PONTIANAK POST - Di balik tawa yang pecah di setiap panggung, Stand Up Comedy Pontianak terus menapaki perjalanannya sebagai komunitas kreatif yang bertumbuh secara konsisten. Menutup rangkaian kegiatan sepanjang 2025, komunitas ini menghadirkan sebuah pertunjukan bertajuk “Vini, Vidi, Punchy”, sebuah refleksi perjalanan sekaligus penanda semangat menyongsong tahun baru.
Tema tersebut terinspirasi dari frasa legendaris Vini, Vidi, Vici, kami datang, kami melihat, kami menang, yang kemudian diadaptasi ke dalam bahasa khas dunia stand up comedy. Bagi para komika, kemenangan bukan soal sorak sorai semata, melainkan keberhasilan mengantarkan tawa.
“Dalam stand up, ada istilah punchline. Jadi kami ubah maknanya menjadi ‘kami datang, kami dengar, kami lucu’,” ujar Anggota Komunitas Stand Up Comedy Pontianak, Ageng Wicaksono.
Menurut Ageng pertunjukan penutup ini bukan sekadar selebrasi akhir tahun, tetapi juga penegasan arah gerak komunitas. Memasuki 2026, Stand Up Comedy Pontianak menargetkan lebih banyak proyek kolaborasi, sekaligus membuka ruang agar komika nasional kembali meramaikan panggung di Kota Khatulistiwa.
“Resolusi 2026 kami ingin lebih banyak proyek bersama teman-teman stand up, serta mengundang, dan memancing gairah komik-komik nasional untuk datang ke Pontianak,” kata Ageng.
Dalam dua tahun terakhir, dikatakan Ageng, geliat stand up comedy di Pontianak menunjukkan tren yang kian positif. Sejumlah komika nasional tercatat pernah tampil, mulai dari Raditya Dika, Abdur, Ge Pamungkas, hingga Sadana Agung. Kehadiran mereka dinilai memberi dorongan tersendiri, baik bagi komunitas maupun penonton.
“Ini progres yang baik. Bahkan Januari 2026, Raditya Dika dijadwalkan datang lagi ke Pontianak. Kesuksesan acara sebelumnya diharapkan bisa menarik komika nasional lainnya,” ujarnya.
Namun, di balik panggung yang semakin ramai, pertumbuhan jumlah anggota komunitas berjalan pelan. Setiap tahun, Stand Up Comedy Pontianak hanya bertambah sekitar tiga hingga empat anggota baru. Kondisi ini berbeda dengan kota-kota besar seperti Jakarta atau Yogyakarta yang menjadi pusat pendidikan, dan perantauan. “Pontianak ya segitu-segitu saja anggotanya. Tapi jumlah tidak mempengaruhi kualitas atau kesuksesan komunitas,” kata Ageng.
Menurutnya, kekuatan stand up comedy justru terletak pada fleksibilitas materi. Komika lokal mampu menyesuaikan materi dengan konteks daerah, menghadirkan cerita yang dekat dengan keseharian masyarakat Pontianak.
Dalam praktiknya, komunitas ini rutin menggelar open mic, baik secara mandiri maupun atas undangan pihak lain. Respons penonton pun beragam. Pada acara internal, penonton datang dengan ekspektasi tertawa. Sementara pada acara undangan, stand up comedy kerap menjadi kejutan tersendiri.
“Kalau acara kita sendiri, penonton datang karena memang tahu ada stand up. Tapi kalau kita diundang, kadang penonton kaget karena tidak berekspektasi ada stand up comedy,” tuturnya.
Di dunia stand up, kesan pertama menjadi segalanya. Lelucon pembuka menentukan apakah penonton akan bertahan atau justru kehilangan minat. “Kalau jokes pertama tidak lucu, bisa langsung ditinggal. Itu risiko di dunia stand up, dan kami sudah terbiasa dengan itu,” pungkasnya.(bar)
Editor : Hanif