Melaka kini terasa lebih dekat. Kota yang diakui UNESCO sebagai Warisan Dunia itu menghadirkan sejarah berlapis dari era Parameswara hingga kolonial Eropa, yang tersimpan rapi di museum, bangunan tua, dan kawasan ikoniknya. Melaka bukan sekadar destinasi wisata, melainkan pintu untuk mengenal jejak peradaban di Selat Melaka.
IDIL AQSA AKBARY, Melaka
Pontianak Post mendapatkan kesempatan berharga mengikuti famtrip ke Negeri Melaka yang digelar Konsulat Malaysia di Pontianak, pada 25–27 November 2025. Perjalanan ini bukan sekadar agenda kunjungan destinasi, melainkan gambaran bagaimana Melaka kini terasa semakin dekat bagi warga Kalimantan Barat (Kalbar), seiring kembali dibukanya penerbangan internasional melalui Bandara Supadio.
Rombongan berangkat dari Bandara Internasional Supadio, Kabupaten Kubu Raya, menggunakan penerbangan langsung AirAsia rute Pontianak–Kuala Lumpur, Senin (24/11) siang. Pesawat lepas landas sekitar pukul 12.00 WIB. Dengan durasi hanya satu jam 40 menit, akses menuju Malaysia kini jauh lebih efisien.
Rute langsung ini menjadi kabar baik bagi masyarakat Kalbar yang sering bepergian ke Malaysia, baik untuk wisata, belanja, berobat, maupun kegiatan resmi. Tidak perlu transit, tidak perlu menunggu lama. Cukup terbang dari Pontianak, mendarat di KLIA 2, dan perjalanan bisa langsung dilanjutkan ke mana saja.
Setiba di KLIA 2, rombongan melanjutkan perjalanan ke negara bagian Melaka menggunakan mobil. Bagi pelancong umum, tersedia bus langsung dari KLIA 2 menuju Melaka Sentral, dengan waktu tempuh sekitar 2,5–3 jam. Di sepanjang perjalanan, rombongan sempat mampir di beberapa food court yang sekaligus berfungsi sebagai rest area, semuanya bersih, tertata, dan sangat ramah wisatawan.
Malaysia memang terus memoles berbagai fasilitas menjelang Visit Malaysia 2026 -Truly Asia, sebuah program besar promosi pariwisata yang berlangsung tahun depan. Rombongan kami yang terdiri dari jurnalis dan konten kreator asal Kota Pontianak itu, tiba di Melaka malam hari. Agenda hari pertama ditutup dengan istirahat di Grand-Swiss-Belhotel Melaka tempat kami menginap.
Hari kedua, Selasa (25/11), petualangan mulai terasa. Tujuan pertama kami adalah kawasan merah atau Dutch Square, landmark paling ikonik Kota Melaka. Deretan bangunan bercat merah seperti Stadthuys dan Christ Church tampak berdiri kokoh dan megah. Bangunan di kawasan ini menjadi saksi pergantian kekuasaan kolonial dari Portugis, Belanda, hingga Inggris.
Bangunan di sana dulunya berwarna putih saat era penjajahan Belanda, namun diganti menjadi merah pada masa Inggris. Kawasan tersebut dulunya merupakan pusat pemerintahan kolonial dan kini terus dipertahankan menjadi pusat wisata sejarah.
Status Melaka sebagai Bandar Warisan Dunia atau World Heritage City yang ditetapkan UNESCO sejak 2008 ternyata bukan sekadar label, melainkan pengakuan atas sejarah panjang yang membentuk Melaka sebagai salah satu kota paling berpengaruh di kawasan Selat Melaka. Di kota ini terdapat 21 museum dan tujuh galeri. Pontianak Post cukup beruntung karena berkesempatan mengunjungi beberapa di antaranya.
Kunjungan pertama adalah Museum Sejarah dan Etnografi di kompleks Stadthuys. Di sinilah kisah Melaka ditata ulang secara lengkap. Melaka disebut sebagai “tempat semua bermula”, karena kota inilah yang melahirkan salah satu kerajaan maritim terbesar dalam sejarah Nusantara.
Menurut keterangan pihak museum, kerajaan Melaka didirikan pada tahun 1400 oleh Parameswara, yang merupakan putra bangsawan dari Palembang pada era kerajaan Sriwijaya. Nama “Melaka” berasal dari pohon Melaka yang tumbuh di tempat ia berhenti dan membangun pusat pemerintahan. Pohon Melaka itu masih dapat dijumpai hingga sekarang dan kami pun berkesempatan melihat pohon dengan ciri khas daun majemuk itu secara langsung.
Pada masa jayanya, Kota Melaka menjadi pelabuhan besar yang disinggahi pedagang dari berbagai benua di dunia. Letaknya yang strategis menjadikannya simpul perdagangan internasional, pusat pertukaran budaya, dan magnet bagi berbagai bangsa sebelum akhirnya direbut Portugis.
Dari museum utama, perjalanan kami berlanjut ke Galeri Warisan, kemudian ke Bukit St. Paul. Pengunjung cukup berjalan kaki untuk bisa menaiki bukit yang merupakan kawasan tertinggi di pusat kota Melaka itu. Rasa lelah menaiki puluhan anak tangga, seolah terbayarkan ketika sampai di atasnya.
Di bukit tersebut terdapat puing gereja tua St. Paul yang pernah menjadi lokasi peristirahatan jenazah Santo Fransiskus Xaverius sebelum dipindahkan ke Goa, India. Fransiskus Xaverius adalah padri pertama yang tiba di Melaka pada masa Portugis. “Padri Xavier ini adalah padri pertama yang sampai ke Melaka, pada zaman Portugis, tahun 1511,” ungkap Ahmad Sabri pemandu wisata yang menemani kami.
Tak jauh dari sana juga berdiri reruntuhan Benteng A Famosa. Struktur bangunan peninggalan Portugis yang tersisa hingga kini dan menjadi ikon penting di Melaka. Melaka tak hanya menyimpan sejarah agama Kristen. Di Museum Istana Kesultanan Melayu Melaka, kami juga sempat mempelajari kembali sejarah Islam. Terutama soal peran Kesultanan Melaka dalam jaringan perdagangan dan dakwah di kawasan nusantara.
Tokoh seperti Hang Tuah dan Hang Jebat menjadi bagian penting dari narasi tersebut. Keris Taming Sari milik Hang Tuah bahkan diabadikan menjadi inspirasi pembangunan Menara Taming Sari, ikon wisata modern di kota tersebut.
Sebelum menuju Menara Taming Sari, rombongan kami sempat singgah di Galeri 3D “Keajaiban Dunia” yang dikelola World Youth Foundation (WYF). Bangunan bersejarah yang kini diisi dengan ilusi optik itu ternyata digarap oleh pelukis Indonesia asal Banjarmasin. Galeri yang biasanya juga digunakan sebagai tempat kegiatan seni-budaya itu baru beroperasi sekitar satu tahun dan langsung menjadi salah satu destinasi unik yang wajib dikunjungi.
Perjalanan kemudian dilanjutkan ke Menara Taming Sari. Menara ini menawarkan pengalaman melihat keindahan Kota Melaka dari ketinggian melalui putaran 360 derajat. Tiket masuknya 26 ringgit untuk waktu siang dan 31 ringgit untuk malam hari. Pengunjung berada dalam kabin sekitar tujuh menit, waktu yang cukup lama untuk menikmati panorama kota warisan dunia itu dari udara.
Tak hanya itu, hari kedua kami di Melaka juga diisi dengan kunjungan ke Ghost Museum Melaka, Jonker Walk, Jalan Harmoni, Masjid Kampung Keling, dan tempat-tempat menarik lainnya. Ada pula Masjid Selat Melaka, yakni masjid ikonik yang berdiri di bibir laut, yang kerap juga disebut dengan Masjid Terapung.
Bukan hanya soal sejarah, Melaka juga punya kekayaan kuliner. Salah satu yang paling terkenal adalah Kuih Keria, kue tradisional gula melaka yang selalu menjadi buruan wisatawan. Selain itu, rombongan kami juga sempat menikmati makan malam di Kilang Makan Melaka, pusat kuliner dengan ragam hidangan laut yang lengkap.
Hari kedua menjelajahi Melaka kami akhiri dengan pengalaman mengikuti Melaka River Cruise dari Dermaga Taman Rempah. Kapal wisata itu membawa kami menyusuri sungai dengan lampu warna-warni yang menghiasi tepi kota. Suasana yang tenang, air sungai yang bersih, dan keindahan kota saat malam, menjadi penutup sempurna perjalanan panjang di hari itu.
Melaka tak sekadar destinasi wisata, tetapi ruang besar yang merekam perjalanan peradaban di kawasan Nusantara dan Selat Melaka. Bahkan, jauh sebelum kolonialisme memisahkan wilayah serumpun ini, yang akhirnya menjadi negara Indonesia, Malaysia, dan sekitarnya.(*)
Editor : Hanif