Di sejumlah kampung terpencil di Kabupaten Landak dan Bengkayang, keterbatasan akses terhadap guru agama membuat pembinaan keislaman tidak berjalan rutin. Dalam kondisi tersebut, kehadiran da’i yang dikirim khusus selama Ramadan menjadi harapan bagi para mualaf dan muslimin pedalaman.
ASHRI ISNAINI, Pontianak
Bagi komunitas mualaf di sejumlah kampung terpencil di Landak dan Bengkayang, kehadiran da’i selama Ramadan sering menjadi satu-satunya kesempatan mendapatkan bimbingan agama secara langsung. Program pengiriman da’i yang dijalankan Yayasan Amal Mualaf Peduli Kalimantan Barat menjadi penghubung bagi masyarakat untuk memperoleh pemahaman keislaman yang lebih utuh.
Ketua Mualaf Peduli Kalimantan Barat, Basani Situmeang, mengatakan pembinaan bagi para mualaf sudah lama menjadi perhatian lembaganya. Namun setiap Ramadan program tersebut dijalankan lebih intensif.
“Seperti tahun-tahun sebelumnya, kami menjalankan beberapa program Ramadan, di antaranya tadarus Al-Qur’an mualaf, santunan mualaf, serta kajian Islam. Program ini bertujuan memperkuat akidah, iman, dan pemahaman Islam para mualaf serta Muslim pedalaman,” ujar Basani kepada Pontianak Post, Rabu (11/3), di Pontianak.
Dari berbagai kegiatan tersebut, pengiriman da’i ke kampung-kampung mualaf menjadi program paling strategis. Program ini telah berjalan sejak 2020 dan rutin dilaksanakan setiap Ramadan. Para da’i mulai bertugas sejak hari kedua Ramadan hingga Hari Raya Idulfitri. Mereka tinggal bersama masyarakat dan terlibat langsung dalam kehidupan keagamaan di kampung.
Selain memimpin ibadah, para da’i menjadi imam salat lima waktu dan tarawih, mengajarkan bacaan Al-Qur’an kepada anak-anak maupun orang dewasa, serta menyampaikan kajian Islam sederhana. “Selama Ramadan mereka menjadi imam tarawih, mengajar ngaji, membimbing bacaan Al-Qur’an, hingga mengisi kajian Islam. Bahkan mereka juga menjadi khatib dan imam pada salat Idulfitri,” kata Basani.
Di beberapa kampung, kehadiran da’i menjadi satu-satunya sumber pembelajaran agama. Sebagian besar komunitas mualaf di pedalaman belum memiliki ustaz yang menetap sehingga pembinaan keislaman tidak berlangsung rutin.
Banyak warga masih belajar dasar-dasar Islam, mulai dari rukun iman, tata cara salat, hingga membaca Al-Qur’an. Karena itu, kehadiran guru agama yang membimbing secara langsung sangat berarti. “Tugas utama kami memperkuat fondasi akidah dan iman. Para mualaf masih sangat membutuhkan pendampingan agar keimanan mereka semakin kokoh,” ujarnya.
Pada Ramadan tahun ini, Yayasan Amal Mualaf Peduli Kalbar bekerja sama dengan Pondok Pesantren Darud Tauhid Enjelan di Pulau Jawa untuk menyiapkan para santri yang bertugas sebagai da’i. Para santri tersebut dikirim ke dua wilayah dengan komunitas mualaf cukup banyak, yakni Kabupaten Landak dan Bengkayang.
Basani mengatakan permintaan pengiriman da’i sebenarnya datang dari lebih banyak daerah di Kalimantan Barat. Namun keterbatasan biaya operasional membuat program tersebut belum dapat menjangkau semua wilayah. “Tahun ini kami baru bisa mengirim da’i ke dua kabupaten, Landak dan Bengkayang. Permintaan juga datang dari daerah lain, termasuk Sanggau, tetapi kami masih terbatas dari sisi operasional,” katanya.
Selain memiliki komunitas mualaf cukup banyak, sejumlah kampung di wilayah tersebut juga belum memiliki ustaz yang menetap. Jarak antarkampung yang jauh serta kondisi geografis pedalaman membuat akses terhadap guru ngaji sangat terbatas. Dalam situasi itu, Ramadan sering menjadi satu-satunya waktu pembinaan agama dilakukan lebih intensif dengan hadirnya da’i di tengah masyarakat.
Titin (35), seorang mualaf di salah satu kampung di Bengkayang, mengaku senang dengan kehadiran da’i di daerahnya. “Kami sangat senang ada ustaz yang datang mengajar. Kami bisa belajar membaca Al-Qur’an dan memahami ajaran Islam dengan lebih jelas,” ujarnya.
Ia berharap program tersebut terus dilaksanakan setiap tahun agar masyarakat di kampungnya dapat terus memperdalam pengetahuan agama. Selain pembinaan keagamaan, Yayasan Amal Mualaf Peduli Kalbar juga menyalurkan santunan kepada para mualaf yang membutuhkan sebagai bentuk kepedulian sosial sekaligus mempererat ukhuwah Islamiyah.
Basani menegaskan program pengiriman da’i bukan sekadar kegiatan rutin Ramadan, tetapi upaya menjaga agar cahaya iman tetap menyala di tengah keterbatasan. Ia berharap semakin banyak pihak mendukung pembinaan mualaf di pedalaman sehingga jangkauannya dapat diperluas ke lebih banyak wilayah di Kalimantan Barat. “Harapan kami program ini bisa menjangkau lebih banyak daerah, karena masih banyak komunitas mualaf di pedalaman yang membutuhkan pendampingan,” tutup Basani. (**)
Editor : Hanif