Peragaan busana Cerite Kote II di Dekranasda Kota Pontianak menjadi medium bercerita tentang identitas kota melalui karya kriya dan fesyen berbasis budaya lokal. Kegiatan ini sekaligus menunjukkan peran strategis perempuan dan UMKM dalam menggerakkan ekonomi kreatif Kalimantan Barat.
MIRZA AHMAD MUIN, Pontianak
SATU per satu model melangkah, mengenakan kisah yang dijahit dalam busana. Cerite Kote II, sebuah peragaan yang merangkum ikon-ikon Pontianak, seperti bangunan bersejarah, denyut sungai, motif corak insang dan kalengkang, hingga warna-warna keberagaman etnis hadir lewat lenggak-lenggok yang anggun. Sajian ini menjadi suguhan meriah bagi rombongan Dharma Wanita Kementerian Agama (Kemenag) Kalimantan Barat di Dekranasda Kota Pontianak, Rabu (14/1).
Setiap busana seolah berbicara. Ada Kapuas yang mengalir dalam motif, ada meriam dan enggang yang disiratkan melalui tekstur, serta tangan-tangan perajin yang sabar merangkai tenun. Di bangku penonton, rombongan Dharma Wanita Persatuan Kementerian Agama Provinsi Kalimantan Barat menyimak dengan senyum. Sebagian terkesima, sebagian lain bersorak kagum. Pontianak tengah bercerita tentang identitas, kerja kolektif, serta perempuan dan UMKM-nya yang terus bergerak.
Cerite Kote II menjadi penanda bahwa ekonomi kreatif dapat berjalan seiring dengan pelestarian budaya. Kota dapat dikenang melalui busana, dan kriya lokal tampil percaya diri di panggungnya sendiri. Semua ini tak lepas dari upaya Dekranasda Kota Pontianak dalam mengembangkan UMKM Center dan Galeri Dekranasda sebagai ruang pembinaan, kurasi, sekaligus pemasaran produk kriya dan UMKM Kota Pontianak.
“Ini cara kami bercerita tentang kota dengan bahasa fesyen,” kata Ketua Dekranasda Kota Pontianak, Yanieta Arbiastutie.
Yanieta menjelaskan, harga karya di Dekranasda tidak dinaikkan dan tetap sama dengan harga perajin. Sejak diresmikan, UMKM Center telah menjadi pusat kegiatan pelatihan dan pendampingan yang melibatkan berbagai perangkat daerah serta organisasi perempuan. Ia juga membuka peluang kolaborasi dengan Dharma Wanita Persatuan Kementerian Agama Provinsi Kalimantan Barat.
“Perempuan memiliki peran strategis. Melalui kolaborasi, kita bisa membina lebih banyak perempuan hebat, meningkatkan kompetensi, memperluas pasar, dan menggerakkan ekonomi,” ujarnya.
Ketua Dharma Wanita Persatuan Kantor Wilayah Kemenag Provinsi Kalimantan Barat, Salbia Muhajirin, menyampaikan apresiasi atas sambutan hangat Dekranasda Kota Pontianak. Kunjungan ini merupakan bagian dari rangkaian Hari Amal Bakti (HAB) ke-80 Kementerian Agama RI, sekaligus menjadi ajang pembelajaran ekonomi bagi anggota Dharma Wanita.
Ia menjelaskan, Dharma Wanita Persatuan memiliki program di bidang ekonomi keluarga. Karena itu, kunjungan ke UMKM Center dan Galeri Dekranasda menjadi kesempatan penting untuk melihat langsung potensi produk lokal Kalimantan Barat. Menurutnya, tidak semua anggota Dharma Wanita yang berasal dari Kalimantan Barat pernah mengunjungi UMKM Center, padahal di tempat tersebut tersimpan banyak produk unggulan daerah.
“Kami datang bukan hanya untuk bersilaturahmi, tetapi juga belajar. Ternyata di Kota Pontianak ini banyak sekali produk lokal yang berkualitas dan layak dibanggakan. Selama ini, kadang kita lebih tertarik pada produk luar, padahal produk daerah kita tidak kalah bagus,” ujarnya.
Ketua Dharma Wanita Kemenag Kalbar itu juga menceritakan pengalaman Kementerian Agama yang telah memiliki produk batik khas yang digunakan sebagai seragam ASN Kemenag. Selain itu, pihaknya kerap mengangkat kekayaan lokal Kalimantan Barat melalui peragaan busana dalam peringatan HAB di daerah, termasuk fashion show produk-produk khas kabupaten dan kota.
Sebagai orang yang berasal dari Gorontalo, ia mengaku terkesan dengan kekayaan ragam kriya dan fesyen Kalimantan Barat yang setiap daerahnya memiliki ciri khas masing-masing, seperti corak insang Pontianak, tenun dari Melawi dan Sintang, hingga berbagai produk unggulan dari Ketapang dan daerah lainnya. Kekayaan ini, menurutnya, menjadi kekuatan besar yang perlu terus dipromosikan, baik di dalam maupun luar daerah.
“Kalimantan Barat ini luar biasa. Setiap kabupaten dan kota memiliki identitas sendiri. Saya pribadi senang menggunakan dan memperkenalkan produk Kalimantan Barat, bahkan ketika pulang ke daerah asal saya,” ungkapnya.
Ke depan, Dharma Wanita Persatuan Kemenag Kalbar membuka peluang kolaborasi dengan Dekranasda Kota Pontianak, khususnya dalam pelaksanaan program ekonomi. Ia berharap Dekranasda dapat menjadi narasumber dan mitra pelatihan bagi anggota Dharma Wanita di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota.
“InsyaAllah, ke depan kami ingin mengundang Dekranasda Kota Pontianak untuk berbagi ilmu dan pengalaman, agar ibu-ibu Dharma Wanita semakin berdaya secara ekonomi dan semakin mencintai produk lokal,” pungkasnya. **
Editor : Hanif