Di balik dunia properti yang telah digeluti selama 12 tahun, Caroline Tjen memendam kisah hidup yang tidak sederhana. Konsultan properti di Kota Pontianak ini baru saja melahirkan sebuah karya reflektif berjudul “Filosofi Rumah Tanpa Atap”, buku yang mengangkat pergulatan batin generasi sandwich.
SITI SULBIYAH, Pontianak
Generasi sandwich adalah istilah bagi mereka yang terhimpit antara tanggung jawab kepada orang tua dan masa depan anak-anaknya. Dalam buku ini, wanita berusia 30 tahun itu menulis tentang luka, beban, serta tentang keharusan bertahan di tengah keretakan hidup.
Buku ini telah ia siapkan selama hampir enam bulan sebelum akhirnya siap dinikmati publik. Inspirasi terbesarnya datang dari pengalaman pribadi serta kisah teman-temannya yang menghadapi kondisi serupa.
“Waktu itu saya sering turun langsung ke proyek. Saya melihat rumah yang atapnya bolong, belum selesai. Rumahnya ada, tapi tidak terlindungi,” tutur Caroline.
Tak lama setelah itu, seorang temannya, yang juga generasi sandwich, mencurahkan beban hidup yang begitu berat. temannya itu bahkan sempat terpikir untuk mengakhiri hidup. Dari peristiwa itulah benih buku ini tumbuh.
Buku yang diterbitkan oleh Penerbit Uwais ini terdiri dari tiga bab utama, yakni Broken Home, Merantau, dan Rumah Tanpa Atap. Tiga fase yang sekaligus merefleksikan perjalanan hidup Caroline sendiri beserta pengalaman-pengalaman menarik teman-temannya yang juga banyak dari kalangan generasi sandwich.
Caroline lahir dari ibu asal Manado dan ayah dari Bangka. Sejak kecil ia telah akrab dengan realitas keluarga yang retak atau broken home.
Perjalanan hidup Caroline sendiri sarat liku. Ia pernah mengalami masa sulit di Bangka, kampung halaman sang ayah. Kala itu, ayahnya sering keluar masuk rumah sakit hingga ekonomi keluarga terguncang.
Caroline hanya lulusan SMA, pernah merantau ke Jakarta dan Surabaya. Sempat menikah lalu bercerai. Ia pun menjadi tulang punggung keluarga ketika harus bekerja dan merantau.
Menjadi anak broken home dan merasakan pahitnya menjadi generasi sandwich, sebuah kondisi yang ia sebut sebagai rumah tanpa atap. Jika kehidupan diibaratkan sebagai rumah, maka rumah tanpa atap adalah ketidaksempurnaan hidup.
Namun bagi Caroline, ketidaksempurnaan bukan menjadi penghalang dirinya untuk menjalani kehidupan dengan rasa syukur, bahagia, dan penuh penerimaan.
Di sisi lain, ia mengadaptasi filosofi membangun rumah ke dalam pembangunan diri. “Rumah butuh fondasi, hidup juga. Rumah butuh struktur, hidup juga butuh struktur,” katanya.
Makna rumah tanpa atap pun menjadi simbol penerimaan akan ketidaksempurnaan. Menurutnya, banyak orang yang terjebak dalam upaya mengejar hidup yang sempurna. Padahal, takdir sering kali membawa seseorang pada kondisi yang jauh dari ideal.
“Kadang orang berpikir ingin hidup sempurna, padahal itu tidak selalu bisa. Tapi bagaimana kita menjadikan diri kita bernilai, justru dari kekurangan dan beban itulah motivasi untuk bangkit muncul,” ujarnya.
Ia bahkan menyebut generasi sandwich sebagai orang-orang terpilih. Bukan karena hidup mereka lebih mudah, melainkan karena mereka dianggap mampu memikul beban yang tidak semua orang sanggup menjalaninya.
Dalam buku ini Caroline juga memperkenalkan filosofi rooftop. Jika dahulu atap rumah selalu berbentuk kerucut maupun perisai, kini atap justru dimanfaatkan sebagai ruang terbuka yang disebut rooftop. Bagian rooftop kerap kali disulap menjadi tempat orang menikmati senja dan merasa bebas.
“Kalau atap kita sudah tidak ada, artinya hidup kita tidak sempurna. Tapi justru dari situ kita bisa menjadikannya sebuah rooftop, yang jadi area untuk bebas,” katanya.
Proses penulisan buku Filosofi Rumah Tanpa Atap memakan waktu sekitar empat bulan. Ia mulai menulis sejak Juli dan rampung pada Oktober. Setiap malam, pukul sembilan hingga menjelang tengah malam, ia menyicil tulisan di sela kesibukan dan perannya sebagai ibu.
“Menulisnya secara acak, revisinya yang lama,” kata wanita yang kini telah menikah lagi tersebut.
Buku ini menjadi karya keduanya, setelah sebelumnya menerbitkan buku berjudul “Wawa, Cara Mata Batin Melihat Dunia” pada 2024. Berbeda dari buku pertama yang bernuansa spiritual, karya terbarunya ini tampil lebih personal, dan dekat dengan realitas banyak keluarga Indonesia.
Ia pun berharap, buku Filosofi Rumah Tanpa Atap dapat menjadi teman bagi generasi sandwich melalui masa-masa sulit mereka. (*)
Editor : Hanif