PONTIANAK POST - Di ujung Jalan Pemda, Parit Mayor—batas antara Kota Pontianak dan Kubu Raya—berdiri sebuah masjid yang memikat pandangan setiap orang yang melintas.
Masjid Kayu As Syukur, dengan luas bangunan 20 x 20 meter, memancarkan keindahan dan kekokohan yang jarang ditemui pada bangunan ibadah masa kini.
Seluruh strukturnya dibangun dari kayu belian, kayu ulin khas Kalimantan yang terkenal tahan serangga dan berumur panjang, sekaligus menyimpan jejak tradisi dan kearifan lokal.
Keunikan masjid ini bukan sekadar pada materialnya. Kayu belian yang kian langka dikumpulkan perlahan selama lima tahun terakhir, sebuah proses penuh kesabaran dan komitmen.
Beberapa batang kayu bahkan didatangkan dari pedalaman Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah.
Tiang-tiang penopang berukuran kokoh 20 x 20 sentimeter, sementara jenang berukuran 15 x 15 sentimeter menambah kesan gagah.
Tangga kayu belian yang disusun tradisional melengkapi keanggunan arsitektur bernuansa Melayu dan Islami.
Di balik megahnya masjid ini, terselip kisah ketulusan seorang pengacara ternama Kalbar, Tamsil Syukur.
Dialah penggagas utama berdirinya Masjid Kayu As Syukur. Dengan tekad dan dana pribadi, ia memulai pembangunan ini sebagai bentuk rasa syukur atas perjalanan hidupnya. Tidak hanya menghadirkan tempat ibadah, Tamsil ingin meninggalkan warisan budaya dan spiritual bagi generasi mendatang.
Masjid Kayu As Syukur mulai difungsikan pada momen Idul Adha yang lalu, menjadi saksi kebahagiaan jamaah sekitar.
Kini, setelah seluruh detail pembangunan rampung, peresmian resminya dijadwalkan pada Jumat, 12 September 2025. Momen itu akan sekaligus menjadi Shalat Jumat perdana, penanda dimulainya babak baru bagi masjid kayu belian ini sebagai pusat kegiatan keagamaan dan kebersamaan umat.
Sekilas pandang, berdiri di hadapan masjid ini seolah membawa kita kembali ke masa lalu: aroma kayu belian, ukiran sederhana yang sarat makna, dan atap yang menjulang bersahaja.
Masjid Kayu As Syukur bukan hanya tempat shalat, melainkan penegas identitas budaya Melayu-Islam. Ia adalah bukti bahwa kemegahan tidak selalu ditentukan oleh beton dan baja—kadang, keindahan justru lahir dari ketekunan, kesabaran, dan syukur yang tulus. (**)
Editor : Miftahul Khair