Sugioto atau Rico, warga Jalan Purnama, Pontianak Selatan, menerima gelar Pehin Sri dari Kesultanan Sulu, Filipina, pada awal 2026. Gelar itu diberikan setelah pertemuannya dengan Sultan Sulu di Malaysia dan menjadi bentuk penghargaan atas aktivitasnya di bidang sosial dan kemasyarakatan.
RAMSES TOBING, Pontianak
PEHIN Sri, begitu sebutan gelar yang diterima Rico. Gelar yang diberikan langsung oleh Sultan Sulu, H.M. Mudarasulail A Kiram Al Muntasir Billah. Prosesi berlangsung dengan tata cara adat kebesaran Sulu dan disaksikan Permaisuri Sulu Dato’ Chong, Pangeran Laksamana Sulu, Maharajalayla Seri Laksamana Sulu, serta keluarga kerajaan. Penganugerahan tersebut juga tercatat secara resmi dalam registrasi kesultanan.
Pertemuan Rico dengan Sultan Sulu terjadi di Malaysia. Saat itu ia tengah mengikuti sejumlah kegiatan. Melalui relasi yang telah mengenalnya, ia diperkenalkan kepada Sultan. Dari pertemuan tersebut terjalin komunikasi yang berlanjut hingga akhirnya ia menerima gelar kehormatan tersebut.
“Menurut saya itu kehendak Tuhan. Kami kebetulan ada kegiatan di sana, lalu dikenalkan. Dari situ terjalin silaturahmi yang baik,” ujar Rico kepada Pontianak Post siang kemarin.
Rico menilai, di era digital saat ini, rekam jejak seseorang dapat dengan mudah ditelusuri. Ia menduga keputusan pemberian gelar tidak lepas dari penilaian atas kiprah dan kontribusinya di berbagai bidang, terutama sosial dan kemasyarakatan.
“Sekarang orang tinggal mencari tahu saja. Track record kita seperti apa bisa terlihat,” katanya.
Dalam struktur Kesultanan Sulu, Pehin Sri merupakan gelar dengan kedudukan tinggi. Rico memahami penghargaan itu bukan sekadar simbol, melainkan bentuk kepercayaan.
“Ini bukan soal kebanggaan pribadi. Ini kebanggaan bagi Kalimantan Barat dan Indonesia. Karena gelar ini tercatat resmi, bukan sekadar seremoni,” ujarnya.
Ia juga menegaskan belum pernah berkunjung ke Filipina. Seluruh proses pertemuan dan penganugerahan dilakukan di Malaysia. Bahkan, menurutnya, gelar tersebut tidak pernah masuk dalam rencana hidupnya.
“Saya tidak pernah bermimpi ke arah sana. Seperti sebelumnya saya juga mendapat gelar Dato’ Sri Yudha Pakunegara dari Kerajaan Paku Negara Tayan. Itu pun tidak pernah saya bayangkan,” tuturnya.
Bagi Rico, penghargaan tidak bisa diminta atau diatur. Ia menyebutnya sebagai bentuk pengakuan yang datang dari pihak lain. “Pengakuan itu datang dari orang lain. Kita tidak bisa memaksakan,” katanya.
Di luar gelar bangsawan yang diterimanya, Rico dikenal sebagai tokoh pemuda Tionghoa Kalimantan Barat sekaligus pengusaha. Ia lahir dan tumbuh di Sungai Ambangah, Kumpai Besar, dari keluarga sederhana, Kabupaten Kubu Raya. Masa kecilnya diwarnai keterbatasan ekonomi, yang kemudian membentuk sikap kerja keras dan keberanian mengambil peluang.
Ia pernah bekerja sebagai karyawan kecil sebelum mencoba usaha mainan. Perjalanannya kemudian berkembang ke berbagai jenis usaha. Jatuh bangun menjadi bagian dari proses yang ia jalani. Ia mengaku banyak belajar dari kegagalan, terutama tentang pentingnya menjaga kepercayaan dan hubungan baik.
Di luar dunia usaha, Rico aktif dalam berbagai organisasi. Ia menjabat Ketua Federasi Organisasi Barongsai Indonesia (FOBI) Kalimantan Barat, terlibat dalam kepengurusan KONI Kalbar dan KADIN, serta memimpin organisasi pemadam kebakaran swadaya, yakni Pemadam Kebakaran Merdeka dan Mitra Khatulistiwa.
Bagi Rico, aktivitas organisasi dan sosial merupakan bagian dari tanggung jawab pribadi. Ia menilai kesuksesan usaha tidak akan lengkap tanpa kontribusi bagi masyarakat.
“Bisnis yang baik adalah bisnis yang memberi nilai tambah bagi banyak orang,” ujarnya.
Selain itu, ia juga menekuni dunia literasi. Ia pernah menyerahkan buku 25 Profil Pribadi Emas Indonesia kepada Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Pontianak sebagai bentuk dukungan terhadap penguatan budaya baca. Dirinya juga telah menulis empat buku, salah satunya berjudul Kita Belum Dewasa.
Meski kerap disebut tokoh masyarakat, Rico menilai dirinya masih dalam proses belajar.
“Orang bilang saya tokoh masyarakat, tapi saya merasa belum sampai ke situ. Saya hanya berusaha berbuat yang terbaik untuk daerah ini dulu,” katanya.
Ia menekankan pentingnya berkontribusi mulai dari lingkungan terdekat sebelum berbicara lebih luas tentang bangsa dan negara. Gelar yang ia terima, menurutnya, adalah amanah untuk menjaga sikap, tutur kata, serta konsistensi dalam berkarya.
Rico berharap penganugerahan tersebut dapat menjadi motivasi bagi generasi muda di Kalimantan Barat agar terus berkarya dan membangun reputasi melalui kerja nyata.
“Kalau ini bisa menjadi contoh bahwa orang daerah juga bisa dihargai sampai tingkat internasional, itu sudah cukup,” ujarnya. (*)
Editor : Miftahul Khair