Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Isi dan Bentuk Terinspirasi dari ”Pinjam Dulu Seratus”, Laura Amanda Sari Sitindaon, Pantun, dan Toleransi di Kampus UMSU

Hanif PP • Kamis, 17 Juli 2025 | 10:06 WIB
Photo
Photo

Pantun ”agar si Kristen ini tak ke mana-mana” lahir dari pengalaman Laura Amanda Sari Sitindaon yang merasa sangat betah berkuliah di kampus yang menyandang nama organisasi Islam besar. Di UMSU, Laura mendapati toleransi tak berhenti sebagai jargon: dia bahkan pernah dipercaya menjadi ketua delegasi ke sebuah kompetisi mahasiswa tingkat nasional.

DEDDI MULIA PURBA, Medan

SUDAH lebih dari sepekan lewat, keharuan dan kegembiran Laura Amanda Sari Sitindaon belum habis karena pantunnya saat wisuda masih ramai dibincangkan orang. Pantun yang isi dan rimanya dipinjam lulusan Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) itu dari pantun/frasa candaan ”pinjam dulu seratus”.

”Perasaannya terharu, bangga, dan bahagia jadi bagian dari UMSU. Laura juga bahagia karena ternyata speech kemarin sempat booming dan mampu membanggakan UMSU,” katanya kepada Sumut Pos (Jaringan Pontianak Post) di Medan pada Senin (14/7) lalu.

Saking populernya pinjam dulu seratus, vokalis Coldplay Chris Martin pun menggunakannya saat menyapa penonton dalam konser di Jakarta pada 15 November 2023. ”Hari Selasa ujian fisika, giat belajar biar lulus// Apa kabar Kota Jakarta? Boleh dong pinjam seratus,” katanya setelah membawakan dua lagu ketika itu.

Pada pidato wisuda Rabu (8/7) pekan lalu, Laura melemparkan pantun yang videonya kemudian merambah ke berbagai platform: ”Dari Klaten ke Argentina, jangan lupa ke Kota Kudus// Agar si Kristen ini tak ke mana-mana, adakah beasiswa S-2 sampai lulus.”

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti dan Rektor UMSU Agussani yang hadir langsung tersenyum mendengarnya, di tengah gemuruh sambutan mereka yang memenuhi lantai lima dan enam Gedung Selecta Medan. Wisuda UMSU pada 8-9 Juli 2025 itu diikuti 1.956 lulusan doktor, magister, dokter, dan sarjana.

”Saya tidak tahu, tadi pantun dari Klaten ke Argentina, kemudian tersesat di Kudus. Tapi, pesannya saya kira sudah sampai. Insya Allah, aspirasinya bisa dipenuhi Pak Rektor. Kalau Pak Rektor tak memenuhi, saya gunakan otoritas sebagai sekretaris umum PP Muhammadiyah,” ungkap Mu’ti dalam pidatonya.
Agussani kemudian merespons pantun Laura itu juga dengan pantun. ”Terbang tinggi si burung cendana, terbang berpaut si burung tempua// Laura jangan ke mana-mana, Ananda telah resmi menjadi mahasiswa S-2,” yang juga disambut sama meriahnya oleh hadirin.

Sempat Waswas di Awal

Lalu, apakah Laura, anak kedua dari lima bersaudara pasangan Sarwedi Sitindaon dan Dormaida Sipayung, sudah mendaftar program S-2? Saat ini dia tengah fokus menjadi panitia pelaksana kegiatan Internal Moot Court Competition sampai 26 Juli mendatang.

”Pendaftaran S-2 masih panjang. Laura akan mendaftar setelah selesai melaksanakan Internal Moot Court Competition,” ujarnya.

Sejak lulus dari SMA Swasta Unggul Sakti, Medan, Laura memang sudah menetapkan pilihan ke UMSU. Padahal, dia juga mendapat tawaran beasiswa dari sebuah kampus di Tangerang Selatan, Banten.

”Pada saat itu, UMSU adalah universitas yang mewadahi pendaftaran online dan sudah mengikuti perkembangan teknologi di era pandemi Covid-19. Selain itu, bapak hanya memberikan izin kuliah di Pulau Sumatera yang memiliki akreditasi terbaik,” katanya.

Tapi, dia mengaku awalnya sempat waswas kuliah di UMSU yang menyandang nama organisasi Islam besar. Sedangkan dia dan keluarga pemeluk Kristen.
Dia mengenang bagaimana di awal kuliah dirinya melihat kampus UMSU terlihat begitu Islami. Penuh nuansa dakwah serta jargon-jargon pergerakan.

”Saat itu, bapak mengatakan kepada saya, Nang, (anak), pindahlah. Atau istirahat setahun, nggak apa-apa, bapak lebih sayang pada mentalmu,” kenang Laura.
Tapi, dia menanggapi nasihat itu dengan tersenyum. Dia meyakinkan sang bapak ingin mencoba dulu, meski diakuinya di dalam hati dia juga bertanya-tanya: apakah saya bisa diterima di kampus? Apakah saya pantas?

Satu semester berjalan, keraguan bapak Laura muncul lagi. ”Aku nggak dikucilkan, aku diterima di sini,” jawabnya kepada sang bapak.

Barulah sang bapak akhirnya mulai memahami bahwa di kampus tempat anak perempuannya berkuliah tidak ada ruang untuk diskriminasi. Bahkan, Laura sempat dipercaya sebagai sekretaris Komunitas Peradilan Semu.

Dia memimpin 17 anggota sebagai ketua delegasi nasional Moot Court Competition. Sekaligus menjadi pemateri coaching di Universitas Asahan, Sumatera Utara.

”Paling membekas saat kuliah di UMSU adalah ikut program wakaf Alquran di bulan Ramadan tahun 2024. Ini bukan hanya pengalaman lintas iman, tetapi bagaimana kita belajar tentang kebersamaan, toleransi, dan kemanusiaan,” ungkapnya.

Bukan Cuma Jargon

Di UMSU, kata Laura yang bercita-cita menjadi jaksa itu, toleransi tak berhenti sebagai jargon. Tapi, benar-benar diimplementasikan. Itu yang membuatnya betah dan masih ingin melanjutkan kuliah di sana.

”UMSU yang mengajarkan bahwa rasa hormat, kasih, dan toleransi adalah fondasi peradaban. Karena sampai detik saya diwisuda, saya masih seorang Kristen Protestan di tengah-tengah ramainya wisudawan muslim di UMSU,” katanya. (*/ttg)

 

Editor : Hanif
#kampus umsu