Capaian tinggi CKG di Puskesmas Sungai Kerawang membuktikan bahwa keterbatasan akses dan fasilitas tidak menghalangi pelayanan kesehatan yang optimal. Dedikasi tenaga kesehatan yang menembus sungai, cuaca, dan hambatan komunikasi menjadi kunci keberhasilan program di wilayah perairan terpencil ini.
ASHRI ISNAINI, Kubu Raya
_________________
DI tengah kabut pagi yang menyelimuti Desa Sungai Kerawang, Kecamatan Batu Ampar, Kabupaten Kubu Raya, tampak sebuah speedboat kayu membawa peralatan kesehatan menuju desa-desa yang terpisah oleh alur sungai.
Di balik perjalanan yang tampak biasa itu, tersimpan capaian besar. Puskesmas Sungai Kerawang yang fasilitasnya masih terbatas justru menjadi penyumbang tertinggi capaian program Cek Kesehatan Gratis (CKG) di Kubu Raya, mengungguli puskesmas di wilayah yang jauh lebih mudah dijangkau.
Terpencil, minim listrik, sinyal internet tidak menentu. Nyaris semua hambatan yang lazim ditemui pada fasilitas kesehatan di wilayah perairan. Namun dari keterbatasan itulah, Puskesmas Sungai Kerawang tampil sebagai salah satu pendorong capaian CKG Kubu Raya yang masuk tiga besar tertinggi di Kalimantan Barat.
Kepala Puskesmas Sungai Kerawang, Aminah, mengenang bagaimana CKG mulai berjalan di wilayahnya sejak Februari 2024. Pada masa awal, tantangan terbesar bukan soal jarak antardesa, melainkan internet.
“Banyak titik di wilayah kerja Puskesmas kami sinyalnya tidak stabil. Warga banyak yang lansia dan awam soal ponsel, sehingga input online awalnya sangat sulit dilakukan di daerah kami,” tutur Aminah kepada Pontianak Post, Rabu (12/11/2025).
Akhirnya, Puskesmas Sungai Kerawang kembali menggunakan formulir kertas. Mereka mencetak screening, mencatat manual, bahkan melakukan wawancara langsung satu per satu. Proses yang melelahkan, tetapi menjadi satu-satunya pilihan agar program tetap berjalan.
Upaya mengedukasi warga mengenai CKG juga tidak mudah. Sosialisasi melalui pemerintah desa dan kecamatan tidak cukup. Banyak warga baru memahami setelah petugas menawarkan langsung saat mereka datang berobat.
“Kadang warga itu memang harus ditodong dulu. Mereka datang berobat, sekalian kita tawarkan CKG,” ujar Aminah sambil tersenyum.
Puskesmas juga mewajibkan seluruh petugas menjalani CKG sebagai contoh bagi masyarakat. Setelah itu, para kader kesehatan dilibatkan sebagai “perpanjangan tangan”, terutama untuk menjangkau wilayah paling jauh seperti Desa Tanjung Beringin, yang ditempuh tiga jam perjalanan sungai dengan speedboat.
“Untuk desa-desa yang letaknya jauh dari Puskesmas, seperti Desa Tanjung Beringin, kami melakukan layanan Puskesmas Keliling (Pusling) sebulan sekali secara bergantian," sebutnya.
"Dalam satu bulan ada satu tim beranggotakan 5–6 tenaga kesehatan untuk memberikan layanan di lapangan, dan di situ juga kami sisipkan pelayanan CKG,” paparnya.
Aminah mengaku kondisi peralatan kesehatan di Puskesmas Sungai Kerawang masih jauh dari ideal. Hematologi analyzer, alat untuk pemeriksaan darah lengkap, belum tersedia karena listrik PLN sebelumnya belum masuk.
“Hingga saat ini kami baru bisa melakukan pemeriksaan dasar seperti kolesterol, gula darah, asam urat, dan tensi. Pemeriksaan mata dan pendengaran juga masih dengan metode sederhana,” jelas Aminah.
Meski begitu, setiap indikasi penyakit serius langsung dirujuk ke fasilitas kesehatan yang lebih lengkap.
Selain penginputan data manual bagi masyarakat umum, capaian CKG meningkat pesat sejak Juli 2025 ketika fitur input data anak sekolah dibuka.
“Data anak sekolah itu menaikkan capaian kami. Setelah itu kami menyisir bayi dan balita,” kata Aminah.
Partisipasi Warga Tinggi
Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kubu Raya, hingga 29 Oktober 2025, sasaran CKG di Puskesmas Sungai Kerawang mencapai 5.087 jiwa, dengan jumlah warga terdaftar 2.466 jiwa dan warga hadir 2.366 jiwa.
“Alhamdulillah tingkat kehadiran warga mengikuti CKG ini mencapai 95,94 persen, melebihi target minimal 36 persen. Kami sangat bersyukur karena angka ini terbilang sangat tinggi bagi puskesmas di daerah perairan,” paparnya.
Dokter umum Puskesmas Sungai Kerawang, Dewi Apriani, mengatakan di empat desa binaan, yakni Desa Sungai Kerawang, Sumber Agung, Muara Tiga, dan Tanjung Beringin. Para kader kesehatan berperan bukan hanya sebagai penggerak, tetapi juga penerjemah bahasa bagi tim kesehatan.
Dewi yang kerap turun ke sejumlah desa binaan juga bercerita bahwa kendala bahasa sering memperlambat proses edukasi. Desa Sungai Kerawang merupakan desa eks transmigrasi, dan sebagian besar penduduknya berasal dari Pulau Jawa, termasuk Sunda.
“Banyak lansia yang sehari-hari memakai bahasa Jawa atau Sunda. Jadi kader menjadi penerjemah kami,” ucap Dewi.
Tidak hanya bahasa, kata Dewi, musim hujan juga membuat akses menuju desa binaan semakin sulit.
“Saat hujan, jalan jadi becek dan licin, dan beberapa titik bahkan hanya bisa ditempuh berjalan kaki. Jadi kami dari Puskesmas Sungai Kerawang harus bekerja ekstra untuk menjangkau masyarakat melalui Pusling,” paparnya.
Dewi mengaku sebagian warga masih belum mengetahui CKG, sehingga tim harus menjelaskan lebih rinci bahwa CKG adalah program pemeriksaan kesehatan dasar yang disediakan pemerintah secara cuma-cuma untuk seluruh masyarakat, mulai bayi hingga lansia.
Tujuannya mendeteksi dini penyakit, mencegah kondisi memburuk, meningkatkan kesadaran masyarakat untuk rutin memeriksa kesehatan, serta memastikan seluruh penduduk mendapatkan layanan tanpa biaya.
Atasi Kendala Jarak dan Medan
Warga Sungai Kerawang, Imah (38), mengaku CKG membuat keluarganya lebih sadar kondisi kesehatan. “Saya cek tensi, gula darah, juga dapat edukasi periksa payudara mandiri. Saat ikut CKG, anak saya juga ketahuan ada gangguan penglihatan,” ujarnya.
Imah menilai CKG membuat layanan kesehatan menjadi lebih lengkap dan terjadwal dibanding sebelumnya.
Bagi warga Desa Tanjung Beringin, kedatangan tim kesehatan dari Puskesmas Sungai Kerawang bukan sekadar kunjungan rutin, tetapi satu-satunya kesempatan mendapatkan layanan kesehatan lengkap di desa mereka.
Dengan lokasi desa yang hanya dapat dijangkau melalui sungai dan jarak tempuh tiga jam, banyak warga memilih menunggu layanan kunjungan daripada pergi langsung ke puskesmas.
Warga setempat, Suryani (38), mengaku program CKG sangat membantu, terutama bagi mereka yang jarang atau kesulitan mengakses layanan kesehatan karena jarak.
“Untuk hari-hari biasanya, banyak warga enggan ke puskesmas. Bukan karena tidak mau, tapi karena jauh dan hanya bisa lewat sungai. Jadi kalau petugas turun ke desa, kami langsung ikut,” ujar Suryani.
Ia mengatakan kunjungan tim kesehatan membuat warga lebih tenang karena selain mendapatkan pemeriksaan gratis, mereka bisa berkonsultasi menyeluruh tanpa biaya transportasi.
“Lumayan, selain gratis bisa konsultasi lengkap. Saya bahkan sudah siapkan daftar keluhan dari jauh-jauh hari, jadi sekalian saja ditanyakan,” katanya.
Suryani pun kerap memanfaatkan momen kunjungan untuk memastikan kondisi kesehatannya dan mendapatkan obat yang dibutuhkan. “Kalau diwajibkan minum obat, ya sekalian saya minta. Biar jelas dan tidak bolak-balik,” ujarnya.
Menurut Suryani, layanan kesehatan yang datang menghampiri justru menjadi kemudahan terbesar.
“Hadirnya layanan CKG sebulan sekali sangat membantu meringankan beban masyarakat di daerah perairan terpencil, sekaligus memperkuat kesadaran untuk rutin memeriksakan kesehatan,” ungkapnya.
Capai 100 Ribu Warga
Secara terpisah, Plt Kepala Dinas Kesehatan Kubu Raya, Siswani, menyebut capaian CKG Kubu Raya menjadi yang tertinggi ketiga se-Kalimantan Barat setelah Kota Pontianak dan Sambas, dengan persentase 16,5 persen atau sekitar 100 ribu warga.
“Ini berkat puskesmas-puskesmas yang bekerja keras, termasuk Sungai Kerawang yang memaksimalkan tenaga dan sarana meski berada di wilayah perairan,” ujarnya.
Menurut Siswani, tantangan Kubu Raya sangat kompleks karena 60 persen wilayah merupakan daerah sungai dan pulau-pulau kecil.
Namun pelayanan kesehatan tetap dimaksimalkan melalui Puskesmas, Posyandu, dan Pusling. Ke depan, pemerintah daerah akan terus memperkuat kualitas layanan kesehatan di Kubu Raya.
“Tahun depan sudah dialokasikan anggaran untuk perbaikan fasilitas laboratorium dan penggantian alat yang rusak, termasuk bagi Puskesmas Sungai Kerawang,” tegasnya.
Siswani menilai, di tengah segala keterbatasan, capaian CKG Sungai Kerawang membuktikan bahwa keberhasilan program kesehatan tidak selalu diukur dari kelengkapan alat atau kemudahan akses.
“Terkadang, dedikasi petugas kesehatan yang rela menembus hujan, lumpur, sungai, dan perbedaan bahasa justru menjadi penentu keberhasilan,” tutup Siswani. **
Editor : Aristono Edi Kiswantoro