar karena keadaan.

Wajah di Balik Statistik

Di balik setiap angka pengangguran, banyak wajah yang tidak terhitung jumlahnya. Setiap peluh menjadi saksi bisu dalam perjuangan, bagai tidak kenal lelah, tuntutan ekonomi menjadikan rintangan sulit sekali pun tidak lagi terlihat. Ferina, seorang pekerja wanita berdomisili Bekasi yang kini telah mendapat pekerjaan di daerah Jakarta. Sebelumnya, Ferina sama dengan para pejuang lainnya. Pengangguran yang menunggu peluang, mengikuti berbagai event job fair dari tahun ke tahun dengan harapan mendapatkan pekerjaan. tidak berjalan mulus, proses demi proses dilewati dengan peluh.

Kala itu dengan penuh harapan, sebagai sandwich generation yang harus membiayai keperluan keluarga. Ferina mendedikasikan bahwa ia bekerja untuk hidup, dan hidup untuk bekerja. Perjuangan Ferina melewati hujan dan panas terik matahari, tidak membuatnya menyerah begitu saja.

“Waktu saya masih nganggur sekitar tahun 2019, saya sering tuh ikut job fair Pulogadung, Bekasi, daerah SMESCO juga ada, Jakarta ada. Ternyata dulu ga sekacau sekarang, kalau sekarang mungkin ya karena pengangguran makin bertambah banyak. Lulusan baru juga ternyata masih banyak yang nganggur,” ujarnya mengadu.

Setelah memasuki masa kelulusan pada 2018, Ferina mengerahkan seluruh kemampuan dan pengetahuannya sebagai bekal untuk melamar pekerjaan. Mengikuti tes CPNS, BUMN, dan tes ke berbagai bank pun sudah dilewati. Meskipun hasil akhir tidak lolos, kala itu menjadi koleksi kegagalan dan pembelajaran. Bagai tidak kenal lelah untuk terus berjuang mencari pekerjaan, kata menyerah tentu tidak ada bagi Ferina.

Panas, lelah, menjadi pengalaman pertama dalam dunia kerja Ferina. Berkeliling dari rumah ke rumah, mengetuk dari pintu ke pintu, menawarkan barang jualannya tidak juga bisa memenuhi semua keperluan. Beralih dari satu pekerjaan ke yang lainnya, menjadi pengalaman baru lagi bagi Ferina.

Sulitnya bekerja sebagai sales, menjadikan Ferina tidak berketergantungan pada satu pekerjaan saja. Keinginan Ferina untuk terus mencari peluang baru, dijadikan sebagai bekal berjaga ketika pekerjaannya tidak lagi sama. Mengingat ia selalu mengikuti job fair, kala ada kesempatan.

Dulu, ia menganggap ini sebagai kondisi biasa, mencari kerja dan terus berjuang. Akan tetapi, kini sudah berbeda, terasa persaingan yang ketat dalam setiap langkah. Tetapi tidak ada salahnya hidup dengan penuh harapan, meskipun terancam oleh ketidakpastian.

Suara riuh ricuh terus bergema di telinga, tatkala hentidakan langkah kaki pencari kerja berbondong-bondong, berlomba menuju garda untuk masuk dalam peluang. Lapangan pekerjaan saat ini menjadi target semua kalangan, tidak heran jika persaingan umur cukup menjadi keresahan.

“Lulusan baru, anak gen z yang nganggur lama itu masih banyak,” keluh Ferina. “Terus wah, itu saingan aku udah banyak banget lagi, mana umur juga ngaruh. Saingannya dengan yang kelahiran 2000 an, belum lagi yang kena PHK juga banyak,” tutur Ferina.

Kesulitan mencari kerja kian dirasakan tiap waktu, umur yang masih menjadi salah satu persyaratan dalam melamar kerja memberikan tekanan tersendiri bagi Ferina. Tidak lagi merasa muda, menyadarkan bahwasanya dirinya sulit untuk mendapat pekerjaan. Belum selesai satu masalah, masalah lain kembali timbul. Lapangan kerja yang tidak banyak, kembali dibantai oleh ribuan gelombang Pemutus Hubungan Kerja (PHK).

Alhasil, PHK menciptakan dampak berantai yang mengerikan bagi perekonomian dan tatanan sosial. Pastinya keadaan ini berpengaruh kepada ekonomi, daya beli melemah, konsumsi rumah tangga pun turut menurun drasti. Menjadikan roda perekonomian seolah kian melambat.

“Masalah pengangguran ini tuh udah masalah ekonomi makro gitu, bukan masalah kecil lagi,” keluh Ferina. “Ekonomi nasional tuh daya belinya lagi turun. Aku kerjanya sebagai sales, tapi aku ga ngerti ini memang aku yang ga bisa kerja atau memang ekonomi yang lagi turun daya belinya gitu,” lanjut Ferina.

Bingung dengan keadaan, entah seperti apa gambaran kondisi yang tepat bagi keadaan Ferina saat ini. Pernah jua ia merasakan sulitnya menjadi seorang marketing penawaran iklan, sulitnya mengajukan kerja sama pada setiap government yang sangat sulit, tetapi hanya dibayar dengan gaji minimum. Membuat Ferina memilih untuk resign dari pekerjaannya, dan memilih menganggur sementara waktu sembari mencari pekerjaan baru.

Dengan kurun waktu selama menganggur, dipergunakan sebaik mungkin. Mengasah keterampilan, menggali lebih dalam informasi, memperbanyak pengalaman menjadikan Ferina cukup percaya diri untuk kembali mendapat pekerjaan. Menurut Ferina, terus improve dalam pekerjaan menjadi opsi terbaik, lantas bagaimana jika kondisi negara sama sekali tidak mendukung.

“Kalau kita ga improve, ga berkembang, boss ga akan segan buat pecat kita. Untuk saat ini saya kerja sih belum ada hasil achieve gitu, makanya saya bingung mau resign mikirnya seribu kali karena kalau nganggur lagi tuh ga enak,” ujar Ferina menjelaskan.

Paham betul bagaimana tekanan ekonomi dapat memicu stres, depresi, bahkan konflik dalam rumah tangga. Menjadikan ambil saja dahulu apa yang ada sementara, tapi jika tidak ada? Langkah kriminalitas yang akan diambil. Sebagian pola pikir akan turut berubah hanya karena desakan, karena putusnya harapan dan terbatasnya pilihan.

Improve skill menjadi langkah yang wajib diambil, dalam waktu yang tidak ditentukan dapat memberi banyak peluang baru dalam setiap kesempatan. tidak menutup kemungkinan meskipun dalam kondisi yang sulit mendapat pekerjaan, kesempatan untuk berada pada satu langkah lebih maju didapatkan berkat skill yang terus dilatih.

“Aku lagi ngasah diriku tentang bagaimana cara berkomunikasi ke orang lain, terus juga cara manajemen waktu. Karena ya namanya belajar kan ga kenal waktu,” tidak kenal penat, Awwab sebagai fresh graduate terus mengais lebih dalam informasi industri yang membuka lowongan. Mulai dari dream company hingga perusahaan yang menjadi landasan utama skill-nya diterima.

Kata lelah tidak lagi ada dalam proses mencari pekerjaan, terutama di tengah maraknya gelombang PHK dan persyaratan kerja tidak masuk akal. “Karena kita yang butuh ya kita ga boleh nunggu, kita yang cari,” tutur Awwab memberi dorongan, agar tidak ada kata putus asa meski banyak rintangan. Hadapi rintangan dan pantang menyerah, patut dijadikan sebagai tonggak.

Maraknya gelombang PHK tidak membuatnya gentar dalam mencari pekerjaan, semangat muda yang terus membara bagai api yang tidak akan pernah padam. Rintangan bukan sebuah masalah, jika bisa mendapat banyak pembelajaran dan pengalaman baru, mengapa tidak?

“Aku orang yang fleksibel, karena menurut ku, kalau hanya terpaku di satu tempat, kita ga bakal bisa berkembang. Cara berkembang ya, kita menemukan tempat baru dan melebar,” lanjut Awwab menjelaskan.

Sulitnya mencari kerja pun turut dirasakan oleh Awwab sebagai fresh graduate, tidak mengenal kata istirahat, setiap menit menjadi berharga bagi Awwab. Kualifikasi bukanlah rintangan, melainkan tantangan untuk ia mengasah kemampuan. Ribuan email dikirimkan, tidak ada kata menyerah. Bagi Awwab ini merupakan bagian dari proses, yang akan membawa ia menuju kesuksesan.

Memasuki masa sulit itu ketika berhadapan dengan HRD dalam wawancara, sering kali menjadi sebuah tekanan tersendiri. Gemetar rasa seluruh tubuh, menjawab pertanyaan, tes psikologi, dilalui begitu saja. Meski terkadang tidak membuahkan hasil indah, terbesit sedikit rasa kecewa. Ditolak secara halus, tidak diberi kabar, bukan bagian dari akhir. Dilanda rasa kecewa, dijadikan kembali sebagai kobaran api yang membara.

Antara Harapan dan Realitas Pahit

“Akan terbuka 19 juta lapangan kerja bagi untuk generasi muda dan kaum perempuan, dan 5 juta di anataranya adalah green jobpeluang kerja di bidang kelestarian lingkungan,” tutur Gibran pada debat Cawapres 2024 lalu.

Harapan demi harapan, janji demi janji, tidak kunjung direalisasikan. Berat rasanya untuk terus bertahan pada saat harapan terancam padam. Berada dalam lingkaran ketidakpastian, menjadi sebuah jebakan bagi ribuan nyawa. Lantas, tidak lagi ada pilihan selain tetap berjuang meski tertatih.

Para pencari kerja yang mengunjungi satu per satu stan, untuk mendapatkan informasi proses rekrutmen dan persyaratan pada setiap stan di Job Fair Jakarta Barat, Tanjung Duren, Rabu 4 Juni 2025.
Para pencari kerja yang mengunjungi satu per satu stan, untuk mendapatkan informasi proses rekrutmen dan persyaratan pada setiap stan di Job Fair Jakarta Barat, Tanjung Duren, Rabu 4 Juni 2025.

Di tengah riuhnya event job fair menyadarkan bahwa, masih jutaan jiwa yang memiliki harapan penuh bahkan pada peluang kecil sekali pun. Harapan yang menggantung pada seutas janji politik, target 19 juta lapangan kerja yang entah kapan dapat dinikmati. tidak lagi tahu kemana akan melangkah, selain selain pada titik kecil yang bahkan tidak pasti keberadaanya.

Di balik angka megah ini, terdapat harapan masyarakat, akankah janji tersebut mampu direalisasikan. Sulit rasanya menaruh seutas rasa percaya, di balik setiap kata manis yang diutarakan, entah seperti apa hak yang harus diperjuangkan itu dan lantas bagaimana langkah selanjutnya.

Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) dilansir dari Antara, melalui Menteri Yassierli, mencoba meredakan kegelisahan masyarakat. Dengan optimis, menyatidakan kondisi lapangan kerja akan tetap tanggung pada 2025. Bahkan Kemnaker mencatat adanya 3,59 juta lapangan kerja baru, yang telah diciptidakan saat masa transisi.

Angka yang seolah sudah menjadi modal awal dalam mengarungi tahun 2025, padahal nyatanya yang terlihat hanya ketidakpastian. Entah bagaimana merealisasikan harapan masyarakat, ribuan kebingungan tidak kunjung mendapat jawaban. Sering kali menjadi sebuah realita pahit, yang mau tidak mau harus dihadapi para pencari kerja pada masa kini.

“Dari job fair Cikarang, aku udah apply total 5 perusahaan yang sekiranya sesuai dengan kriteria aku dan kelimanya itu ga ada yang manggil aku sama sekali,” keluh kesah Ferina, mengenai pengalamannya mencoba melamar pada industri yang berada di job fair kala itu.

Sulit rasanya bagi Ferina untuk terus menunggu jawaban yang tidak pasti, menyerah tidak bisa, maju pun terhambat. Menurutnya, ia sudah memasukkan lamaran dengan persyaratan yang sesuai, tetapi masih tidak ada secercah harapan terlihat. Akan tetapi tetap saja, tuntutan hidup tidak mengenal kata putus asa. Kesulitan harus tetap diterjang dengan sisa tenaga. Sekalipun mendapat penolakan, bukan berarti langsung menyerah.

“Mencari kerja tuh bagian dari proses, mau tidak mau harus siap. Tidak bisa hanya menunggu dan kita juga tidak bisa berputus asa. Penolakan pasti ada, tapi dari penolakan itu kita bisa belajar,” jelas Awwab

Mau tidak mau, nikmati proses yang berjalan. Awwab menjadikannya sebagai pengalaman hidup, juga pembelajaran untuk improvisasi diri. Di balik meja para pemimpin, tumpukan email pada layar komputer yang menyala kian menggunung. Setiap lembar CV dan portofolio merupakan sepotong mimpi dan secercah harapan yang ingin bertemu dengan peluang.

Lantas bagaimana dapat memantaskan diri, dengan ribuan pelamar untuk satu posisi lamaran. Proses rekrutmen tidak mudah, tahap demi tahap harus dilakukan dengan teliti. Tentunya hal ini dilakukan karena kinerja karyawan pastinya memengaruhi perusahaan. Fairuz seorang HRD pada salah perusahaan di Jabodetabek. Menduduki posisi sebagai HRD menjadikan dirinya harus pandai dalam memilah dan memilih calon karyawan.

“Selama proses rekrutmen, pastinya screening CV terlebih dahulu dilakukan. Jika sekiranya kriteria yang ada cocok dengan posisi yang ditentukan, akan dilanjutkan pada proses HR Interview,” ujar Fairuz menjelaskan

Segala pertanyaan ditanyakan pada calon karyawan melalui interview, menilai jawaban dan gestur bicara menjadi salah satu nilai bagi perusahaan. Background check juga menjadi persyaratan penting dalam pertimbangan penerimaan karyawan. Dalam setiap proses screening kandidat masih konvensional dan belum menggunakan ATS.

“Nilai tambahan biasa dilihat dari pengalaman yang relevan, dengan kebutuhan yang kami cari. Selain itu skills dan kemampuan berbahasa juga jadi salah satu kualifikasi. Terkadang memang ada beberapa posisi yang mengutamakan domisili/jarak,” jelas Fairuz dari perspektif beliau sebagai seorang HR.

Menurut Fairuz, kriteria non-kompetensi seperti tinggi badan dan umur sebaiknya digunakan apabila benar-benar dibutuhkan. “Seperti pada perusahaan kami, biasanya mencantumkan tinggi badan untuk job vacancy seperti sales saja,” jelasnya. Dengan adanya kriteria justru lebih menghambat daripada membantu dalam proses mencari kandidat, sehingga bagi Fairuz dengan mengedepankan kompetensi, potensi, dan nilai tambah dari seorang individu akan lebih memberikan hasil yang inklusif.

Dari setiap tahap rekrutmen dengan persyaratan yang nyeleneh, menjadikan sebagian individu merasa malas untuk kembali berusaha. Akan tetapi sebagai seorang HRD, tentu Fairuz paham betul dengan keadaan ini. Tidak banyak yang bisa ia lakukan selain memberi saran. Fairuz mengatakan ketika para kandidat ingin merasa lebih efektif dalam melamar pekerjaan, hanya perlu mengenal diri sendiri target pekerjaan.

Dengan memahami terlebih dahulu apa kelebihan yang bisa dikontribusikan pada perusahaan, juga minat seperti apa yang diinginkan ketika bekerja akan lebih membantu proses pencarian kerja cukup mudah. Proses pengenalan diri ini tentu bisa menjadi bantuan bagi setiap calon pelamar untuk masuk dalam kriteria yang sesuai dan tidak asal melamar, pastikan untuk paham pada jenis industri dan posisi yang sejalan dengan pengalaman dan potensi.

Terlebih daripada itu, konteks dari isi CV yang digunakan harus lebih diperhatikan. “Jangan kirim CV yang sama untuk semua lowongan, tuliskan CV yang sekiranya relevan dengan posisi yang dilamar,” jelas Fairuz memberi saran. Membangun personal branding seperti aktif pada LinkedIn dan susunan portofolio yang bagus juga turut menjadi nilai tambahan dalam proses rekrutmen.

Menguasai wawancara dan latihan berkomunikasi juga menjadi nilai penting yang harus dikuasai setiap orang, setiap proses wawancara Fairuz mengajarkan bahwa setiap kandidat bisa menggunakan teknik STAR (situation, task, action, result) dalam menjawab pertanyaan berbasis pengalaman, jadi dalam keadaan pun harus bisa menilai jawaban seperti apa yang sekiranya dapat membantu kelancaran proses rekrutmen.

Di tengah janji lapangan kerja dan optimisme pemerintah, tidak akan terlepas dari realita. Bukan sekadar tentang memenuhi kualifikasi di atas kertas, melainkan tentang bagaimana seseorang dapat mempresentasikan dirinya secara menyeluruh. Harapan demi harapan akan pekerjaan baru, tidak akan terwujud jika tidak diiringi dengan kesiapan dan strategi yang matang dalam menghadapi saringan ketat dari para penentu nasib.

Jejak Asa yang tidak Pernah Padam

Di tengah badai disrupsi yang menerjang dunia kerja, narasi perjuangan, adaptasi, dan secercah harapan tidak akan pernah padam. Kisah tentang bagaimana strategi dirajut untuk bertahan, upskilling dan reskilling muncul sebagai benang merah yang menjanjikan secercah cahaya diujung terowongan.

Terhampar situasi ketika keahlian yang ditekuni bertahun-tahun mendadak menjadi terasa usang, tidak lagi relevan dengan tuntutan pasar industri. Sebuah masa di mana jalur karier yang mapan mendadak terjal menuntut adanya metamorfosis. Dengan berbekal tekad, seringkali pembelajaran keterampilan baru, menjadi pilihan tepat untuk bisa melangkah maju.

Malam yang dulu diisi dengan rutinitas biasa, kini berganti dengan dedikasi pada pemahaman mendalam tentang ekosistem digital. Memang sulit rasanya melawan zona nyaman, tetapi motivasi untuk terus maju menjadi pupuk penyemangat. Dengan semangat baja, berbagai pengalaman baru di-kulik secara otodidak, mengenai kecerdasan buatan atau aplikasi teknologi terkini, menjadi fokus utama dalam industri.

“Pengennya sih kerja keluar negeri ya,” ujar Ferina dengan semangat. Melihat banyaknya peluang besar pada perusahaan luar, menjadikan semangat dalam diri terus menggebu-gebu. “Aku juga lagi upskilling, belajar bahasa Mandarin gitu,” lanjut Ferina, karena menurutnya skill berbahasa lebih dihargai dalam dunia kerja.

Alhasil, berbagai inovasi dan ide revolusioner terbuka, menjadikan bukti nyata meskipun berada dalam ketidakpastian, tidak menutup kemungkinan untuk terus belajar dan beradaptasi. Kemauan dan tekad menjadi tujuan utama, yang dijadikan sebagai modal paling berharga untuk memulai. Era disrupsi memang membawa tantangan, tetapi turut membuka peluang bagi yang berani melangkah dari zona nyaman.

Adanya semangat juang dan kemampuan untuk terus upskill dan reskill, merajut kembali harapan untuk masa depan yang lebih cerah. Tekad untuk belajar dan beradaptasi, dijadikan sebagai tujuan utama untuk bertahan. Maka kesempatan tidak akan pernah hilang, bagi mereka yang ingin mencoba terus menerus.

Harapan yang Harus Tetap Dirajut

Demikian jejak labirin perjuangan Ferina dan Awwab, dengan menyelami kedalaman adaptasi, dapat merasakan denyut ketekunan yang tidak tergoyahkan. Seutas kisah, terentang dari mereka yang harus terus menerus beradaptasi dan berkembang. Memiliki pengetahuan baru dan terus mengasah pisau keterampilan, menjadi tujuan utama yang menjadi cerminan paling jujur dari kompleksitas tantangan zaman.

Namun, di balik setiap keluh kesah, tentunya selalu ada semangat perjuangan yang tidak pernah padam. Keinginan, harapan, menjadi bukti nyata dari ketahanan jiwa manusia. Kemampuan untuk bangkit lagi dan lagi, membentuk keberanian untuk merajut masa depan di tengah ketidakpastian yang membentang.

Ini bukan sekadar tentang mencari sederet list pekerjaan, melainkan ini tentang setiap individu yang mendedikasikan perjuangan mereka agar dapat menembus kabut tebal lowongan yang penuh ketidakpastian. Tanpa kenal lelah terus mengasah diri di tengah sulitnya dalam bertahan hidup, sungguh perjuangan luar biasa.

Perubahan sudah menjadi takdir yang tidak dapat dielakkan, sama seperti pasang surut air laut. Akan tetapi, potensi untuk terus beradaptasi, berkembang, dan bersemi harus selalu ada, bagaikan tunas yang gigih menembus bebatuan. Masa depan dunia kerja mungkin tampak seperti lautan badai yang menguji, namun di tangan individu yang gigih, setiap rintangan adalah kesempatan untuk berlayar lebih jauh, setiap tantangan adalah undangan untuk menjadi lebih kuat. (*)

Editor : Miftahul Khair
#PHK #pencari kerja #krisis ekonomi #kisah nyata