Di balik hiruk-pikuk aktivitas Pasar Siantan dan lalu-lalang feri penyeberangan di Pontianak, tersimpan sebuah titik penting dalam sejarah Borneo Barat. Lokasinya tak mencolok tepat di sisi kiri pintu masuk dermaga feri penyeberangan Siantan. Namun, di sanalah dahulu awal mula pembangunan jalan Pontianak–Sambas pada akhir abad ke-19. Inilah patok titik Nol Kilometer Pontianak.
SITI SULBIYAH, Pontianak
Dari belakang kantor BNI Pontianak Jalan Tanjung Pura, penulis menaiki sampan motor dengan tarif Rp3.000 untuk menyeberangi Sungai Kapuas. Kurang lebih lima menit menyeberangi sungai terpanjang di Indonesia, sampan tiba mendarat di dermaga Siantan.
Dermaga tersebut tepat bersebelahan dengan jalur penyeberangan feri besar yang membawa kendaraan dan penumpang setiap hari. Namun pada saat itu, kapal sedang tidak beroperasi.
Begitu keluar dari dermaga, tampak sebuah tugu kecil tepat di pintu masuk penyeberangan feri Siantan. Paling mencolok adalah sebuah tugu berbentuk 0 berwarna putih, dengan tulisan di bawahnya “Patok Pontianak 0 Kilometer”.
Dengan tinggi hampir dua meter, tak sulit menemukan patok yang menjadi penanda titik nol kilometer Kota Pontianak. Keberadaannya cukup mencolok.
Namun, patok ini bukanlah patok asli yang menjadi penanda pembangunan jalan Pontianak–Sambas pada akhir abad ke-19. Pemerintah Kota Pontianak telah mempercantik lokasi ini pada tahun 2017 yang lalu. Patok asli masih berdiri tampak di sebelah tugu berbentuk 0 tersebut. Patok asli terlihat kini dicat berwarna kuning.
“Patok yang baru itu memang baru beberapa tahun belakangan dibangun,” ungkap Muhammad Aini (40), pemilik salah satu warung yang tak jauh dari lokasi tersebut.
Lebih dari 20 tahun Aini berjualan di warung sederhana yang berlokasi tepat berada di sebelah patok. Warung itu menjual minuman, camilan, dan makanan ringan.
Aini mengatakan, patok tersebut memang kerap kali menjadi daya tarik. “Pernah ada rombongan kecil datang berhenti di dekat patok itu, ada yang berfoto, ada yang merekam video,” katanya.
Tak hanya warga lokal, turis asing juga pernah berkunjung untuk melihat kondisi patok tersebut. “Rata-rata turis yang datang memang sudah tahu ada titik nol di sini. Kadang mereka sengaja menyeberang cuma buat lihat titik nol ini, lalu lanjut ke arah Tugu Khatulistiwa,” tambahnya.
Meski memiliki nilai sejarah, kawasan Titik Nol Kilometer ini belum dikelola secara khusus oleh pemerintah. Tak ada papan informasi, monumen, atau kegiatan resmi yang menandakan pentingnya lokasi tersebut. “Di sini belum pernah ada event dari pemerintah,” kata Aini.
Padahal, patok kecil itu menyimpan kisah bersejarah. Dalam buku Pontianak Heritage yang ditulis oleh Ahmad Sofian, disebutkan bahwa Patok Nol Kilometer Pontianak ini adalah penanda awal pembuatan jalan Pontianak-Sambas pada akhir abad ke-19. Jalan dan patok ini menjadi sangat bernilai sejarah, karena inilah jalan pertama yang dibuat pemerintah Kolonial Hindia Belanda di Borneo Barat.
Terdapat tiga bagian bentuk patok yang terbuat dari batu cor ini. Bentuk bagian yang pertama, yang paling atas, setinggi 29 cm, mengarah ke arah utara dan terdapat tulisan PTK 0. Bagian kedua, setinggi 62 cm, terdapat dua sisi muka. Masing-masing dengan ukuran yang lebih kecil.
Sisi yang mengarah ke timur laut bertuliskan PTK 0, yang berarti menunjukkan titik Nol kilometer Kota Pontianak. Sisi satunya, yang mengarah ke barat laut terdapat tulisan MPW 67, yang berarti jarak dari patok ini ke kota Mempawah sejauh 67 km. Bagian yang ketiga, bagian paling bawah dari patok, berbentuk empat persegi panjang sama sisi. Setinggi 32 cm dengan panjang masing-masing sisi 62 cm.
Baca Juga: Bank Kalbar Sabet Penghargaan The Iconomics, Bukti Dedikasi dan Pelayanan Prima
Masih dari buku tersebut, fungsi dari patok ini adalah untuk penanda jarak antarkota. Dari titik inilah jarak antarkota ditentukan, sehingga tentunya keberadaan patok ini jangan berubah, karena jika sampai patoknya berubah. Maka dapat dipastikan jarak antarsuatu kota juga akan berubah.
Ahmad Sofian menilai keberadaan patok nol kilometern ini perlu dijaga kelestariannya, baik dalam bentuk materialnya serta dibarengi tentang informasi sejarah tentang keberadaan patok tersebut.
“Sehingga otentifikasi keindahan secara material dibarengi dengan ilmu pengetahun dan informasi di dalamnya,” tuturnya.
Menurutnya, selain patok nol kilometer ini, ada beberapa penanda sejarah lain di Kota Pontianak yang juga memiliki nilai penting. “Misalnya tugu Lan Fang, tugu 40 Tahun Sultan Muhammad Bertahta, hingga tugu peringatan peresmian Jembatan Kapuas I oleh Presiden Soeharto. Seluruhnya juga perlu dijaga keberadaannya,” tambahnya. (*)
Editor : Hanif