Kompetisi Piano Nusantara Plus (KPN+), kompetisi musik klasik terbesar di Indonesia, memasuki edisi 2025 dengan antusiasme yang luar biasa. Tahun ini, untuk pertama kalinya, Kota Pontianak menjadi tuan rumah dalam ajang bergengsi untuk region Kalimantan Barat tersebut.
SITI SULBIYAH, Pontianak
Penonton tampak memenuhi area ballroom Aston Hotel Pontianak, menyaksikan 51 pianis dari usia 5-17 tahun menunjukkan kepiawaiannya, Minggu (26/10). Para peserta tampil memukau dengan membawakan berbagai karya musik klasik yang menantang, serta memamerkan teknik yang mengesankan.
Tahun ini, KPN Plus hadir di 11 kota di Indonesia. Kota Pontianak, untuk pertama kalinya menjadi salah satu tuan rumah ajang musik klasik bergengsi ini.
Bertambah spesial, karena juri dalam kompetisi ini adalah pianis dan komponis asal Indonesia, Ananda Sukarlan. Seniman yang masuk dalam daftar 100 tokoh seniman Asia paling berpengaruh tahun 2020 itu tampak gembira melihat penampilan para pianis muda Kalimantan Barat.
“Pendidikan untuk piano ternyata sangat menggembirakan di Pontianak. Namun, yang masih kurang adalah guru-guru piano untuk tingkat menengah ke atas,” ungkap Ananda, mengomentari perkembangan pemain alat musik piano Kota Pontianak.
Ananda menyebut tahun ini seluruh peserta di Pontianak masih terbatas pada instrumen piano. Padahal menurutnya, kata "plus" dalam nama Kompetisi Piano Nusantara Plus (KPN+) mengandung makna yang luas. Kompetisi ini sebenarnya terbuka untuk semua instrumen musik klasik dan vokal, khususnya dalam genre tembang puitik. Hal ini menjadi catatan penting, karena tembang puitik dapat menjadi jembatan yang menghubungkan dunia musik dengan dunia sastra.
"Khususnya di tembang puitik ini bisa menjadi jembatan dengan dunia sastra, karena Kalimantan memiliki sastrawan yang unggul, seperti Hasan Aspahani, Muhammad Daffa, Shantined,” ujarnya.
Dalam ajang ini, nantinya terpilih 28 finalis yang akan bertarung di grand final di Jakarta pada 13-14 Desember mendatang.
Selain Pontianak, KPN Plus tahun ini juga telah hadir di provinsi yang sebelumnya belum pernah ada kompetisi musik klasik, seperti Lampung dan Sumatera Barat. Bagi Ananda, hal ini begitu positif. Berbagai kompetisi piano dapat memacu kualitas pendidikan musik di Indonesia.
"Cita-cita saya adalah menyelenggarakannya di semua provinsi di Indonesia, jadi jika ada yang berminat menjadi mitra penyelenggara untuk tahun depan di provinsi yang kami belum hadir, jangan sungkan hubungi saya,” tuturnya.
Ia pun mengajak para musikus klasik golongan milenial bahkan masuk gen Z yang berprestasi dari berbagai provinsi untuk mendampinginya menjadi juri.
“Kebetulan di Pontianak ada Josie Lincoln,” katanya. Josie Lincoln juga merupakan pianis. Kini, Josie mengajar di Park Cities Music School di Dallas, Texas.
Adapun pemenang KPN Plus region Kalimantan Barat 2025 adalah Samuel Dazhill, nama yang sudah tidak asing lagi di dunia piano klasik Indonesia. Setelah memenangkan juara ke-2 di Ananda Sukarlan Award (ASA) 2023 kategori Young Artist, Samuel Dazhill dapat dianggap sebagai pianis paling menonjol dari Kalimantan.
Ananda sendiri sejak awal sudah menduga hal tersebut. "Sejak sebelum Samuel tampil, saya sudah curiga, wah ini pasti kemenangan mudah buatnya,” katanya.
Namun begitu, ia melihat beberapa pianis lain juga mengejutkan dengan bakat alamiah yang sangat kuat. “Ini juga indikasi bahwa Kalimantan sebetulnya potensi bakat musiknya banyak dan kita butuh mitra-mitra penyelenggara untuk kompetisi tahun depan di kota-kota lain di Kalimantan ini,” harapnya.(*)
Editor : Hanif