Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Di Kute Reje dan Umang, Aceh Tengah, Sejarah Dimulai dari Nol Lagi: Warga Sering Dengar Suara seperti Tanah Bergeser dan Batuan Jatuh

Hanif PP • Senin, 29 Desember 2025 | 11:02 WIB
TAK BERSISA: Warga berjalan di tengah puing-puing rumah mereka yang telah rusak akibat diterjang banjir bandang di Desa Kute Reje, Kecamatan Linge, Kabupaten Aceh Tengah.
TAK BERSISA: Warga berjalan di tengah puing-puing rumah mereka yang telah rusak akibat diterjang banjir bandang di Desa Kute Reje, Kecamatan Linge, Kabupaten Aceh Tengah.

Di Kute Reje dan Umang, semua bangunan dan kebun warga hancur diterjang banjir bandang akhir bulan lalu. Relokasi permanen menjadi satu-satunya jalan, dengan tetap mempertimbangkan keberlanjutan hidup masyarakat, pendidikan anak, hingga administrasi kependudukan.

FIRHAN FARABI, Takengon

SEBULAN setelah tsunami 2004, Nezar Patria mencari rumah masa kecilnya di Banda Aceh. Nezar, saat ini Wakil Menteri Kementerian Komunikasi dan Digital, mendapati rumah tersebut dalam kondisi tak berbentuk.

“Tak terbayangkan, rumah itu kini musnah! Sebulan lalu saya masih tertidur nyenyak di lotengnya. Kini tinggal selembar beton menuding ke langit. Gentengnya terbang entah ke mana,” demikian nukilan tulisan pria Aceh itu dalam “Sejarah Mati di Kampung Kami” yang dipublikasikan di Tempo, tempatnya bekerja ketika itu, dan kemudian dibukukan dalam kumpulan tulisannya pada 2023 yang berjudul sama.

Di Desa Kute Reje, Kecamatan Lingge, dan Desa Umang, Kecamatan Bebesen, keduanya di Aceh Tengah, sejarah sama matinya seperti yang disaksikan Nezar di Banda Aceh 20 tahun lalu itu. Rumah dan bangunan hancur dihantam banjir bandang sebulan lalu dan Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah sudah menyatakan bahwa kedua desa tersebut terlalu berbahaya untuk ditinggali kembali.

Pada 2006, tutur Kepala Desa Kute Reje Hamdan, atau setahun setelah dimekarkan dari Desa Delung Sekinel, banjir besar sempat melanda Kute Reje. Saat itu, air sungai meluap hingga masuk ke kawasan desa.

Meski tidak menelan korban jiwa, dua rumah warga mengalami kerusakan ringan. Kondisi berbeda terjadi pada akhir November 2025. Air deras menghanyutkan seluruh rumah dan kebun milik warga. Tidak ada satu pun bangunan yang tersisa.

“Semuanya hancur. Rumah, kebun, dan harta benda warga habis,” kata Hamdan saat ditemui Rakyat Aceh di lokasi pengungsian di Delung Sekinel, Aceh Tengah (24/12).

Tak Berani Kembali

Kondisi yang sama parahnya terjadi di Desa Umang. Kurniadi, salah seorang warga, mengatakan masyarakat sudah tidak berani kembali ke desa karena kondisi geografis yang semakin membahayakan. “Rumah-rumah warga sudah banyak retak, jalan menuju desa juga retak, bahkan gunung-gunung di sekitar desa mengalami retakan,” kata Kurniadi.

Akses utama menuju Umang kini banyak yang amblas dan tertimbun longsor. Desa tersebut juga dikelilingi kawasan hutan pinus milik PT Tusam Hutan Lestari.

“Semua harta benda kami masih tertinggal di desa, termasuk mobil dan motor. Tidak sempat dikeluarkan,” ujarnya.

Saat ini, warga masih tinggal di pondok-pondok kecil yang mereka sebut sebagai hunian sementara. Dibangun secara swadaya dari papan-papan pohon pinus yang tumbang.

Tak Aman untuk Dihuni

Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah memastikan akan melakukan relokasi terhadap sejumlah desa dan dusun yang terdampak bencana longsor dan dinilai tidak lagi aman untuk dihuni. Bupati Aceh Tengah, Haili Yoga, menegaskan bahwa kebijakan relokasi diambil demi keselamatan masyarakat di wilayah rawan bencana.

Desa dan dusun yang akan direlokasi adalah Desa Umang, Desa Kute Reje, dan Desa Reje Payung. Juga, satu dusun di Desa Jamat serta satu dusun di Desa Delung Sekinel. Kedua dusun tersebut masuk Kecamatan Atu Lintang di kabupaten yang beribu kota di Takengon tersebut.

Haili juga memastikan bahwa persoalan kawasan hutan untuk relokasi warga Umang telah diselesaikan. Pemerintah daerah telah berkoordinasi dengan PT Tusam Hutan Lestari.

“Tidak ada masalah lagi. Yang utama adalah keselamatan warga,” tegasnya.

Ia mengakui, relokasi bukan hanya soal memindahkan rumah, tetapi juga menyangkut keberlanjutan hidup masyarakat, pendidikan anak, hingga administrasi kependudukan. “Kita harus mencari solusi, bukan hanya menangani kerusakan, tapi juga masa depan anak-anak, sekolah mereka, dan penghidupan masyarakat,” katanya.

Trauma Tersisa

Relokasi permanen itu sejalan dengan keinginan warga. “Kami trauma. Kami tidak mau lagi kembali ke sana. Dari pengalaman ini, kami merasa relokasi adalah satu-satunya jalan,” ungkap Kepala Desa Kute Reje.

Relokasi dilakukan kembali ke wilayah Desa Delung Sekinel, namun dengan status administrasi tetap sebagai Desa Kute Reje. Tapi, sejarah seperti ditulis ulang dari nol lagi.

Hamdan juga menyampaikan bahwa lahan relokasi yang dibeli oleh Bupati Aceh Tengah menggunakan dana sumbangan kini telah resmi menjadi milik Desa Kute Reje. Atas langkah tersebut, warga menyampaikan apresiasi kepada pemerintah daerah.

Di Umang, warga juga masih sama traumanya. Mereka mengaku masih sering mendengar suara gemuruh seperti pergeseran tanah dan batuan jatuh, yang memicu ketakutan akan longsor susulan. “Kami tak mungkin lagi kembali ke desa lama kami,” kata Kurniadi.  (*/ttg)

Editor : Hanif
#Kute Reje #trauma #longsor #Banjir Bandang #banjir #relokasi permanen #aceh tengah