Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Motor Tua, Sejuta Cerita dan Cinta

Mirza Ahmad Muin • Senin, 16 Februari 2026 | 13:36 WIB
Ari dan salah satu motor langka buatan Jerman miliknya.
Ari dan salah satu motor langka buatan Jerman miliknya.

Motor-motor lawas bukan sekadar alat transportasi. Keberadaannya menjadi saksi perjalanan hidup, pengingat masa muda, bahkan simbol identitas. Tak heran, para kolektor rela berburu hingga ke pelosok daerah, merogoh kocek dalam-dalam, dan menghabiskan waktu berbulan-bulan demi menghidupkan kembali mesin yang pernah dianggap usang.

-----

ARI termasuk salah satu pecinta motor antik. Di garasi rumahnya, ada beberapa motor langka miliknya. Sebut saja BMW R 25 dan Zundapp 50 cc. Usianya sangat tua, buatan Jerman lahir di tahun 1956. Ada juga Royal Enfield, jenis paling anyar dan biasa dibawa touring jauh.

Menurut Ari, perlu kesabaran jika ingin memelihara motor antik. Sebab, banyak banyak tantangan yang dihadapi. Mulai dari onderdil yang sulit didapat, hingga tidak begitu banyak mekanik mengerti dengan perbengkelan mesin motor antik.

Namun, hati Ari terasa sangat senang ketika motor antik ini bisa mengaspal di jalan. Apalagi ketika kerap ada yang menyapa saat berhenti di lampu merah.  

“Walau hanya hitungan detik, pertanyaan dari pengendara lain, seperti ‘Motor tahun berapa ini, Bang?’ atau ‘Motor antiknya bagus, masih bisa mengaspal,’ membuat saya sangat senang,” ujar Ari.

Ari menuturkan motor-motor antik miliknya juga membuatnya mengalami masa-masa sulit. Terutama ketika kendaraannya mogok di jalan karena mesin bermasalah. Untuk memperbaikinya memerlukan waktu tak sebentar.

“Sebab beberapa sparepart nya susah. Terlebih motor ini rerata buatan tahun 1940-an. Bahkan beberapa merek sudah tidak ada lagi menjual sparepart original,” ujar Ari.

Beruntung Ari memiliki grup pecinta motor antik. Dia banyak mendapatkan informasi dan pengetahuan baru tentang motor antik dari grup tersebut, sehingga sparepart yang tidak diproduksi lagi bisa dikloning dengan buatan sendiri dan menyerupai sparepart yang sama. Misalnya, motor Zundapp miliknya.

“Itu buatan Jerman. Sudah tidak lagi diproduksi massal. Kendaraan ini sempat populer di Indonesia, terutama di era 1950 hingga 1960. Motor ini juga memiliki pedal seperti pengayuh sepeda. CC nya kecil, 50 CC. Mesinnya 2 tak, untuk merawatnya perlu rasa sabar yang besar,” ungkapnya.

Kegiatan Positif Komunitas MACI

Bagi sebagian orang, merek kendaraan motor antik yang dikoleksi para pecintanya terlihat asing. Ada BMW, Harley Davidson, Zundapp, BSA, Norton, DKW hingga Triumph. Namun, bagi Perkumpulan Motor Antique Club Indonesia (MACI) ini merek tersebut sudah menjadi perbincangan sehari-hari. Kendaraan itu menjadi hobi yang harus dipertahankan dan beregenerasi hingga ke anak cucu.

Saat ini Ari juga merupakan Humas MACI se Indonesia. Ari menjelaskan di komunitasnya, tidak hanya sebatas membicarakan motor antik saja. Namun, banyak hal baik dan positif dilakukan oleh MACI. Dia bersama rekan-rekan memelihara dan berusaha menghidupkan motor hingga bisa mengaspal di jalan.

Ketika ada even, puluhan motor antik tidak hanya kopdar (kopi darat: bertemu,red), melainkan juga melakukan bakti sosial. Baru-baru ini mereka juga mendistribusikan bantuan untuk korban banjir bandang di Sumatera dan Aceh. Hasil bantuan itu didapat dari donasi teman-teman pecinta motor antik. “Kami juga biasa memberi bantuan ke panti asuhan,” katanya.

Di komunitas MACI juga banyak agenda, bahkan hingga tingkat nasional. Ada rakernas, musyawarah nasional, hingga jambore nasional. “Di kegiatan ini tuan rumahnya berganti-ganti tergantung provinsi mana yang siap,” jelas Ari.

Sosialisasi berkendara yang baik juga dilakukannya bersama teman-teman. Tertib lalu lintas menggunakan helm saat berkendara hingga penggunaan lampu sen ketika berbelok kiri dan kanan adalah upaya dia untuk mensosialisasikan cara berkendara yang baik dan benar.

“Kami coba beri pemahaman ke masyarakat cara berkendara. Tidak egois di jalan. Tidak juga merasa paling hebat bahwa motor kami lebih baik dari motor lain,” katanya.

Ari menambahkan saat ini perkembangan pecinta motor antik ini semakin banyak. Bahkan, sudah menular ke generasi Z. Namun, jenis kendaraannya berbeda.

“Kalau untuk komunitas kami, untuk bahan motor tua bisa mulai dari 35 hingga 100 juta. Tergantung merek. Kalau jenis Harley Davidson tahun 1942 tipe WLC sudah mau di angka Rp600 juta. Itu kendaraan dalam keadaan sehat, layak jalan dan memiliki surat lengkap,” pungkasnya. (iza)

Editor : Miftahul Khair
#Antik #Cerita #nostalgia #Motor Antique Club Indonesia #motor tua