Dunia aset digital semakin diminati, tak terkecuali di Kalimantan Barat. Sejumlah pemain kripto di daerah ini berbagi pengalaman mereka, mulai dari masa-masa awal berinvestasi hingga menghadapi fluktuasi pasar yang ekstrem.
Siti Sulbiyah, Pontianak
Pemuda bernama Handi (31), salah satu investor kripto asal Pontianak, telah menekuni dunia kripto sejak tahun 2017, saat harga Bitcoin masih sekitar Rp40 juta per keping. Kini, nilainya melonjak hingga menembus kisaran Rp2 miliar.
Menurutnya, Bitcoin punya master plan yang bagus, serta produksinya terbatas, hanya 21 juta unit. “Saya semakin yakin setelah Amerika menyatakan kripto sebagai aset legal tahun ini. Kalau Amerika sudah melegalkan, kemungkinan besar negara lain akan ikut,” ujarnya.
Menurut Handi, Bitcoin merupakan inisiator mata uang kripto di dunia, dan hingga kini tetap menjadi aset utama yang ia pegang. Dari segi kenaikan nilai, ia menyebut Bitcoin bahkan mampu mengalahkan emas. “Kalau kita tarik rata-rata tahunan, kenaikan Bitcoin bisa mencapai 30 persen per tahun,” katanya.
Sebelum menekuni kripto, Handi sempat mencoba berbagai instrumen seperti saham dan forex. Namun, ia menilai kripto menawarkan tantangan dan potensi keuntungan yang lebih besar, meski dengan risiko tinggi. “Kripto itu volatile-nya tinggi, risikonya besar. Ada yang untung sampai 1.000 persen bahkan 2.000 persen, tapi banyak juga yang rugi,” jelasnya.
Ia menambahkan, kebanyakan pemula gagal di awal karena tidak memahami mekanisme pasar. Menurutnya, strategi aman adalah menjaga portofolio dengan porsi 70 persen investasi dan 30 persen trading. “Keuntungan terbesar (saat trading) saya bisa sampai 10x atau 10 kali lipat,” katanya.
Namun, kerugian juga kerap terjadi saat melakukan trading. “Tapi kerugian juga pernah, paling besar sampai 100 persen,” ungkapnya. Senada dengan Handi, Mike (31), juga mulai menjadi investor kripto sejak 2017. Selain Bitcoin, ia berinvestasi di berbagai koin alternatif lainnya.
Baginya, tantangan terbesar dalam trading mata uang kripto adalah disiplin. Karena tanpa disiplin, modal bisa habis seketika. “Tahu kapan masuk, kapan keluar, dan kapan berhenti,” tuturnya.
Ia mengaku pernah untung sampai 50 kali lipat, tapi itu tidak setiap hari. “Ada momen tertentu yang tepat,” tuturnya.
Namun, Mike juga tak menampik risiko besar dalam dunia ini. “Kerugian terbesar saya pernah sampai Rp32 juta dalam satu kali trading,” tuturnya. Untuk mengantisipasi hal ini, ia kerap menerapkan stop loss, agar tidak menelan kerugian besar. “Tahu kapan harus berhenti,” ujarnya.
Kepala Otoritas Jasa Keuangan Kalbar, Rochma Hidayati menyoroti tingginya minat investasi masyarakat Kalbar, salah satunya pada instrumen digital seperti aset kripto. Berdasarkan data OJK, Kalbar masuk lima besar nasional dalam transaksi aset digital tersebut.
Rochma menyebut, peminat kripto mayoritas berasal dari kalangan anak muda. Hal ini karena anak muda dinilai lebih adaptif terhadap perkembangan teknologi finansial.
Namun, di tengah semangat tinggi tersebut, OJK tetap mengingatkan pentingnya kesadaran risiko. Rochma menegaskan bahwa setiap bentuk investasi, termasuk aset digital, tetap memiliki potensi kerugian yang harus dipahami sejak awal. “Hanya kami memberikan pedoman, rambu-rambu, bagaimana bertransaksi yang aman. Karena tidak ada investasi yang tanpa risiko,” tegasnya.
Tumbuh Bersama Komunitas
Para peminat mata uang kripto Kalbar mulai berhimpun dalam sebuah wadah bersama bernama Kalbar Crypto Community. Komunitas ini menjadi tempat berbagi pengalaman, belajar bersama, hingga saling mengingatkan agar tetap bijak dalam berinvestasi di pasar yang penuh dinamika tersebut.
Handi (31) adalah salah satu anggota komunitas ini. Ia mengatakan Kalbar Crypto Community baru terbentuk tahun ini, namun telah memiliki sekitar 120 anggota yang berasal dari beragam latar belakang. Ada pengusaha, guru, karyawan, hingga mahasiswa. “Bahkan beberapa mahasiswa sudah sukses di sini,” ungkapnya.
Menurut Handi, pembelajaran lewat komunitas jauh lebih efektif dibandingkan belajar sendiri. Melalui sesi sharing, para anggota dapat saling bertukar informasi dan pengalaman tentang strategi trading, manajemen risiko, maupun perkembangan aset digital terkini.
“Belajar lewat sharing lebih bagus, karena di sini kita bisa langsung diskusi dengan orang yang punya pengalaman nyata,” katanya.
Di komunitas ini, para anggota memiliki fokus berbeda. Ada yang menekuni trading, ada pula yang lebih memilih menjadi investor jangka panjang, maupun mengembangkan proyek berbasis Web3. Namun, menurut Handi, sebagian besar anggotanya masih berkecimpung di dunia trading.
“Cuma memang risikonya paling tinggi. Kita sering ingatkan kawan-kawan bahwa 90 persen itu gagal di tahun pertama. Jadi hati-hati, belajar dulu, jangan terpancing orang lain,” pesannya.
Menariknya, meski pemain kripto di Kalbar didominasi laki-laki, Handi mengakui bahwa di beberapa daerah lain justru banyak perempuan yang berhasil di dunia kripto. Ia menilai, faktor disiplin dan pengendalian diri menjadi keunggulan tersendiri bagi perempuan dalam mengelola keuangan digital.
“Kripto ini kan soal money management, dan menurut pengalaman kami, perempuan cenderung lebih baik dalam mengatur uang dan lebih sabar dibandingkan laki-laki yang kadang terlalu agresif,” tuturnya.
Untuk aset yang paling banyak diperdagangkan, Handi menyebut Bitcoin masih menjadi favorit utama para trader. Ada pula Solana, Ethereum, dan beberapa koin besar lainnya. Namun, ia mengingatkan bahwa di balik potensi keuntungan besar, volatilitas harga kripto juga bisa sangat tajam.
“Di komunitas kami, dari total 120 orang, mungkin ada sekitar 10 orang yang pernah melakukan transaksi di atas Rp1 miliar dalam sebulan. Tapi sekali turun sedikit saja, bisa langsung habis. Jadi memang risikonya nyata,” ujarnya.
Handi menekankan, keberadaan Kalbar Crypto Community bukan untuk mengajak orang berinvestasi secara membabi buta, melainkan menjadi wadah pembelajaran dan perlindungan bagi para pelaku lokal agar lebih paham terhadap dunia aset digital. **
Editor : Hanif